Bangun Destinasi Miliaran, Tapi Tak Bisa Tarik Retribusi

Bangun Destinasi Miliaran Tapi Tak Bisa Tarik Retribusi Kawasan wisata Mapaddegat. (Foto: Patris/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT-Destinasi wisata yang dibangun Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai dinilai belum dapat mendongkrak sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari kawasan wisata yang sudah dibangun seperti kawasan wisata Mapaddegat, Desa Tuapeijat, Sipora Utara dan kawasan wisata Kulukubuk, Desa Madobag Siberut Selatan.

Destinasi wisata yang telah dibangun Disparpora Mentawai di kawasan 3M 1K (Mapaddegat, Muntei, Madobag, Katiet) sudah menghabiskan anggaran miliaran rupiah namun PAD masih nihil bahkan belum berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat di kawasan destinasi wisata tersebut.

Kawasan 3M 1K (Mapaddegat, Muntei, Madobag, Katiet) merupakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Mentawai dan masuk dalam program Mentawai Emas Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Data yang diperoleh Mentawaikita dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai, anggaran yang dikucurkan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK untuk pembangunan dan pengembangan destinasi wisata Mapaddegat dan Madobag sudah capai Rp12,5 miliar.

Pembangunan destinasi wisata di Mentawai awalnya pada 2017, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai memulai untuk membangun panggung kesenian, kios cinderamata, toilet, ruang bilas dan gazebo. Dana yang digunakan berasal dari DAK senilai Rp1,9 miliar.

Melihat potret kawasan wisata Mapaddegat, terdapat beberapa bangunan dan fasilitas di sekitarnya sudah tidak terurus dan sudah banyak bagian bangunan yang rusak dan lapuk karena tak terawat. 

Sebelumnya memang pada kawasan ini Pemda Mentawai pernah memanfaatkan fasilitas yang ada di kawasan ini sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 dan kini sudah tampak tak terawat.

Kemudian pada 2018 dilaksanakan pembangunan Tourist Information Center (TIC), pedestrian, cafeteria, gapura identitas di Simpang Mapaddegat, dan rambu petunjuk arah dengan total nilai anggaran senilai Rp3,7 miliar. Pada 2020 masih di kawasan yang sama dibangun jalan pedestrian, talud, penataan taman atau lanskap dan gazebo, total anggaran yang dihabiskan senilai Rp2,6 miliar.

Sementara untuk pembangunan kawasan wisata alam Kulukubuk, Desa Madobag dilaksanakan  pada 2019 dimana anggarannya masih bersumber dari DAK atau bantuan dana dari pemerintah pusat.

Pembangunan fasilitas pada kawasan wisata Kulukubuk telah menghabiskan anggaran senilai Rp4,1 miliar, fasilitas yang dibangun dari anggaran tersebut seperti loket karcis, jalan setapak atau pedestrian (boardwalk, panggung kesenian, cafeteria, toilet, gazebo dan ruang bilas.

Potret kawasan wisata Kulukubuk yang dubangun juga tak terawat dan sudah banyak fasilitas yang rusak dan jalan pendestrian (broadwalk) yang berlobang dan susah dilewati.

Kondisi ini juga yang membuat Sekda Kabupaten Kepulauan Mentawai, Martinus Dahlan berang kepada Kepala Disparpora Mentawai pada Senin, (28/3/2022) pada Musrenbang RKPD 2023 di Aula Bappeda yang memintanya untuk lebih serius membenahi destinasi wisata Mentawai.

Sekda melihat bahwa, Mentawai saat ini sudah menjadi perhatian banyak orang, dan berharap kesempatan tersebut yang dapat ditangkap oleh semua pihak terutama Dinas Pariwisata Mentawai untuk membenahi destinasi yang sudah ada.

Dimana hal itu terlihat oleh Sekda pada Maret 2022 ini sudah mulai banyak yang berdatangan ke Mentawai yang terlihat pada manifes penumpang kapal cepat yang ke Mentawai.

“Artinya ini perlu kita benahi khusus pariwisata destinasi yang bapak sampaikan, jangan kita hanya buat saja, dibuat di Siberut tetapi tidak ada orang ke sana, tidak ada dampaknya,” ujar Sekda.

Pihaknya juga meminta OPD yang terkait dapat mengambil bagian misalnya pada pembangunan akses jalan, pertanian, perikanan dapat hadir di kawasan wisata. 

“Kalau tidak, ya seperti itu saja, datang orang kemudian pergi, dampaknya ke masyarakat tidak ada, tadi ada hilir hulu  tapi dampaknya bagaimana, ini perlu kita coba bersama-sama dengan OPD lain termasuk jalan,” ujar Martinus.

Perda No. 8 Tahun 2015 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga yang telah lama ketok palu pada November 2015 di DPRD Mentawai, namun pemungutan retribusi di kawasan wisata pantai atau alam seperti kawasan wisata Mapaddegat, air terjun Kulukubuk belum dapat dilakukan karena belum ada Perbup yang secara spesifik mengatur.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai, Jhoni Anwar mengakui bahwa penarikan retribusi belum dapat dilakukan di kawasan wisata seperti Mapaddegat dan Kulukubuk karena belum ada regulasi atas Perda No. 8 Tahun 2015 tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga berupa peraturan bupati (Perbub) alasannya karena Covid-19. 

“Pembangunannya tahun 2019, terus setelah itu masuk pandemi covid di awal tahun 2020, pada tahun 2021 rencana kami mau siapkan perbub dan regulasi lainnya tapi covid masih berlanjut,” ujarnya.


BACA JUGA