Akses Transportasi Susah, Petani di Saibi Berharap Pemerintah Segera Bangun Dermaga

Akses Transportasi Susah Petani di Saibi Berharap Pemerintah Segera Bangun Dermaga Jairusman Sakerenganlelleggu, petani pisang di Saibi Samukop, Siberut Tengah, Mentawai. (Foto: Patrisius/Mentawaikita.com)

SAIBISAMUKOP-Minimnya akses transportasi laut dan transportasi darat di daerah Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah Kepulauan Mentawai membuat petani sulit menjual hasil buminya ke pasar di kecamatan, hasil penjualan juga tengah anjlok terutama pisang.

Beban biaya transportasi ke pusat kecamatan atau ke penampung lebih tinggi menjadi kendala sehingga pisang yang dimiliki masyarakat tidak dapat dijadikan sebagai sumber uang untuk membantu peningkatan perekonomian.

Jairusman Sakerenganleleggu, petani pisang asal Saibi Samukop, Kecamatan Siberut tengah memiliki 4 hektar kebun pisang namun tidak bisa menghasilkan banyak uang karena harga turun.

 “Banyak pisang tetapi tidak bisa jadi uang karena harganya turun, dan penampung juga tidak ada, dibawa pun ke Siberut Selatan, biayanya besar tidak imbang atau tidak dapat keuntungan,” katanya pada berbincang di ladangnya pada pertengahan Oktober 2021 lalu.

Kalkulasi dia terkait biaya transportasi jika dijual di Siberut Selatan yang ada pengepul pisang, akan menghabiskan 12 liter BBM. “Kondisi ini justru yang ada rugi, misal transportasi saja sudah Rp120 ribu, pisang yang mampu dibawa dalam perahu itu tidak banyak, jadi tidak imbang dengan pendapatan,”ujar Jairusman.

Para petani pisang mengharapkan Pemda Mentawai segera merealisasikan pembangunan dermaga, karena keberadaan dermaga tentu saja ada kapal besar masuk yang menampung hasil bumi masyarakat.

“Keberadaan pelabuhan memudahkan kita jadi susah kita di sini, kita menginginkan ada dermaga untuk memperlancar perekonomian masyarakat, kalaulah ada jalan atau dermaga tentu paling tidak sudah gampang masyarakat dalam hal akses untuk menjual hasil bumi itu terbantu masyarakat dari sisi perekonomian,” ujar Jairusman.

 “Kami pun di rumah banyak berlebihan, banyak yang mubazir sehingga kadang kami berikan untuk makanan ternak kadang busuk di pangkalnya setiap  hari,” kata Jairusman.

Komoditi pisang menurut Jairusman dapat menjadi sumber perekonomian masyarakat yang cukup menjanjikan selain pinang, cengkeh, karet. Meskipun pandemi Covid-19 menyebabkan harga beberapa komoditi pertanian turun.

Sekali pun harga murah tapi jika distribusi lancar, petani tetap dapat menjual hasil buminya ke pasar. Harga hasil bumi seperti pisang yang dijual masyarakat capai Rp 20-25 ribu per tandan, kemudian harga jual pinang yang cukup menjanjikan saat ini rata-rat Rp18 ribu per tandannya.

Jairusman memperkirakan pohon pisang yang dimiliki saat ini ada sekira 1000 batang. Pisang yang kadang tak terjual bahkan membusuk di batangnya, kadang jika ada yang meminta dia berikan secara cuma-cuma.

Jamin, warga Dusun Totoet, Desa Saibi Samukop, juga sama. pisang yang dia panen hasil penjualannya tidak menentu, kadang kalau hasil panen banyak akan dijual namun tak sampai ke luar kecamatan karena harganya juga sangat murah.

“Kalau sekali panen sudah cukuplah untuk kebutuhan keluarga di rumah dan juga biaya anak sekolah, yang kami tanam itu pisang, jika jumlah banyak kami jual tetapi kalau sedikit kami konsumsi untuk di rumah saja,” kata Jamin.

BACA JUGA