Kasus Covid-19 Meningkat di Sikabaluan, Desa Rehab Ruang Karantina Pelabuhan

Kasus Covid19 Meningkat di Sikabaluan Desa Rehab Ruang Karantina Pelabuhan Tempat karantina/isolasi pasien Covid-19 di Pelabuhan Pokai, Siberut Utara, Mentawai. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Kasus Covid-19 terus meningkat di Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara sebulan terakhir. Keterbatasan tempat karantina di Puskesmas Sikabaluan membuat Pemerintah Desa Muara Sikabaluan mengambil langkah untuk menyiapkan tempat karantina bagi warga bila pilihan pasien yang terpapar Covid-19 di karantina pihak kesehatan.

Salah satunya memanfaatkan tempat karantina yang ada di Pelabuhan Pokai. Lokasi yang sebelumnya sudah disiapkan Dinas Perhubungan Mentawai yakni gudang yang disupal menjadi tempat isolasi diberi sekat menjadi enam ruangan dan dilengkapi tempat tidur dan dua.

"Setelah kita adakan rapat bersama antara pihak puskesmas, kepolisian, koramil dan kecamatan maka perlu mempersiapkan tempat karantina. Pilihannya ada di tempat karantina di Pelabuhan Pokai," kata Kepala Desa Muara Sikabaluan, Aprijon pada Mentawaikita.com, Senin (19/7/2021).

Karena melihat kondisi karantina di Pelabuhan Pokai yang sudah banyak bocor meski belum dipakai sejak dibangun 2020, pemerintah desa mengajak sejumlah pihak untuk melakukan gotong-royong bersama dalam melakukan perbaikan atap, membersihkan ruangan dan halaman.

Kepala Puskesmas Sikabaluan, Kristiani dalam rapat koordinasi bersama mengatakan saat ini kasus positif covid-19 di wilayah kerja Puskesmas Sikabaluan terus mengalami peningkatan, namun karena terkendala ruang karantina di Puskesmas Sikabaluan beberapa pasien yang terpapar hanya menjalani isolasi mandiri.

"Ruangan yang ada hanya lima, sementara setiap kasus yang terjadi berdasarkan laporan Unand Padang melalui Dinas Kesehatan Mentawai 6-9 kasus. Maka pilihannya adalag isolasi mandiri", jelasnya.

Untuk isolasi mandiri, dikatakan Kristiani tidak begitu efektif karena pasien yang terpapar karena kurang kontrol kerap berkeliaran ditengah masyarakat dan melakukan kontak erat. Kontak erat pasien yang terpapar tidak memiliki kesadaran diri untuk mengikuti swab sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

"Perlu adanya kerjasama semua pihak agar pencegahan dan penanganan kasus covid-19 tidak bertambah dan berhenti di Siberut Utara," katanya.

 

BACA JUGA