Gegara Badai, Seminggu Nelayan Sikakap Tak Melaut

Gegara Badai Seminggu Nelayan Sikakap Tak Melaut Perahu nelayan Sikakap, Kecamatan Sikakap yang sandar di pelabuhan akibat badai (Foto : Supri/MentawaiKita)

SIKAKAP—Sudah seminggu nelayan tradisional di Desa Sikakap, Kecamatan Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak melaut  akibat badai dengan gelombang mencapai  ketinggian 1,5-3 meter.

Badai telah terjadi sejak 31 Agustus hingga 7 September dan belum terlihat mereda, kata Marta (46), nelayan tradisional Sikakap.

Marta mengatakan angin kencang disertai bunyi halilintar yang kuat membuat nyalinya ciut melaut.“Angin kencang datangnya tiba-tiba begitu juga dengan hujan lebat, kalau dipaksakan pergi ke laut bisa-bisa perahu pecah akibat dihantam ombak,” kata Marta kepada MentawaiKita.com, Selasa (7/9/2021).

Menurut dia, lebih baik menunggu cuaca membaik sambil bekerja di darat sebagai buruh atau tukang yang penting dapur bisa mengepul.

Indra (56), nelayan lain, menyebutkan cuaca buruk menyebabkan susah mendapatkan ikan. Dia dan beberapa nelayan lain terpaksa harus menginap di sebuah pulau kecil selama seminggu sambil mengintai cuaca.

Cara itu menurut dia membuat modal melaut mahal sebab harus membeli bahan bakar minyak, es dan alat tangkap yang banyak. Diperkirakan modal selama seminggu Rp1 juta.

"Akibat hujan lebat setiap sebentar terpaksa harus menimba air hujan yang masuk ke perahu setelah hujan reda, dalam satu hari bisa menimba air dua sampai tiga kali, kalau tidak di timba air di dalam perahu akan terbenam, selama musim badai pekerjaan yang bisa dilakukan memperbaiki alat tangkap seperti memperbaiki jaring dan lainnya," ujarnya Indra.

Dari pantauan MentawaiKita.com di pelabuhan perikanan wilayah III Sikakap ada puluhan kapal pencari ikan yang sandar akibat cuaca buruk di perairan Kepulauan Mentawai.


BACA JUGA