Training Video untuk Jurnalis Adat, Memanfaatkan Platform Media untuk Kabarkan Masalah Lingkungan

Training Video untuk Jurnalis Adat  Memanfaatkan Platform Media untuk Kabarkan Masalah Lingkungan Lian Rizal, salah seorang peserta pelatihan dari Siberut Selatan sedang mempresentasikan video yang sudah dieditnya. (Foto: Gerson/Mentawaikita.com)

PADANG-Informasi tentang Mentawai terutama kerusakan lingkungan yang terjadi masih menjadi isu minor karena terbatasnya area liputan media massa. Sementara masyarakat adat Mentawai dan lingkungannya sering menghadapi tekanan dan ancaman kerusakan.

“Padahal isu-isu lingkungan harus menjadi informasi arus utama agar menjadi perhatian publik sehingga ada kebijakan dan tindakan yang lebih baik dari pemerintah untuk lingkungan dan keberlanjutannya di masa depan,” kata Rifai, Direktur Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) saat menutup pelatihan video editing untuk jurnalis adat yang diselenggarakan di Padang, Jumat (24/09/2021).

Namun menurut dia, perkembangan teknologi saat ini membuat dunia bisa saling terhubung dan tidak lagi tertutup. Berbagai platform media sosial saat ini dapat dimanfaatkan warga untuk menyebarkan berbagai peristiwa yang terjadi di komunitasnya.

“Saya berharap peserta pelatihan baik jurnalis maupun masyarakat adat dapat memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk mengabarkan apa yang terjadi di lingkungannya, saya berharap video yang dibuat memiliki pesan karena itulah yang ingin kita kabarkan ke pihak lain di luar kita,” katanya.

Pelatihan editing video untuk jurnalis yang digelar YCMM selama tiga hari, 22-24 September lalu merupakan pelatihan kedua untuk jurnalis dan menutup lima rangkaian pelatihan yang digelar YCMM dengan dukungan Internews melalui proyek Earth Journalism Network di Asia Pasifik.

Sepanjang program ini berjalan sejak awal januari lalu, YCMM telah melatih setidaknya 15 jurnalis dan staf YCMM serta 20 masyarakat adat dan 10 perempuan adat. Mereka dilatih membuat dan mengedit video agar ke depan dapat memproduksi konten video dan menyebarkan di media sosial masing-masing.

“Video saat ini salah satu media yang popular untuk menceritakan sebuah cerita baik itu berita atau cerita, terutama saat bercerita tentang kerusakan lingkungan,”kata Rifai.

Salah seorang peserta pelatihan training jurnalis, Sari Ramadhani dari Siberut Utara, mengatakan pelatihan mengedit video sangat bermanfaat karena video-video yang sudah dibuatkan dapat ditampilkan lebih baik dan dapat dipahami publik.


“Setelah mengikuti dua kali pelatihan ini saya akan lebih produktif membuat video-video tentang masyarakat Mentawai dan diposting di media sosial, agar publik di luar Mentawai bisa melihat kearifan yang dimiliki masyarakat lokal dalam interaksinya dengan lingkungan serta ancaman-ancaman terhadap lingkungan yang menjadi ruang hidup masyarakat adat Mentawai,” katany usai pelatihan.

Sementara Prauke Mardelina, salah seorang peserta muda dari Siberut Tengah mengatakan selama ini masih banyak orang yang belum tahu kehidupan masyarakat Mentawai. Banyak temannya di luar Mentawai bertanya tentang cara berpakaian, atau makanan orang Mentawai, bagaimana mereka hidup sehari-hari dan apa yang dilakukan untuk menghasilkan uang,

“Saya ingin menunjukkan budaya Mentawai melalui video-video yang saya buat,” katanya.

Delapan dari 10 peserta sudah mengikuti pelatihan sebelumnya terkait pembuatan naskah, menyusun shot list, teknik mengambil gambar, teknik wawancara dan editing.

Peserta pelatihan mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi saat memproduksi konten video usai pelatihan tahap pertama, misalnya kesulitan menggali cerita dari narasumber, membuat alur cerita yang terstruktur, membuat narasi cerita hingga berbagai hal teknis yang dihadapi karena minimnya peralatan seperti kualitas audio buruk karena merekam dengan telepon genggam dan pencahayaan yang buruk.

Trainer pelatihan, Aidil Ichlas membagikan sejumlah tips untuk mengatasi permasalahan audio dan pencahayaan. Para peserta juga diberikan tugas mengedit sejumlah shot list gambar menjadi video liputan yang menarik dan mengalir, sekaligus membuat narasi sesuai alur cerita.

“Membuat naskah cerita yang mengalir menjadi tantangan tersendiri bagi videografer, terutama bagaimana agar naskah memiliki pesan yang kuat dan dapat ditangkap jelas penonton,” kata Aidil saat pelatihan.

Dari pelatihan yang digelar YCMM, para peserta sudah membuat sejumlah video yang ditampilkan di platform Youtube YCMM dan media sosial YCMM lainnya serta akun Youtube beberapa peserta.

BACA JUGA