Rumah Di Desa Malancan Masih Banyak Kategori Belum Sehat

Rumah Di Desa Malancan Masih Banyak Kategori Belum Sehat Dua orang anak di Malancan sedang mengambil air. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Dua orang anak di Dusun Bakla Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara duduk jongkok sambil memegang jeriken putih ukuran lima liter. Menunggu jeriken penuh dari kran air yang mereka tampung, sesekali mereka bergurau dengan memercikan air dimuka satu sama lain.

Persoalan ketersediaan akses air di Desa Malancan merupakan salah satu pendukung terwujudnya rumah sehat sebagai bagian dari PHBS (Prilaku Hidup Bersih dan Sehat). Namun karena salah satu pendukung dari terwujudnya masyarakat yang sehat berdampak pada terciptanya rumah dan desa yang sehat.

Dalam acara sosialisasi PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) yang dilaksanakan YCMM (Yayasan Citra Mandiri Mentawai) bekerjasama dengan Puskesmas Sikabaluan kepada 100 kepala keluarga penerima bantuan PKAT (Program Komunitas Adat Terpencil) khusus dampingan LSM YCMM dari Kementerian Sosial di aula Desa Malancan diketahui bahwa masih banyak rumah di Malancan yang tidak memenuhi rumah sehat.

"Rumah sehat itu tidak harus mewah. Namun, rumah mempunyai ventilasi yang cukup agar sirkulasi udara dan sinar matahari masuk, memiliki jamban dan air bersih,” kata Kristiani, Kepala Puskesmas Sikabaluan pada Senin (13/9/2021).

Lebihlanjut dikatakan Kristiani, sebagai masyarakat penerima bantuan rehab rumah dari Kementerian Sosial hendaknya menjadi contoh sebagai rumah sehat bagi masyarakat lainnya karena di Malancan masih banyak rumah masyarakat yang tidak memiliki jamban, air bersih dan lingkungan yang bersih.

"Perlu ada dorongan dan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah desa dalam mewujudkan masyarakat sehat dan lingkungan yang bersih", katanya.

Sandang Paruhum Simanjuntak selaku koordinator LKS (Lembaga Keswadayaan Sosial) dari YCMM dengan 100 kepala keluarga sasaran penerima PKAT menjelaskan bahwa tujuan dilaksanakannya sosialisasi PHBS karena adanya anggapan luar yang mengatakan kalau komunitas adat terpencil tidak sehat dan tidak bersih.

"Untuk itu kita perlu menggagas dengan adanya penyuluhan ini masyarakat memiliki pola hidup bersih dan sehat", katanya.

Sebagai bentuk sederhananya, dikatakan Sandang Simanjuntak dimana dari 100 kepala keluarga yang menjadi dampingan LKS YCMM memiliki tempat sampah sederhana di rumah atau halaman rumah.

"Selain itu dari program rehab rumah ventilasi dan penataan rumah agar sesuai dengan kategori rumah sehat mulai diarahkan,” katanya.

Bentuk lainnya, dikatakan Sandang Simanjuntak, dari pola yang ada terkait dengan PHBS mebjadi acuan bagi desa untuk menentukan program dan arah kebijakan saat merencanakan dan lekasanakan kegiatan di tahun yang akan datang. Seperti rumah yang belum memiliki jamban desa memiliki data untuk memberikan akses bantuan baik melalui anggaran desa maupun angggaran dari Dinas hingga Kementerian.

"Misalnya soal air dan jamban kalau tidak tercover di anggaran desa diarahkan ke PUPR atau dinas lainny yang menangani hal ini", katanya.

Halomoan Sageileppak, BPD (Badan Permusyawaratan Desa) Malancan yang juga pengurus pokmas bantuan rehab rumah dari PKAT Kemensos mengatakan untuk akses air bersih di pusat Desa Malancan yang terdiri dari lima dusun, Dusun Sinaki, Kelakbunda, Langgurek, Malancan dan Bakla baru dua dusun yang memiliki akses air ditengah dusun, diantaranya Dusun Malancan dan Bakla.

"Meski tidak dialirkan ke rumah masyarakat namun titik sentral pengambilan airnya ada di tengah dusun", katanya.

Pembangunan jaringan air bersih di Malancan dimulai pada 2009 melalui PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) yang kemudian dilakukan pemeliharaan dan rehab oleh Desa Malancan.

"Sumber air yang diambil di sungai Bakla. Dan pada 2019 pemerintah desa sudah merencanakan kegiatan peningkatan jaringan air bersih pada 2020. Namun karena covid-19 anggarannya terserap kesana hingga tahun ini", katanya.

Berdasarkan data, di Desa Malancan terdapat sembilan dusun diantaranya Dusun Sinaki 50 KK atau 170 jiwa, di Dusun Kelakbunda 50 KK atau 175 jiwa, di Dusun  Langgurek 68 KK atau 244 jiwa, Malancan 66 KK atau 266 jiwa, Bakla 54 KK atau 203 jiwa, Ukra 84 KK atau 183 jiwa, Sirilanggai 53 KK atau 183 jiwa, di Sibeuotcun 99 KK atau 361 jiwa dan di Terekanhulu 96 KK atau 307 jiwa. 


BACA JUGA