11 Hektar Areal Sawah Petani di Muara Siberut Butuh Irigasi

11 Hektar Areal Sawah Petani di Muara Siberut Butuh Irigasi Sawah yang dikelola petani di wilayah Puro, Siberut Selatan, Mentawai mulai panen perdana. (Foto: Hendrikus/Mentawaikita.com)

MUARASIBERUT-Petani sawah di Desa Muara Siberut Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai mulai memanen hasil. Meski demikian, areal persawahan 11 hektar yang dikelola tiga kelompok tani di wilayah Batsinuan, Puro ini belum memiliki saluran irigasi untuk mengairi sawah.

"Sawah warga mulai panen perdana dengan hasil cukup memuaskan, ada tiga kelompok tani yang mengelola sawah itu yaitu Malupetpet, Shalom Battoitet, dan Monaci Sinuan Jaya, padi yang dipanen ini ditanam tiga bulan lalu,” kata penyuluh pertanian di Siberut Selatan, Alex Manto kepada Mentawaikita.com, Rabu (15/9/2021).

Tiap kelompok menurut Alex Manto mengelola 4 hektar lahan, namun tiap anggota mengelola luas sawah berbeda-beda tergantung kemampuan. “Saat ini cara tanam masyarakat masih menggunakan peralatan tradisional seperti cangkul,” katanya.

"Pada biasanya dalam 1 hektar itu akan menghasilkan 6 ton gabah padi, sementara saat masa tanam, petani mendapat bantuan berupa pupuk dan racun hama dari dana pemberdayaan Desa Muara Siberut,” katanya.

Namun yang menjadi kendala utama bagi petani saat ini belum adanya saluran irigasi sehingga sawah warga masih mengandalkan air hujan. Selain itu sistem bertani masih tradisional, bibit yang belum unggul, jelas Alex Marto.

Areal sawah yang kini dikelola warga dulu sudah pernah ditanami 7-10 tahun lalu namun gagal dan akhirnya dibiarkan bersemak. “Baru tahun ini dibuka kembali,” katanya.

Susan, salah seorang anggota kelompok tani Monaci Sinuan Jaya mengaku mengelola lahan sawah yang tak terlalu luas, berkisar 70 x 50 meter persegi yang dikerjakan sendiri. Selama tiga bulan bersawah, Susan sudah memanen 4 karung padi ukuran 20 kg.

“Saya dan sebagian anggota kelompok sudah panen sejak seminggu ini namun panen belum merata karena belum semua padi menguning.  Padinya kini sedang dijemur, nanti akan digunakan untuk konsumsi keluarga,” katanya.

Tidak adanya irigasi untuk sawah menurut Susan menjadi kendala utama selama bertanam. Untung lahan bagiannya berada di rawa yang basah, sementara ada petani lain yang lahannya kering dan tanahnya keras. “Batang padinya jadi kuning dan ini jadi hambatan, kami berharap pemerintah membuatkan irigasi,” katanya.

BACA JUGA