Menunggu Realisasi Pembangunan Jalan Trans Mentawai Pantai Barat Siberut

Menunggu Realisasi Pembangunan Jalan Trans Mentawai Pantai Barat Siberut Warga Betaet Desa Simalegi menggunakan jalur pantai untuk membawa hasil ladang dijual kepada penampung. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIMATALU-Desa Simalegi dan Simatalu Kecamatan Siberut Barat merupakan dua desa yang memiliki potensi ekonomi yang besar dari sumber daya alam yang melimpah. Seperti kelapa atau kopra, rotan, pinang, pisang. Namun karena akses darat yang belum ada membuat sumber daya alam belum mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

"Meskipun dibeli harga beli pengumpul masih sangat rendah karena perhitungan biaya yang mereka keluarkan dan resiko yang dihadapi saat membawa hasil bumi masyarakat lewat laut,” kata Stefanus Siribere, Kepala Desa Simatalu.

Oleh pengumpul untuk membawa kelapa atau kopra, rotan, pinang menggunakan kapal dagang dengan berlabuh ditengah laut dengan resiko kondisi gelombang dan ancaman laut Samudera Hindia. Untuk membawa hasil bumi dari darat ke kapal menggunakan boat dengan melewati pintu Muara Simatalu yang terkenal dengan kondisi ombaknya yang sulit.

"Nilai jual masyarakat akan tinggi ketika ada jalan yang layak untuk mereka membawa sendiri hasil pertaniannya ke tempat penampungan yang memiliki daya beli lebih baik,” katanya.

Hal yang sama dikatakan Kepala Desa Simalegi, Jaret. Potensi kebun dan ladang masyarakat yang ada di wilayah desanya sangat menjanjikan untuk mendongkrak dan maneikkan ekonomi masyarakat. Hanya karena tidak ada jalan darat yang mendukung nilai jual hasil masyarakat.

"Berbicara ekonomi tidak lepas dengan adanya akses darat yang memiliki kemudahan, biaya operasional yang kecil serta resiko yang kecil,” katanya.

Wakil bupati Mentawai, Kortanius Sabeleake saat melakukan kunjungan ke Simatalu dan Simalegi dalam mendampingi uskup mengatakan terkait perencanaan pembangunan jalan untuk membuka akses darat di wilayah Kecamatan Siberut Barat dan Siberut Barat Daya tinggal menunggu anggaran dari pusat. "Perencanaannya sudah selesai. Kita tinggal menunggu anggarannya dari pusat. Kalau itu sudah ada kita sudah jalan,” katanya pada Mentawaikita.com pertengahan November.

Lebih Lanjut dikatakan Kortanius, rencana pembukaan dan pembangunan jalan di wilayah Kecamatan Siberut Barat dan Siberut Barat Daya dimulai dari Tiniti Desa Sigapokna Kecamatan Siberut Barat menuju Simalegi Desa Simalegi lalu ke Simatalu Desa Simatalu hingga ke Sagulubbek dan Taileleu Kecamatan Siberut Barat Daya.

"Amdalnya sudah selesai. Kita berharap dari perencanaan yang ada tidak ada kendala sehingga target kita untuk menghubungkan Pulau Siberut dapat terealisasi sesuai dengan rencana yang ada,” katanya.

Berdasarkan dokumen Amdal pembangunan jalan Sigapokna-Simalegi-Simatalu-Sagulubbek-Taileleu panjang jalan yang akan dibuka dan dibangun 151,4 KM dengan rencana waktu yang sudah dimulai 2021 hingga 2028. Dari 151,4 KM panjang jalan yang akan dibuka dan dibangun terdapat 108,41 KM kawasan TNS (Taman Nasional Siberut), 39,7 kawasan HPT (Hutan Produksi Tetap) dan 3, 29 KM merupakan APL (Areal Penggunaan Lain).

"Untuk dengan TNS sudah selesai. Jadi soal izin tidak ada masalah tinggal menunggu anggaran dan kita siap jalan,” kata wakil bupati Mentawai.

Dari rencana tata waktu pelaksanaan kegiatan untuk pematokan dan pembebasan lahan dimulai 2021, penerimaan tenaga kerja dan mobilisasi alat dan material dilaksanakan 2022. Sedangkan pembersihan lahan, pembukaan badan jalan, drainase, jembatan dimulai 2022 hingga 2024. Antara 2025-2028 sudah pengoperasian jalan dan pemeliharaan.

Dikatakan Kortanius, karena medan lokasi yang dibuka dan dibangun ada pada medan yang berat maka akan banyak menggunakan alat berat dan peralatan yang baru mengingat peralatan dan alat berat yang dimiliki pemda Mentawai banyak yang rusak dan membutuhkan biaya pemeliharaan yang besar. "Lebih baik kita membeli alat yang baru daripada memperbaiki alat yang lama namun biaya besar,” katanya.

Untuk pelaksanaan kegiatan dilapangan nantinya, dikatakan Kortanius lebih dominan dalam bentuk swakelolah melihat dari pengalaman pembukaan dan pelaksanaan pembangunan jalan selama ini di Mentawai.

"Dengan swakelola dan alat yang baru kita bisa menghubungkan juga dusun yang dilewati jalan trans sehingga bukan semata fokus untuk membangun trans Mentawainya saja tapi juga menghubungkan jalan dusun menuju jalan trans yang dibangun,” katanya.

Salah satu target utama dalam pembangunan jalan trans Pulau Siberut terutama di kawasan pantai barat Pulau Siberut mulai dari Sigapokna-Simalegi-Simatalu Kecamatan Siberut Barat hingga ke Sagulubbek-Taileleu Kecamatan Siberut Barat Daya guna menghubungkan titik pertumbuhan ekonomi pada sektor pertanian, perkebunan seperti kelapa, kopra, pisang, kayu manis, pinang, keladi, coklat serta potensi pariwisata yang ada di Siberut Barat dan Siberut Barat Daya.

Tantangan lainnya yang mesti dipersiapkan oleh pemerintah kepada masyarakat yaitu mempersiapkan masyarakat dalam menghadapi pembangunan yang masuk seperti memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk mendukung pembangunan bila melewati lahan dan tanaman.

"Serta menyiapkan masyarakat untuk tetap menjadi pemilik lahan ketika jalan sudah terbuka karena jangan sampai badan jalan terbuka tanah mereka jual", kata Kortanius.

Untuk itu peran tokoh masyarakat, tokoh agama, kepala dusun, kepala desa dan kecamatan memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak mudah dan gampang menjual tanah kepada orang lain ketika akses jalan sudah terbuka. "Jangan sampai pembukaan dan pembangunan jalan membuat orang lokal terpinggirkan karena kehilangan tanah yang telah dikuasai orang luar,” katanya. 


BACA JUGA