Berjalan 10 Jam Demi Mendapat Informasi

Berjalan 10 Jam Demi Mendapat Informasi Wakil Bupati Mentawai, Kortanius Sabeleake batik) disambut warga saat mendampingi kunjungan Uskup Keuskupan Padang di Lubaga, Siberut Utara. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIMATALU-Berjalan kaki selama 10 jam ke Dusun Bojakan demi bisa mengakses jaringan internet untuk keperluan pendataan siswa, biasa dilakukan Rinus Parumba, guru SDN 23 Simatalu yang berada di Dusun Lubaga Desa Bojakan, Siberut Utara, Mentawai. 

Lubaga berada di pedalaman Siberut Utara dengan fasilitas dan akses komunikasi yang sangat minim. Belum ada jaringan Telkomsel, begitu juga jaringan internet nirkabel bantuan pemerintah. SDN 23 Simatalu meskipun secara administratif berada di Kecamatan Siberut Utara namun masuk dalam Korwil Disdik Siberut Barat.

"Kalau mau mendapatkan informasi kami harus ke Dusun Bojakan sebagai pusat desa karena di sana sudah ada jaringan Telkomsel mini. Atau kami ke Simalibbeg Desa Simatalu Kecamatan Siberut Barat," kata Rinus pada Mentawaikita.com, Kamis (25/11/2021).

Untuk ke Bojakan, Rinus harus berjalan kaki melewati hutan yang berbukit dan sungai. Bila pilihannya ke Simalibbeg maka harus naik pompong selama 3 jam.

"Ini yang menjadi kendala kita karena untuk ke Bojakan menyulitkan kita untuk menempuh perjalanan yang jauh did alam hutan. Kalau ke Simalibbeg kita harus punya persediaan bensin dan operator pompon," katanya.

Misalnya, untuk memperoleh informasi pelaksanaan ANBK tingkat SD pada 22 November 2021, Rinus harus ke Bojakan hingga Sikabaluan untuk mendapat informasi yang pasti terkait pelaksanaan kegiatan.

Selain untuk mendapat informasi pelaksanaan kegiatan Rinus juga harus mencari tempat sekolahnya menumpang untuk mengikuti  ANBK di SMPN 1 Siberut Utara atau di SMAN 1 Siberut Utara.

Kendala ini disampaikan Rinus Parumba kepada Wakil Bupati Mentawai, Kortanius Sabeleake saat berkunjung ke Lubaga dalam rangka mendampingi Uskup Keuskupan Padang mengunjungi umat Katolik dan pemberkatan gereja.

Kortanius Sabeleake mengatakan Pemda Mentawai memiliki target untuk menghubungkan semua dusun dan desa dalam jangkauan jaringan telekomunikasi khususnya dari program BAKTI. Hanya saja dari pengalaman yang terjadi dengan masuknya jaringan telekomunikasi yang mendukung internet karena sudah memakai jaringan 4G membuat perubahan perilaku di masyarakat.

"Misalnya kasus pencurian meningkat. Penyebab meningkatnya karena orang membutuhkan uang beli pulsa atau paket internet," katanya.

Selain itu, untuk pelajar karena lebih paham memakai telepon genggam mulai mengakses informasi atau video yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran dan ini memberikan dampak perubahan moral.

"Masyarakat harus mengikuti kemajuan teknologi namun masyarakat juga harus siap. Jangan sampai karena kita melihat kemudahannya saja namun kita juga harus melihat dampak dan kesiapan masyarakat," kata Kortanius.

BACA JUGA