Berada di Lokasi Rawan, Gedung SMAN1 Siberut Utara Harus Direlokasi

Berada di Lokasi Rawan Gedung SMAN1 Siberut Utara Harus Direlokasi Seorang siswa SMAN 1 Siberut Utara sedang belajar di kelas yang dindingnya retak akibat gempa lalu. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Pascagempa M 6,1 beberapa hari lalu, siswa SMAN 1 Siberut Utara di Desa Muara Sikabaluan tetap melaksanakan belajar di sekolah meski beberapa dinding gedung sekolah retak seperti dinding ruang labor komputer.

"Komputer tidak ada yang rusak karena kedudukan monitornya diperkuat dengan memasang lakban," kata Kepala SMAN 1 Siberut Utara, Paulus Sikaraja. "Namun dinding bangunan mengalami keretakan," tambahnya.

Setelah melihat labor komputer, kepala sekolah didampingi beberapa guru menunjukkan bangunan lainnya yang mengalami keretakan akibat guncangan gempa. Terdapat lima ruang belajar yang kerusakannya pada bagian dinding dan loteng. Selain ruang belajar dan labor komputer ruang, kantor kepala sekolah dan TU (Tata Usaha) ikut retak.

"Untuk ruang kepala sekolah ini usia bangunannya masih di bawah 5 tahun, sementara yang lain ada di bawah 10 tahun dan bangunan lama," katanya.

Asrama putri SMAN 1 Siberut Utara yang dihuni 23 orang siswa ikut terkena dampak guncangan gempa yang terjadi pada Minggu (11/9/2022) pada pukul 06:10:43 WIB yang berpusat 1.18 LS dan 98.53 BT kedalaman 10 KM pada 147 KM Kepulauan Mentawai.

Dikatakan Paulus, awal keretakan bangunan itu terjadi pada gempa 29 Agustus dengan Magnitude 6,4 . Namun keretakan bangunan pada saat itu belum begitu terlihat jelas. Kondisi kerusakan makin terlihat jelas dan kian mengancam siswa dan majelis guru saat kejadian gempa pada Minggu (11/9/2022).

"Kita tidak tahu lagi kalau terjadi guncangan berikutnya yang berkuatan M6 ke atas. Ada kemungkinan bangunan akan roboh," katanya.

Terkait kerusakan bangunan pihak sekolah sudah membuat laporan tertulis untuk disampaikan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat melalui cabang pendidikan SMA di Mentawai. Pihak sekolah berharap ada respon cepat untuk dilakukan perbaikan bangunan atau relokasi bangunan di lokasi lahan yang telah disediakan sebelumnya.

"Kita ingin ada pembangunan fasilitas baru di lahan relokasi yang sudah tersedia karena lokasi sekolah saat ini selain rawa juga sangat dekat dengan pantai. Hanya 20 meter dari garis pantai," katanya.

Lokasi untuk relokasi SMAN 1 Siberut Utara sudah dihibahkan lahannya oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Siberut Utara, Paulus Sikaraja saat sekolah masih dikelola Dinas Pendidikan Mentawai. Luas lahan yang dihibahkan seluas 2 hektar yang terletak di jalan Sikabaluan-Monganpoula dengan jarak sekira 7 KM dari pantai.

Terkait relokasi SMAN 1 Siberut Utara dan ketersediaan lahan sudah disampaikan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat dan Pemda Mentawai. Namun tidak ada respon hingga saat ini. Sementara dengan kondisi bangunan yang ada dan terletak didekat pantai sangat mengancam keselamatan 466 siswa SMAN 1 Siberut Utara yang terdiri dari 180 orang siswa kelas I, 144 orang siswa kelas II dan 142 orang siswa kelas III. Selain siswa, terdapat 46 orang guru dan karyawan SMAN 1 Siberut Utara.

Donni Oktavia, Pembina Sispala (Siswa Pencinta Alam) SMAN 1 Siberut Utara mengatakan pihak sekolah bersama siswa pernah melakukan perintisan jalur evakuasi dari SMA menuju tempat pengungsian Tamairang.

"Namun karena lokasi rawan dan berbentuk hutan perintisannya tidak selesai sampai Tamairang dan sekarang kondisinya sudah kembali tertutup", katanya.

Pj. Bupati Mentawai, Martinus D saat melakukan peninjauan masyarakat Desa Muara Sikabaluan yang mengungsi di Tamairang pasca kejadian gempa Minggu (11/9/2022) pada Mentawaikita.com mengatakan semua fasilitas umum dan pemerintah harus sudah direlokasi pembangunannya di lokasi yang jauh dari pantai.

"Harus kita mulai dan ini akan kita bahas bersama. Termasuk soal SMAN 1 Siberut Utara yang letaknya sangat dekat dengan pantai dan jauh dari lokasi pengungsian", katanya.

Bangunan pemerintah yang ada didekat pantai seperti kantor camat Siberut Utara, SDN 09 Muara Sikabaluan, MTsS Sikabaluan, SMAN 1 Siberut Utara, SD Fransiskus Sikabaluan dan SDN 08 Muara Sikabaluan.

"Harus kita relokasi cepat terutama bangunan yang lahannya sudah tersedia ditempat yang aman", katanya.

Khalid Saifullah, pengarah Forum Pengurangan Resiko Bencana Provinsi Sumatera Barat mengatakan dilihat dari letak posisi SMAN 1 Siberut Utara yang sangat dekat dengan pantai dan jauh dari tempat evakuasi sangat diharuskan untuk segera dilakukan relokasi pembangunannya.

"Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat harusnya sudah melihat syarat yang menjadi indikator dalam melakukan pembangunan yang aman dari ancaman gempa dan tsunami terutama sekolah yang dekat dengan pantai", katanya pada Mentawaikita.com, Selasa (13/9/2022).

Lebihlanjut dikatakannya, bila dalam melakukan pembangunan tidak memenuhi standar keselamatan akan acaman bencana seperti gempa dan tsunami, ibaratnya pemerintah dalam hal Dinas pendidikan Provinsi Sumatera Barat membiarkan 500 orang generasi Mentawai dan pendidikan dalam ancaman bahaya.

"Jadi harus direlokasi apalagi dekat pantai, jalur evakuasi sangat jauh, bangunan sudah mengalami keretakan dan lahan untuk relokasi pembangunan sudah ada. Jadi tidak abai dalam menghadapi bencana", katanya. 

BACA JUGA