PLTBM Tiga Desa di Siberut Padam 

PLTBM Tiga Desa di Siberut Padam  PLTBM di Rogdok Desa Mabobag Kecamatan Siberut Selatan. (Foto: Dok Mentawaikita.com)

MADOBAG-Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBM) di tiga desa, Madobag, Matotonan dan Saliguma, Kabupaten Kepulauan Mentawai, padam lantaran anggaran dari Pemda Mentawai belum cair.

Rafael (40) warga di Desa Madobag lampu padam sejak Sabtu (17/7) membuat masyarakat kecewa karena PLTBM ini padam bukan pertama kalinya. "Lampu padam sejak Sabtu(17/7) sebelumnya hidup seperti biasa, hidup pukul 17.00 WIB sampai 24.00 WIB namun ada info lampu dipadamkan sementara karena anggaran dari Pemerintah Mentawai belum cair maka semua aktivitas PLTBM off sementara, kami tidak mengerti sebenarnya mengapa anggaran PLTBM tidak cair cepat," kata Rafael kepada Mentawaikita.com, Sabtu,(17/7/2021).

Lanjut Rafael, informasi yang didapat dari pengurus PLTBM, listrik ini tidak beroperasi karena biaya operasional pembangkit tidak ada. PLTBM akan beroperasi kembali sampai  anggaran dari Pemda Mentawai cair.

"Saat ini masyarakat kembali menggunakan lampu teplok yang terbuat dari kaleng dan harus membeli minyak tanah, ada juga masyarakat menggunakan penerangan dengan aki, dan sebagian menggunakan senter biasa, sebenarnya kami sudah tidak biasa lagi gelap karena saat lampu padam banyak sekali yang dipersiapkan mulai dari mencari kaleng untuk lampu membeli minyak tanah, padahal tidak semuanya ada uang," kata Rafael.

Rafael juga menambahkan saat ini aktivitas pertukangan dan membuat perabot juga sudah terkendala dan tidak bisa bekerja seperti biasanya. “Kami tidak tahu sampai kapan lampu ini hidup kembali, kalau masyarakat saat ini sudah membeli token, jadi bukan disubsidi Pemda lagi, kami juga mengharapkan lampu PLTBM ini dikembalikan saja kepihak PLN karena sistem meteran yang kami miliki saat ini sudah dalam bentuk prabayar, jadi tak ada lagi subsidi, kami sudah membayar,” ujarnya.

Raimundus (39) salah satu tukang perabot di Madobag Raimundus mengatakan, sejak lampu padam pekerjaannya membuat perabot seperti lemari, meja dan lainnya terganggu saat ini tidak bisa bekerja lagi, kalau pun ada minyak bensin menggunakan mesin genset, kalau hidup dari jam 20.00-22.00 WIB menghabis 2 liter bensin dengan biaya Rp20 ribu, kalau membeli 2 liter apa lagi kerja sampai 24.00 WIB biayanya lebih banyak lagi.

"Kalau kami menggunakan mesin genset pekerjaan kami tidak maksimal karena bekerja semampu minyak dan uang saja, kalau hidup lampu itu sudah lumayan membantu kami dan bobot kerja pun sedikit terbantu, kalau genset masih membuat membuat pintu lemari minyak sudah habis, dan cukup menghabiskan waktu dan biaya," kata Raimundus 

Lanjut Raimundus, ada informasi bagi gaji mereka (petugas PLTBM) belum dibayarkan oleh Perusda atau Pemda Mentawai,namun dirinya tidak tahu soal itu. “Kami hanya tahu membeli token dan lampu hidup, emangnya token yang kami beli itu anggarannya dikemanakan kami sudah membayar kok lampu dimatikan ini menurut saya sangat tidak masuk akal, kalau tidak mampu serahkan saja ke pihak PLN supaya ditangani serius,” katanya. 

Direktur Perusahaan Daerah(Perusda)Kemakmuran Mentawai Kamser Sitanggang saat dihubungi melalui pesan WA mengatakan, lampu mati akibat pasokan solar terganggu. “Namun saat ini sudah tersedia. Sedangkan untuk anggaran Pemda masih dalam proses, tapi dalam 2 hari ini akan hidup kembali,” katanya.


BACA JUGA