Malaria Menjangkiti Warga Simatalu, Stok Obat Kosong

Malaria Menjangkiti Warga Simatalu Stok Obat Kosong Puskesmas Simatalu. (Foto: Patrisius Sanene/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Kasus malaria yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles kembali terjadi di Mentawai setelah sekian tahun tidak ditemukan. Kasus kali ini muncul di Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat. Namun sulit tertangani karena stok obat malaria kosong.

"Kasus malaria kembali muncul di wilayah Simatalu. Obat kosong di kabupaten. Kita koordinasi ke Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, obatnya kosong juga karena kasus ini sudah lama tidak ada," kata Desti Seminora, Kepala Dinas Kesehatan Mentawai dalam acara kunjungan Pj. Bupati Mentawai di Sikabaluan, Kamis (2/6/2022).

Lebihlanjut dikatakan Kepala Dinas Kesehatan, sudah ada tim Dinkes yang turun untuk melihat ke lokasi sambil membawa persediaan obat seadanya.

"Kita ambil obat yang ada di Puskesmas Sioban dan Mapaddegat. Termasuk kelambu malaria," katanya.

Kepala Desa Simatalu, Stefanus Siribere mengatakan kasus malaria sudah merata muncul di wilayah Desa Simatalu.

"Kasusnya sudah lama. Persoalannya karena obat yang minim di puskesmas dan polindes," katanya pada Mentawaikita.com, Jumat (3/6/2022).

Lebihlanjut diharapkan Kepala Desa Simatalu, perlu ada penanganan serius dan persediaan obat yang cukup di Puskesmas Simatalu dan Puskesmas Betaet karena wilayah Simatalu bagian pantai berada di bawah naungan Puskesmas Betaet.

"Harapan kita ini cepat tertangani karena kita sudah kewalahan dan masyarakat mulai pasrah karena obat yang tidak ada," katanya.

Salah seorang tenaga kesehatan yang bertugas di Polindes Limu Desa Simatalu, Damelita Sirirui mengatakan bahwa kasus pertama munculnya malaria di Dusun Limu pada Januari 2022 dengan jumlah data yang ditangani berdasarkan data pengobatan sebanyak 40 kasus.

"Data ini sudah kita laporkan ke puskesmas dan dinas Kesehatan," katanya.

Saat kasus pertama muncul, persediaan obat malaria tidak ada. Maka dimanfaatkan obat yang tersedia di polindes seperti obat demam (paracetamol), sakit kepala (ibupropen).

"Kalau pasiennya sampai mual-muntah maka dikasih antasida, omaprazole. Bila sampai menggigil, kejang dipasang infus RL ditambah drip B12," jelasnya.

Saat munculnya kasus pertama, masyarakat yang datang berobat tiga hingga 10 orang dalam sehari. Karena persediaan obat kosong atau terbatas penggunaan obat kadang tidak sama karena melihat kasus yang ditangani. Oleh pasien atau keluarga memberikan protes karena mereka menilai petugas menyembunyikan obat.

"Kita sampai menangis karena berdebat soal ini. Di satu sisi pasien dan keluarga benar karena menginginkan obat yang sama dengan pasien yang sudah sembuh tapi di sisi lain obatnya kosong atau kasusnya masih berbeda," katanya.

Pernah suatu kali pasien yang datang berobat hampir meninggal karena dipasangkan infus tidak mau dan minta dibuka, dirujuk ke puskesmas tidak mau.

"Katanya ada juga sikerei. Tapi dengan memberikan obat yang ada dengan kontrol rutin akhirnya pasien dapat terselamatkan," katanya.

Untuk persediaan obat malaria setelah munculnya kasus pertama sudah disampaikan ke dinas hingga provinsi. Dari sekian banyak obat yang diminta namun yang terealisasi hanya 15 kotak dimana dalam satu kotak terdiri dari 9 biji obat. Sementara dalam penanganan positif malaria untuk orang dewasa minum obat malaria 3 biji dalam sehari.

"Artinya sehari itu persediaan obat habis untuk sekali minum bila kasusnya mencapai 10 kasus," katanya.

Untuk kasus malaria di Limu, berdasarkan pengamatannya bermula dari aktifitas masyarakat diladang. Seperti mencari tempurung kelapa yang sudah lama tertimbun tanah atau tergenang air dimana tiba-tiba dibongkar karena tempurung kelapa sudah laku dibeli.

"Kalau untuk pemukiman masyarakat untuk Dusun Limu sudah bersih," katanya.

Marinus Bakkat Kunen, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional di Dinkes Mentawai yang ikut turun ke Betaet dalam rangka persiapan akreditasi Puskesmas Betaet dan memantau kasus malaria mengatakan saat ini di Puskesmas Betaet sedang dirawat inap pasien positif malaria.

"Ada kasusnya. Nanti tim Dinas Kesehatan bersama pihak puskesmas akan mengadakan rapat bersama soal persiapan akreditasi hingga kasus malaria ini," katanya.

Untuk di Puskesmas Simatalu sendiri, kata Marinus akan turun langsung berkoordinasi dengan petugas sekaligus mengantarkan nakes penempatan baru diantaranya dari Nusantara Sehat, dua orang dokter, satu orang bidan, satu orang tenaga gizi dan satu orang tenaga kesehatan masyarakat.

BACA JUGA