87 Rumah Di Desa Maileppet Terancam Disapu Ombak 

87 Rumah Di Desa Maileppet Terancam Disapu Ombak  Rumah warga di Dusun Batsimaonai Baga yang terancam abrasi pantai. (Foto: Hendrikus/Mentawaikita.com)

MAILEPPET-Sebanyak 87 unit rumah warga Dusun Batsimaonai Baga, Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, terancam abrasi pantai. Saat ini bibir pantai dengan perumahan warga hanya berjarak tiga meter.

"Memang untuk abrasi pantai di Desa Maileppet sudah memprihatinkan, khususnya wilayah pesisir pantai Dusun Pasakiat dan Dusun Batsimaonai Baga Desa Maileppet, jarak bibir pantai dengan pemukiman warga tinggal 3-4 meter lagi, jika naik pasang besar air laut akan masuk mengancam rumah mereka,” kata Alexsius Samaileppet,  Kepala Desa Maileppet kepada Mentawaikita.com Senin (25/9/2021).

Abrasi pantai ini terjadi karena faktor alam dan ada juga penebangan bakau dan penambangan batu untuk bangunan itu penyebabnya, kalau masih ada bakau dan batu tidak akan ada abrasi, namun untuk  di desa pihaknya sudah membuat Peraturan Desa (Perdes) lingkungan, di sekitar pantai Maileppet dilarang mengambil bakau, pasir dan batu, namun ada titik tertentu yang dibolehkan untuk mengambil material titiknya akan ditentukan nantinya. "Abrasi pantai ini menjadi program kami kedepan dan sudah kami usulkan, untuk relokasi ada rencana semua kami usulkan di dinas (PUPR),” katanya.

Tahun sebelumnya sudah ada bangunan talud abrasi sepanjang  87 meter, berarti pembangunan talud abrasi sudah sampai di penginapan Manai Koat, sedangkan bangunan lama talud abrasi ini khususnya di depan pesantren bangunannya sudah ada yang jebol. “Itu karena ngak ada besi sebagai tulang bangunannya, pondasi juga tidak  dibuat kuat, dan seharusnya ada timbunan tanah agar menahan hantaman gelombang, jadi saya lihat bangunan talud abrasi itu belum belum standar,” kata Alexsius.

Sementara warga Batsimaonai Baga, Simon (30) mengatakan, warga yang tinggal di tepi pantai itu kondisinya sangat memprihatinkan sebab ketika badai dan pasang naik ada beberapa rumah akan terkena hempasan laut, dia memprediksi sekitar 1 atau 2 tahun lagi beberapa rumah warga di tepi pantai akan terkikis kalau tidak ditangani cepat.

"Dulu di sepanjang pantai Maileppet ini ada penanaman pohon cemara, cuma sudah banyak yang tumbang dan di tebang, sekarang yang sedikit membantu di tepi pantai masih ada pohon kelapa dan beberapa pohon cemara, namun itu tidak akan bertahan lama sebab di sepanjang pantai sudah ada rumah warga," kata Simon.

Simon menambahkan pantai Maileppet juga sudah tercemar, sebab ada juga masyarakat membuang sampah di tepi pantai. “Kalau kami memancing terkadang yang kami dapat plastik dan karung bekas, ikan ada namun pantainya tidak bersih lagi, mudah-mudahan pemerintah bisa menangani persoalan kami di Desa Maileppet,” ujarnya.


BACA JUGA