Warga Desa Betu Monga Belajar Membuat Pupuk Organik dari Pohon Pisang

Warga Desa Betu Monga Belajar Membuat Pupuk Organik dari Pohon Pisang Dedi Gusnadi, PPL Pertanian Kecamatan Pagai Utara lagi memberikan contoh cara mengelola limbah batang pisang menjadi pupuk organik cair. (Foto:Supri/Mentawaikita.com)

BETU MONGA-Dalam Satu  Minggu 200 - 300 Batang Pisang ditebang oleh warga Desa Betu Monga, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai dimana buah pisangnya dijual ke pengepul pisang. 

Batang pisang yang  ditebang tersebut dibiarkan tergeletak seperti itu saja oleh petani pisang, melihat hal itu Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Pertanian Kecamatan Pagai Utara berinisiatif mengajarkan petani pisang dari Desa Betu Monga cara membuat pupuk organik cair bahan utamanya dari limbah batang pisang. Pelatihan diadakan di kantor Desa Betu Monga, Kecamatan Pagai Utara, diikuti 22 orang peserta, Senin, 22 November.

"Setiap Minggu 200-300 batang pisang ditebang oleh petani pisang dari Desa Betu Monga, buah pisangnya dijual ke pengepul, batang pisang yang telah ditebang tersebut dibiarkan tergeletak begitu saja, melihat hal tersebut timbullah keinginan saya sebagai PPL Pertanian untuk Kecamatan Pagai Utara membagikan ilmu kepada petani pisang dari Desa Beti Monga Limbah batang pisang diolah menjadi pupuk organik cair,"kata Dedi Gusnadi, PPL Pertanian Kecamatan Pagai Utara, Selasa (23/11/2021). 

Peserta, kata Dedi, 19 orang dari kelompok  Gorat Baga, kelompok tani pisang binaan Center for Disaster Risk Manajemen And Community Development Studies (CDRM&CDS), dan 3 orang petani pisang warga Desa Betu Monga. Pelatihan yang dilakukan ini PPL Pertanian bekerjasama dengan CDRM&CDS yang juga melakukan pendampingan kelompok tani pisang di Desa Betu Monga. 

Tanaman pisang semuanya bermanfaat buahnya bisa dijadikan pangan alternatif dan makanan olahan seperti keripik pisang, tepung pisang dan sebagainya, sebab buah pisang mengandung vitamin, daun pisang bisa digunakan pembungkus makanan, jantung pisang bisa digunakan menjadi sayuran, batangnya bisa diolah menjadi pupuk organik cair, bahkan ada juga diolah menjadi makanan, tapi sayang selama ini batang pisang setelah ditebang dibiarkan begitu saja oleh petani pisang. 

Pupuk organik cair dari limbah batang pisang bisa digunakan untuk semua tanaman, seperti tanam cabai, padi, tomat dan tanaman lainnya. Bahan untuk membuat pupuk organik cair pertama limbah batang pisang, gula pasir, air, EM4 Pertanian, ember plastik 25 liter. 

Untuk 2 kilogram batang pisang yang sudah dicincang dibutuhkan 4 ons gula pasir, 6 liter air bersih, 25 mililiter EM4 Pertanian, lalu masukkan potongan batang pisang yang telah dipotong dengan ukuran 1 centimeter sampai 3 centimeter ke dalam ember plastik yang telah diaduk gula + EM4 Pertanian + air lalu ember yang berisi potongan batang pisang ditutup, lama fermentasi 8 hari sampai 10 hari, setelah pupuk organik cair sudah bisa digunakan, selama fermentasi tutup ember yang berisi potongan batang pisang dibuka sebentar supaya gas limbah pohon pisang lepas, kemudian tutup kembali. 

"Dengan membagikan ilmu tersebut kepada orang lain, supaya limbah batang pisang dapat dipergunakan untuk diolah menjadi pupuk organik cair, limbah batang pisang yang biasanya dibiarkan terbuang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, sekarang ini diperlukan keseriusan petani pisang dalam memanfaatkan limbah batang pisang menjadi pupuk organik,"ungkapnya. 

Jakop, fasilitator CDRM&CDS Desa Betu Monga, menyebutkan, peningkatan kapasitas Anggota perlu dilakukan, salah satu cara meningkatkan kapasitas anggota kelompok tani dengan cara memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair dari limbah batang pisang. "Pendamping akan tetap dilakukan supaya ilmu membuat pupuk organik cair dari limbah batang pisang dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh kelompok tani," tuturnya. 

Joni Siritoitet, Kepala Desa Betu Monga mengatakan, pada umumnya warga Desa Betu Monga memiliki ladang pisang, dalam satu Minggu itu sekitar 200 sampai 300 tandan pisang keluar dari Desa Betu Monga, berarti 200 sampai 300 batang pisang yang ditebang oleh petani pisang di Desa Betu Monga setiap Minggu. 

Ketua kelompok tani Gorat Baga Rispen Sakerebau mengucapkan, pelatihan ini sangat besar sekali manfaatnya bagi kelompok tani dan masyarakat Desa Betu Monga. “Dari 6 liter  fermentasi hasilnya menjadi 60 liter pupuk organik cair, pupuk organik cair bisa digunakan untuk pupuk tanam, mudah-mudahan setelah diberi pupuk tanaman bisa menghasilkan lebih banyak lagi buahnya, misalnya cabe kutu,” ungkapnya.


BACA JUGA