Mahalnya Kebutuhan Air di Sikabaluan

Mahalnya Kebutuhan Air di Sikabaluan Warga menampung air di Sikabaluan (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Sikabaluan sebagai pusat Kecamatan Siberut Utara terkenal dengan daerah yang sulit akan ketersediaan air bersih. Tak hanya untuk persediaan air untuk minum tapi untuk memasak, mandi, mencuci ikut mengalami kesulitan. 

"Satu-satunya sumber air masyarakat hanya air hujan,” kata Olean Sikaraja (58) pada Mentawaikita.com awal November lalu.

Bila hujan, bak penampungan air akan diisi penuh sebagai persediaan air. Ember, jeriken dan drum menjadi wadah yang dimiliki masing-masing kepala keluarga untuk menampung dan menyediakan air bersih di rumah untuk kebutuhan sehari-hari. "Setiap rumah memang punya sumur galian di samping dan belakang rumah. Namun karena rawan pasang naik air laut airnya menjadi asin", jelasnya.

Bila musim hujan air sumur galian akan terasa tawar meski warna airnya seperti air teh. Air sumur seperti air teh karena tanah pemukiman Sikabaluan dalam bentuk gambut dan rawa. Namun bila pasang naik air laut muncul maka warna air sumur tetap berwarna air teh dan rasanya asin. Pasang air laut ini akan naik ke permukiman warga pada saat bulan mati dan saat bulan purnama. Masing-masing tiga hari. "Mungkin karena pemukiman ini makin lama makin turun tanahnya sehingga setiap musim pasang air laut selalu naik pemukiman dan masuk ke sumur masyarakat,” katanya.

Lima dusun yang ada di Desa Muara Sikabaluan, empat dusun mengalami kesulitan air bersih dan langganan pasang air laut. Diantaranya Dusun Muara, Dusun Nangnang, Dusun Puran, Dusun Bose. Sementara untuk Dusun Pokai sedikit lebih aman dari ancaman banjir pasang air laut. Untuk sumur galian masyarakat warna airnya jernih namun tinggi zat kapur. "Ini karena dasar pemukiman dari kerikil dan batu-batu dasar laut,” kata Kampuli salah seorang warga Pokai.

Karena Pokai memiliki air sumur yang sedikit jernih, kebutuhan air saat musim kering di Sikabaluan salah satu sumber air diambil di Pokai. Terutama pedagang dan pemilik usaha penginapan. Untuk mengambil air di Pokai yang berjarak sekira 7 kilometer dari Dusun Nangnang dan Muara dibutuhkan tenaga angkut air. Satu tangki air yang berkapasitas 1000 liter dibayar Rp100 hingga Rp150 ribu. Mengangkut air dari Pokai menggunakan mobil L300.

Sementara bagi masyarakat Dusun Nangnang yang membutuhkan air bersih disaat musim kering jalur Sikabaluan-Monganpoula menjadi alternatif. Beberapa rumah warga yang ada di jalur Sikabaluan-Monganpoula memiliki air sumur galian cukup bersih. 

"Bila musim kering maka masyarakat akan antrean datang mengambil air bersih di sumur. Ada yang datang pagi-pagi, siang hari atau malam hari,” kata Karolina salah seorang warga yang air sumur galian di rumahnya cukup bersih.

Kontur tanah di rumah Karolina, pada bagian permukaan tanah berbentuk gambut hingga 1 meter. Setelah tanah gambut dalam bentuk pasir yang mengeras sedalam 30 cm dan tanah pasir. Agar air dari tanah gambut tidak bercampur dengan air dari tanah pasir sumur galian dibuat memakai cincin sumur dari batu beton kedalaman tiga cincin atau sekira 2,5 meter.

"Ada yang datang dengan memakai ember besar, jerigen yang dinaikkan di dalam gerobak sorong atau gerobak besar. Jarak rumah Karolina dengan pemukiman masyarakat Dusun Nangnang sekira 1 KM.

Kesulitan air bersih tak hanya dialami masyarakat di Desa Muara Sikabaluan, namun masyarakat Desa Malancan mengalami hal yang sama. Sebut saja lima dusun yang ada di sekitar pusat pemerintah desa, Dusun Sinaki, Kelakbunda, Langgurek, Malancan, Bakla hanya dua dusun yang mendapat akses air bersih yaitu Malancan 66 kepala keluarga dan Bakla 54 kepala keluarga.

"Untuk tiga dusun belum mendapat akses air bersih. Mereka mengambil air di diantara dua dusun yang ada,” kata Halomoan Sageileppak salah seorang tokoh masyarakat Malancan.

Sarana air bersih yang ada di dua dusun ini merupakan program pembangunan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) tahun 2009. Akibat kejadian gempa 2010 terjadi kerusakan pada penampungan sehingga tak dapat dimanfaatkan. Lalu pada 2012 pemerintah desa mencoba melakukan perbaikan dan dapat melayani masyarakat di dua dusun.

"Pada 2019 dicoba dianggarkan dalam anggaran desa untuk mengalirkan ketiga dusun namun tidak terlaksana karena anggarannya dialihkan pada penanganan covid-19", jelas Halomoan yang juga sekretaris BPD Malancan.

Selain dusun yang ada di pusat Desa Malancan, dusun yang ada di Malancan lainnya ada yang masih mengalami kesulitan air bersih dan ada sudah mulai menikmati dari program Pamsimas. Misalnya tiga dusun yang terletak berdekatan dalam satu jalur seperti Dusun Ukra, Sirilanggai dan Sibeuotcun masih dua dusun yang baru dapat menikmati akses air yaitu Ukra 84 kepala keluarga dan Sibeuotcun 99 kepala keluarga. Sementara Sirilanggai yang terdiri dari 53 kepala keluarga masih kesulitan air.

"Kami mengambil air di dusun tetangga kalau persediaan air bersih dari hujan habis", kata Barnabas Saerejen salah seorang warga Sirilanggai.

Untuk keperluan mandi, mencuci dikatakan Barnabas bila tidak mengambil di dusun tetangga pilihannya dengan mencuci dan mandi di sungai yang ada di dekat perkampungan. 

"Hanya saja sungai tidak terawat karena ada yang buang sampah dan ada juga yang buang air besar karena masih ada warga yang belum memiliki wc di rumahnya", kata Keisa, istri Barnabas.

Masyarakat di Sirilanggai, Ukra dan Sibeuotcun pada umumnya tak membuat sumur galian di sekitar rumah karena salah satu faktornya daerah yang rawan banjir saat musim hujan.

***

Kesulitan air bersih yang terjadi di Dusun Nangnang dan Muara tidak sesulit sekarang dibandingkan 25 tahun lalu. Meski air sumur galian berwarna air teh karena pengaruh tanah yang gambut dan rawa namun untuk mencuci, mandi masih dapat dimanfaatkan warga dengan baik. "Pasang air laut tidak semudah dan sesering sekarang,” kata Olean Sikaraja.

Harapan akan adanya pembangunan jaringan air bersih di Sikabaluan sebagai pusat kecamatan dengan sumber mata air dari air terjun Singunung yang berada di wilayah Desa Malancan, sekira 5 kilometer  dari Dusun Sibeuotcun tak kunjung terwujud meskipun sudah beberapa kali dilakukan peninjauan dari pihak Kabupaten Mentawai dan Provinsi. "Sumber air yang ada hanya di sana. Katanya mau dibangun tapi sampai sekarang tak terwujud", katanya.

Bila mengambil jarak jangkauan dari sumber air terjun Singunung hingga dialirkan ke Sikabaluan sebagai pusat kecamatan sekira 20-25 KM karena jarak Dusun Muara-Nangnang dengan Pokai 7 KM, dari Pokai-Sirikanggai/Sibeuotcun 8 KM dan dari Sibeuotcun ke air terjun 5-6 KM.

Barnabas Saerejen, mantan kepala Desa Malancan mengatakan 2017 wakil gubernur Sumatera Barat bersama Dinas PU Mentawai pernah mengunjungi air terjun Singunung untuk memastikan debit air terjun dan akses jalan menuju ke lokasi. Sehabis dari lokasi wakil gubernur meminta pihak Mentawai seperti apa rencana dan teknis lapangan soal air.

"Pada waktu itu pihak provinsi siap membantu anggaran pembangunan dan melakukan lobi ke kementerian. Pemda Mentawai diminta untuk menyiapkan jalan", cerita Barnabas.

Pada saat itu, rencana pembangunan jalan dilakukan melalui swakelola model P2D Mandiri atau PPIP dengan jarak 5 KM dari ujung Dusun Sibeuotcun menuju air terjun pada tingkat dasar. Untuk penampungan, bendungan dan pipanisasi akan ada pembagian anggaran antara provinsi dan kementerian.

"Mungkin karena habis periode saya dan tidak ditindaklanjuti sehingga tidak berlanjut", katanya.

Di Sirilanggai dan Sibeuotcun sebelum program air bersih dari Pamsimas masuk 2019 dan 2020 masuk masyarakat mengalami kesulitan air. Selain mengandalkan air hujan beberapa masyarakat yang di belakang rumahnya ada sumber air bersih mencoba mengalirkan sendiri dengan memanfaatkan bambu sebagai talang air agar air dapat dialirkan ke arah.

"Dibelakang rumah kita dulu ada sumber air dari bukit dan kita alirkan ke rumah memakai bambu. Karena diatas bukit dibuka ladang airnya menjadi kering dan tidak mengalir lagi. Namun dengan adanya program Pamsimas kita terbantu dengan adanya air bersih", kata Ligi salah seorang warga.

***

Kesulitan air bersih di Sikabaluan membuat bisnis air menggiurkan. Untuk di Sikabaluan sekira 6 orang memiliki usaha penjualan air galon isi ulang yang didatangkan dari Padang. Untuk mendatangkan air dari Padang didatangkan menggunakan KMP. Gambolo yang masuk pelabuhan Pokai setiap minggu, Selasa.

"Setiap minggu saya pasok sekitar 30 galon air", kata Alwi, salah seorang pedagang di Sikabaluan.

Lebih Lanjut dikatakan Alwi, biasanya dia pesan air galon dua macam diantaranya air galon biasa dan air galon aqua. Namun karena yang paling banyak diminati masyarakat air galon aqua sehingga lebih banyak memesan air galon aqua. Untuk air galon biasa dijual seharga Rp20 ribu sedangkan air galon aqua seharga Rp30 ribu.

"Kalau sekarang masyarakat lebih banyak beli aqua karena yang biasa airnya banyak yang tidak bersih,” katanya.

Sementara untuk air bersih keperluan mandi dan mencuci biasa masyarakat pesan di Dusun Pokai. Yang banyak memesan itu pedagang atau yang memiliki usaha penginapan. Untuk satu tangki air ukuran 1000 liter dibeli Rp100-Rp150 ribu. Pada musim kering dalam dua tiga hari memerlukan 1000 liter air.

"Apalagi tamu banyak datang sementara musim kering dalam satu hari bisa 1-2 ton air", kata Rumailas pemilik penginapan Mai.

Dikatakan Rumailas, ketersediaan air bersih sangat penting di Sikabaluan sebagai pusat kecamatan apa lagi ada tamu yang datang berkunjung di kecamatan Siberut Utara. 


BACA JUGA