Tak Ada Pembeli Ikan Kerapu Hidup, Hanya 11 Kelompok Nelayan Keramba yang Bertahan

Tak Ada Pembeli Ikan Kerapu Hidup  Hanya 11 Kelompok Nelayan Keramba yang Bertahan Penyuluh Perikanan lapangan KKP sedang meninjau keramba jaring apung milik kelompok Usaha Bersama Desa Sikakap, Mentawai. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP—Tidak adanya pembeli ikan kerapu hidup budi daya membuat jumlah nelayan keramba jaring apung (KJA) di Kecamatan Sikakap Kepulauan Mentawai terus menurun. Dari 18 kelompok yang berjumlah 180 orang, kini tinggal 11 kelompok saja atau 110 orang.

"Sesuai data yang kita miliki dari 18 kelompok nelayan keramba jaring apung di Desa Sikakap, yang masih bertahan sekarang hanya 11 nelayan keramba jaring apung. Sementara 7 kelompok nelayan keramba jarang apung tidak aktif lagi," kata Zafni Sastria, Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jumat (11/1/2019).

Ia menyebutkan, jenis keramba yang dimiliki oleh nelayan keramba jaring apung itu berbahan HDPE (High Density Polyethylene) yang mudah dalam instalasi, ramah lingkungan, kuat dan tahan lama. Bantuan itu diberikan pada 2016 lalu. 

Namun sejak adanya Permen KP No. 32 Tahun 2016 Tentang Kapal Pengangkut Ikan Hidup yang membatasi masuknya kapal pembeli ikan kerapu hidup ke 200 lokasi budidaya ikan kerapu di Indonesia.

Peraturan itu membatasi jumlah titik muat hanya boleh 1 titik muat per trip. Kapal pembeli hanya boleh memuat di 4 titik muat per izin SIKPI. Akibatnya sudah dua tahun ini, tak pernah lagi kapal pembeli ikan kerapu hidup hasil budidaya datang ke Mentawai. Jika ingin menjual ikan kerapunya, nelayan KJA Sikakap harus menjualnya ke Teluk Guo, Pesisir Selatan.

 "Tidak ada pembeli ikan kerapu hidup ini salah satu penyebab malasnya para nelayan keramba jaring apung memelihara ikan kerapu hidup, sekarang ini ikan kerapu yang dipelihara oleh 11 kelompok keramba jaring apung itu adalah bibit bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sumatera Barat dan Kementerian Kelautan dan Perikanan,” jelas Zafni.

Keengganan nelayan memelihara kerapu cantang karena biaya pakannya yang tinggi. “Sebab ikan diberikan makan setiap hari dan baru satu tahun kemudian baru bisa panen dan dijual,” katanya.

Zaidir (64), nelayan kelompok KJA Sikakap mengatakan, kelompoknya mendapat bantuan keramba jaring apung HPDE sebanyak 8 lubang dengan ukuran panjang 3 meter dan lebar 3 meter dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2016 lalu, sekaligus juga mendapat bibit kerapu sebanyak 3.000 jenis cantang dan 1.500 jenis kerapu tikus. 

“Bibit kerapu tikus mati semua, yang tinggal sekarang jenis cantang sebanyak 500 ekor, berat ikan kerapu tersebut sekarang sudah ada sekitar 500 gram ke atas. Yang jadi masalah sekarang tidak ada pembeli ikan kerapu hidup, waktu ada pembeli ikan kerapu hidup dari Kapal asal Hongkong, ikan kerapu yang berat di atas 500 gram sampai 1 kg sudah bisa dijual dengan harga Rp90 ribu per kilogram,” kata Zaidir.

Ia biasa memberi makan kerapu tiap hari. Namun sejak tak ada pembeli, ia hanya memberi makan ikan dua kali seminggu, sekali memberikan pakan ikan 30 kg, harga pakan per kilo Rp5 ribu. Sekarang Zaidir banting stir menjadi pengumpul udang dan lobster sambil menyambi tukang pembuat perabotan. 

"Kami para nelayan keramba jaring apung Desa Sikakap. Kecamatan Sikakap. Kabupaten Kepulauan Mentawai sangat berharap sekali uluran tangan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan agar dapat mendatangkan para pembeli ikan kerapu hidup supaya para nelayan keramba jaring apung kembali semangat dalam memelihara ikan kerapu, dengan lancarnya pembeli ikan kerapu hidup tentu ekonomi nelayan tangkap dan nelayan keramba jaring apung akan membaik, sebab selama ini ikan kerapu jenis tiger dan lainnya itu dibeli kepada nelayan tangkap, sekarang ini nelayan tangkap terpaksa menjual ikan kerapu jenis tiger dalam keadaan mati dengan harga Rp35 ribu per kilogram," katanya.


BACA JUGA