Kemendikbud Ajak Pemuda Adat Majukan Kebudayaan Mentawai

Kemendikbud Ajak  Pemuda Adat Majukan Kebudayaan Mentawai 16 pemuda adat belajar mengenali budaya Mentawai di Uma Aman Lima Sakukuret, Siberut Selatan. (Foto:Hendrikus/Mentawaikita.com)

MUNTEI-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pendampingan program pemuda adat dan temukenali objek pemajuan kebudayaan kepada 16 pemuda adat Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, di Uma'Aman Lima Sakukuret, selama tiga hari dimulai Rabu (13/9/2021).

Wewen Efendi, Pamong Pertama Budaya Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan kegiatan pendampingan pemuda adat melalui sekolah lapang ini bertujuan agar masyarakat kembali mengenali kebudayaannya, dan pengetahuan tradisional.

“Kita juga mengundang sikerei untuk menjelaskan kepada pemuda adat tentang apa yang tidak mereka ketahui,” kata Wewen kepada Mentawaikita.com, Rabu (13/9/2021).

Sementara Camat Siberut Selatan, Hijon mengatakan, dulu alat kebudayaan Mentawai sempat dibakar dan dilarang digunakan, namun sekarang semua simbol budaya akan dikembangkan lagi untuk membangkitkan kebanggaan pada budaya Mentawai.

Di Siberut Selatan ada  3 desa yang menjadi desa wisata yaitu Madobag, Muntei dan Matotonan, karena konsep wisata budaya, jadi kita mau membangkitkan lagi kebanggaan akan budaya Mentawai, untuk itu kita orang Mentawai semua harus paham budaya kita sendiri,” kata Hijon saat acara.

Karena itu Hijon berharap generasi muda Mentawai terutama para pemuda adat yang sudah dilatih benar-benar dapat menerapkan pengetahuan kebudayaannya dan membaginya kepada pemuda adat lainnya.

Kepala Bidang Kajian dan Pendidikan Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Tarida Hernawati yang juga ikut acara tersebut mengatakan, untuk revitalisasi budaya yang mulai hilang, warga desa harus bisa menemukan dan mengenali budaya lokalnya, terus mempraktikkannya dan mendokumentasikan.

“Pendokumentasian penting agar pengetahuan budaya lokal tidak hilang lalu semuanya dapat ditampilkan di media informasi desa seperti website desa atau di media sosial yang dikelola desa sehingga orang lain tahu,” katanya.

Sementara Kasi Pemuseuman dan Cagar Budaya Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Bernadetta Rosita Taileleu berharap melalui kegiatan itu para pemuda adat dapat ikut melestarikan budaya Mentawai.

“Budaya Mentawai jangan sampai hilang, misalnya banyak orang Mentawai menjual babi untuk kebutuhan sekolah, mereka berpikir pesta adat sudah tidak penting lagi karena babi dan ayam mereka sudah tidak punya, jika membeli babi harganya cukup mahal,” katanya.

Dia juga berharap upaya melestarikan budaya Mentawai juga didukung oleh banyak pihak dan sinkron dengan berbagai instansi dan OPD terkait di Mentawai.

 

BACA JUGA