Menyelamatkan Vaksin Corona dan Nyawa Masyarakat di Pulau Mentawai

Menyelamatkan Vaksin Corona dan Nyawa Masyarakat di Pulau Mentawai Tim Vaksinator menyuntikkan vaksin ke masyarakat. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Dengan penuh cekatan, Harum Zein memainkan stir mobil ambulan ke kiri dan ke kanan guna menghindari dan tak ingin terjebak pada badan jalan yang berlumpur. Permainan gas dan gigi mobil ambulan puskesmas Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara dimainkan sedemikian rupa.

Pagi, Minggu (5/9/2021) pihak puskesmas Sikabaluan menjadwalkan keberangkatan ke Desa Monganpoula dalam rangka pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat. Tim vaksinator ada yang berangkat menggunakan ambulan dan ada yang menggunakan motor sendiri.

"Jalannya licin dan berlumpur. Kalau untuk sepeda motor masih bisa main untuk mengelakkan lumpur,” kata Harum Zein, tenaga sukarela mobil ambulan puskesmas Sikabaluan.

Badan Jalan Sikabaluan-Monganpoula yang ditimbun dari tanah galian bukit menjadi licin dan berlumpur setelah diguyur hujan semalam. Jalur ini menjadi jalur satu-satunya yang terdekat dari puskesmas menuju Monganpoula.

"Karena pagi itu cuaca mendung. Takutnya hujan dan tim vaksinator kesulitan membawa motor karena jalan licin. Pakai mobil agak aman,” katanya.

Pelaksanaan vaksinasi secara jemput bola di Monganpoula merupakan perdana yang dilakukan Puskesmas Sikabaluan di luar Desa Muara Sikabaluan. Pelaksanaanya dipilih pada Minggu (5/9/2021) mengingat masyarakat lebih banyak kumpul pada waktu minggu. Tempat pelaksanaan dipilih di Gereja Katolik Monganpoula.

"Kita pilih di Gereja Katolik sehabis warga mengikuti ibadah,” kata Kristiani, Kepala Puskesmas Sikabaluan pada Mentawaikita.com, Selasa (7/9/2021).

Pada pelaksanaan vaksinasi perdana di Monganpoula sebanyak 68 orang warga mengikuti vaksinasi. Vaksin yang digunakan diantaranya vaksin moderna dan sinovac. Yang ikut mulai dari usia remaja hingga lansia.

Diakui Kristiani, pihak puskesmas Sikabaluan selain di Desa Muara Sikabaluan sebagai pusat kecamatan dan di Desa Monganpoula desa lainnya belum dikunjungi untuk memberikan pelayanan vaksinasi kepada masyarakat. Terdapat empat desa lainnya, Desa Sirilogui, Desa Sotboyak, Desa Malancan dan Desa Bojakan.

"Pihak puskesmas sedang melakukan upaya bagaimana desa lain ini bisa kami layani seperti desa lain karena soal teknis dan kendala dilapangan seperti jarak tempuh, waktu dan kondisi medan,” katanya.

Pernah suatu kali kepala puskesmas mengundang ke enam kepala desa yang ada di wilayah kerja puskesmas, namun yang hadir pada saat itu hanya tiga desa. Diantaranya Desa Muara Sikabaluan, Malancan dan Sirilogui. Tujuan diundang membicarakan dukungan dan teknis pelaksanaan vaksinasi di desa. 

Dari tiga desa yang hadir, satu desa bersedia bekerjasama dengan puskesmas untuk membawa masyarakat mengikuti vaksinasi dengan sentral pelaksanaan di pelabuhan Pokai mengingat biaya masyarakat untuk datang dari Malancan ke Puskesmas yang terletak di Sikabaluan. Sementara dua desa lainnya tidak bisa memberikan dukungan dengan salah satu faktor kendala tidak adanya anggaran khusus untuk memfasilitasi transportasi masyarakat ke titik pelayanan vaksinasi. "Tapi tetap akan kita lakukan ke semua desa. Teknisnya akan kita upayakan", katanya.

Desa yang ada di Kecamatan Siberut Utara pada umumnya hanya dapat dijangkau dengan jalur sungai dan laut. Jalur darat yang bisa dijangkau seperti Monganpoula dan Sotboyak. Namun kondisi jalan berlumpur, licin, berlubang dan bersemak. Waktu tempuh satu hingga dua jam dari puskesmas ke Monganpoula dan Sotboyak. Untuk ke Bojakan hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai menggunakan perahu pompong dengan jarak tempuh 2-4 jam.

Di Sirilogui dapat dijangkau melalui jalur laur dengan jarak tempuh 1,5-2 jam. Sedangkan di Malancan lima dusun dijangkau dengan menyeberang laut, sementara 4 dusun lainnya melalui jalur darat yang sulit. Di Desa Muara Sikabaluan sendiri, dari lima dusun dua dusun melewati laut yaitu Dusun Bose dan Dusun Puran.

"Pertimbangan ketersediaan vaksin juga kita lihat karena perjalan vaksin dari Padang ke Tuapeijat dan dari Tuapeijat baru dikirim ke Sikabaluan. Untuk pengirimannya tidak dititip sembarang karena ada petugas dari Dinas Kesehatan langsung yang turun,” katanya.

Agustina Sagurung, salah seorang vaksinator Puskesmas Sikabaluan mengatakan target utama untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman covid-19 dengan mensukseskan program vaksinasi ditengah masyarakat menjadi target utama. Namun untuk melaksanakan program vaksinasi tak segampang yang dibayangkan sebelumnya.

"Untuk diawal banyak yang tidak percaya dengan vaksinasi. Namun seiring berjalannya waktu kesadaran masyarakat mulai tumbuh ditambah mulai keluarnya aturan untuk wajib vaksin", katanya.

Pada pelaksanaan vaksin bila dilakukan di luar Puskesmas, tim vaksinator bekerja ekstra untuk menjaga kestabilan vaksin dari suhu 2-8°c. Bila suhu lebih dan kurang dari suhu tersebut maka kadar vaksin akan rusak. Menjaga suhu ini sangat diperhatikan saat vaksin dikeluarkan dari mesin pendingin.

"Pernah sekali saat pelaksanaan vaksinasi di gedung serbaguna Sikabaluan, tim vaksinator mencari batu es untuk mendinginkan vaksin karena sudah lama berada diluar. Ini terjadi karena lambatnya dan tidak serentaknya masyarakat datang mengikuti vaksin,” katanya.

Pada kejadian lain, karena yang ikut vaksin tidak sesuai dengan vaksin yang akan dihabiskan membuat tim vaksinator berkeliling mencari dan membujuk masyarakat dari rumah ke rumah untuk mau di vaksin agar vaksin yang tersisa dan sudah terbuka tidak terbuang sia-sia.

"Untuk sinovac satu vial itu isinya 10 dosis. Bila 1 vial dibuka maka harus dihabiskan. Sedangkan Moderna 1 vial itu 14 dosis. Maka harus sesuai antara yang divaksin dengan vaksin yang dibuka,” katanya.

Agar pelaksanaan vaksinasi dilapangan vaksin yang dibawa untuk dipakai dapat terkontrol, kotak vaksin yang dipakai punya alat kontrol suhu. Beda dengan kotak pengaman vaksin yang disediakan dari Dinas kesehatan tidak punya pengontrol suhu.

Dikatakan Agustina, bila melakukan vaksinasi di luar Sikabaluan pertimbangan utama yaitu waktu tempuh dan waktu lamanya vaksin berada di luar. Misalnya untuk melaksanakan vaksinasi ke Sotboyak yang dijangkau dengan darat menggunakan sepeda motor maka vaksin tidak boleh kena sinar matahari dan masyarakat yang akan menerima vaksin sudah bersiap di titik kumpul.

"Karena kalau lama suhu vaksin akan turun dan di Sotboyak sulit mencari mesin pendingin karena tidak adanya lampu penerangan seperti PLN,” katanya.

Di jalur Puskesmas Sikabaluan pernah terjadi pemadaman total jaringan PLN karena ada tiang listrik yang rubuh. Untuk menjaga kestabilan vaksin selama 2 minggu pemadaman vaksin dipindahkan ke puskesmas lama yang tidak ada gangguan jaringan listrik.

"Untuk pemadaman listrik 3 jam yang terjadi selama ini vaksin masih aman agar kotak mesin pendingin tidak dibuka-buka,” katanya.

Mansyur Siripeibu, Ketua BPD (Badan Permusyawaratan Desa) Monganpoula yang sudah mengikuti vaksin di Sikabaluan mengatakan dapat kesempatan mengikuti vaksim ketika berada di Sikabaluan dan mendapat informasi adanya kegiatan vaksinasi di gedung serbaguna.

"Kebetulan saya ada urusan di kantor camat. Ketika tahu ada kegiatan vaksinasi di gedung serbaguna saya langsung datang,” katanya.

Untuk datang ke Sikabaluan mengikuti vaksinasi di puskesmas memerlukan biaya transportasi ojek Rp50 ribu pulang-pergi per orang.

Berbeda dengan Markus, warga Sirilanggai Desa Malancan yang belum menerima vaksin sama. sekali. Untuk ke Sikabaluan membutuhkan biaya Rp75-100 ribu untuk biaya ojek. Untuk menyediakan biaya tersebut dirinya kesulitan.

"Untuk beli ikan sehari-hari saja sulit apalagi untuk biaya ojek ke Sikabaluan,” katanya. 

BACA JUGA