Budaya Mentawai Harta Karun yang Tak Disentuh Penjajah

Budaya Mentawai Harta Karun yang Tak Disentuh Penjajah Mukhlis Paeni, sejarawan dari Universitas Hasanuddin juga sebagai Pembina Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) menjadi keynote speaker pada acara FTL dan Konferensi Internasional Tradisi Lisan Budaya Mentawai di Tuapeijat. (Foto: Patrisius/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT- Sejarahwan dari  Universitas Hasanuddin, Mukhlis Paeni mengatakan selama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) berkuasa di Indonesia dalam arsip VOC tidak ditemukan nama Kepulauan Mentawai. Hal itu dikatakannya saat  Festival Turuk Laggai dan Konferensi Internasional Tradisi Lisan Mentawai, 23 November 2021.

Diceritakannya bahwa berdasarkan sejarah, VOC tidak memperhatikan Mentawai, alasan yang dapat dia jelaskan karena potensi hasil bumi yang tidak ditemukan di Kepulauan Mentawai pada waktu itu yaitu rempah-rempah.

“VOC tidak memberikan perhatian kepada kata Kepulauan Mentawai, tetapi VOC menyebut kepulauan yang ada di pantai barat itu satu per satu nama pulaunya, karena VOC berhubungan dengan potensi hasil setiap pulau, abad ke 16-17 itu hubungannya dengan rempah mungkin sekali, VOC tidak menemukan rempah di Mentawai,” ujar Pembina Asosiasi Tradisi Lisan.

Namun menurut dia dengan tak disentuhnya Mentawai oleh VOC karena Mentawai ternyata menyimpan budaya yang tidak dimanfaatkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Belanda memperhatikan dagang rempah, tetapi ada satu yang tidak ditemukan oleh VOC dan Belanda yaitu budaya dan tidak dimanfaatkan oleh Pemerintah Belanda.

“Nah budaya itulah yang diolah sekarang, ini belum tersentuh, budaya Mentawai ini luar biasa kayanya, kalau ya tidak diolah justru dia akan hilang, harus terus menerus dikelola, saat inilah Pak Bupati mari kita mengelola budaya sebagai satu harta karun yang luar biasa, kalau ini tidak diolah sekarang dia akan mati,” ujar Muklis Paeni pada pemaparan yang juga dihadiri Bupati Mentawai, YUdas Sabaggalet di Bujay Hotel, Tuapeijat.

Budaya Mentawai yang luar biasa menurut Muklis tidak boleh dilupakan. “Kalau satu generasi melupakan budaya yang dia miliki maka generasi itu akan menjadi generasi mati suri, beruntung sekali VOC, Pemerintah Hindia Belanda tidak menggarap itu dan sial kalau tidak digarap sekarang,” kata Muklis.

Dia menjelaskan ibarat kalau deposit tambang diolah terus menerus, cepat atau lambat akan dihilang tak tergantikan lagi. “Tetapi ini saya peringati bahwa deposit budaya dan deposit tambang itu berbeda karakternya, jadi deposit budaya perlu dikembangkan dan ini masanya,” kata Muklis.

VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) berkuasa di Indonesia selama 197 tahun, mengobrak abrik nusantara ini didirikan pada 1602 dan bubar 1709 karena korupsi. “Jadi perusahaan besar itu bubar karena korupsi jadi (korupsi) sudah ada sejak duhulu tetapi saya tidak ingin katakan bahwa korupsi itu merupakan warisan dari VOC,” kata Muklis disambut tawa oleh peserta FTL.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa, dari arsip VOC tidak satu pun kata Kepulauan Mentawai ditemukan di dalamnya. “Tetapi saya tidak ingin katakan bahwa orang sekarang tidak perhatikan Mentawai itu juga warisan dari VOC,” ujar Muklis.

Akan tetapi dalam arsip VOC ditemukan sebutan pantai barat gugusan pulau, tetapi kata kepulauan Mentawai tidak ada, nama Kepulauan Mentawai baru ada setelah tahun 1800, ini realitas dalam dokumen, ketika Pemerintah Belanda mengambil seluruh aset VOC itu dan melakukan struktur wilayah kekuasaan.

Ini artinya adanya struktur wilayah kekuasaan, kata kepulauan Mentawai ada dalam peta wilayah kekuasaan sumatera barat, dan kata kepulauan Mentawai ada di bawah struktur afdeling padang, terbagai Afdeling Padang dan Kepulauan Mentawai, katanya.

“Nah Mentawai menjadi sangat penting karena selalu dihubungkan dengan daratan Sumbar, artinya kepulauan Mentawai baru berarti kalau dihubungkan dengan Sumbar itu sudah terjadi sejak dahulu kalau. “Kalau itu masih diwarisi sekarang saya juga tidak mengatakan bahwa barang kali warisan pemerintah kolonial,” ujar Mukhlis yang kembali disambut tawa peserta.

Pada 1800 menurut sejarah, ketika pemetaan wilayah kekuasaan, Mentawai ini statusnya distrik, kemudian ketika beralih pada masa Jepang statusnya distrik, ketika pemerintah Indonesia statusnya kecamatan menjadi kabupaten pada 1999, yang ditanda tangani BJ. Habibie, “Bayangkan dari tahun 1945 sampai 1999 berapa tahun lamanya Mentawai menderita baru kemudian menjadi kabupaten,” ucap Muklis.

BACA JUGA