Komunitas Adat Mentawai Belajar Jadi Video Kreator untuk Kabarkan Masalah Lingkungan dan Masyarakat

Komunitas Adat Mentawai Belajar Jadi Video Kreator untuk Kabarkan Masalah Lingkungan dan Masyarakat Aidil Ichlas, trainer pelatihan sedang memberikan materi kepada peserta. (Foto: Silvi/Mentawaikita.com)

SIBERUT--Baju Sulaiman basah, dia baru turun dari pompong (perahu kayu bermesin kecil) yang mengantarnya dari Desa Matotonan, desa di pedalaman Siberut Selatan menuju ibu kecamatan si Muara Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.

Pompong menjadi alat transportasi utama warga pedalaman Mentawai di hulu Sarereiket seperti Matotonan dan Madobag karena tidak ada jalan beraspal. Dari kampungnya, Sulaiman harus menyusuri sungai Sarereiket selama lima jam.

Sulaiman merupakan salah satu dari 12 peserta pelatihan pembuatan video untuk masyarakat adat Mentawai yang diselenggarakan oleh Yayasan Citra Mandiri Mentawai dengan dukungan  Internews melalui Proyek Earth Journalist Network (EJN) di Asia Pasifik.

Pelatihan membuat video ini diselenggarakan pada 26-28 Mei 2021 di Sanggar Uma Jaraik Sikerei di Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, tak jauh dari ibu kecamatan. Sulaiman datang sehari lebih cepat dari jadwal pelaksanaan agar tidak terlambat mengikuti jadwal kegiatan.

Pada hari yang sama Roberto Siritoitet, Martinus Marisaen, Martinus Neko Kunen dan Lian Rizal, para pemuda Mentawai dari Desa Madobag juga tiba di Muntei.

Selain mereka menyusul Kosnadi Samaura, Ahmadi Sadodolu, Klemen Ika Tasiripoula dan Norbertus Orly dari Dusun Salappak, Desa Muntei berada di hulu Sungai Silaoinan. Klementina menjadi satu satunya peserta perempuan dalam pelatihan tersebut.

Akses jalan darat yang minim membuat keempat anak muda dari Salappak ini harus berkendara sepeda motor selama tiga jam dengan kondisi jalan tanah timbunan yang licin karena habis diguyur hujan.

Pelatihan pembuatan video ini merupakan pelatihan kedua dari lima seri pelatihan yang  akan digelar, tidak hanya untuk komunitas adat namun juga satu seri pelatihan khusus untuk perempuan adat.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberi keterampilan teknis pembuatan film dokumenter dan mengasah kepekaan masyarakat adat terhadap persoalan-persoalan lingkungan yang sering dihadapi oleh Orang Mentawai terutama dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan pelaksanaan kearifan lokal yang mereka miliki.

Dari sisi teknis, peserta pelatihan dilatih cara pengambilan gambar yang benar, teknik wawancara dengan nara sumber dan teknik editing film yang bagus sehingga menghasilkan film yang berkualitas dan enak ditonton oleh banyak orang. Selain dalam bentuk pemberian teori, pelatihan juga diikuti dengan praktik lapangan.

Sementara dari sisi kepekaan, peserta diberi pelatihan untuk mengindenfikasi seluruh isu-isu atau persoalan lingkungan yang sering dihadapi oleh Orang Mentawai sendiri. Cara yang dilakukan yakni peserta diajak menuangkan ide terkait persoalan lingkungan yang kemudian dituangkan dalam bentuk skrip film yang akan dikerjakan di kampungnya masing-masing.

Menurut Projek Manager Training For Mentawai Community Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Yuafriza, isu lingkungan yang paling mencolok di daerah Siberut selain banjir dan kerusakan sumber daya alam akibat eksploitasi perusahaan, adalah perjuangan masyarakat adat mendapatkan pengakuan atas wilayah adatnya. Isu ini penting sebab sumber kehidupan Orang Mentawai terutama di Siberut sangat tergantung dengan tanah adat yang dimiliki.

Selagi status kepemilikan wilayah adat tersebut belum diakui oleh negara melalui regulasi yang ada maka selama itu juga hak kepemilikan masyarakat adat di Mentawai akan rentan dari berbagai izin eksploitasi yang kebanyakan bersumber dari pemerintah pusat Indonesia (Jakarta). Hal ini menyebabkan wilayah hidup dan kelola warga Mentawai makin menyempit. Hutan dan lahan yang ada di Mentawai sebagian besar berstatus hutan negara dan sebagian besar sudah terbebani izin.

“Mereka diharapkan menjadi jurnalis warga yang aktif mengabarkan tentang daerahnya terutama isu lingkungan,” kata Yuafriza yang lebih akrab dipanggil Ocha.

Di daerah Matotonan asal Sulaiman, persoalan yang sering dihadapi warga adalah banjir. Setiap hujan deras, daerah ini tidak luput dari bencana ekologis ini meski berada di bagian hulu sungai Sarereiket.

Selain banjir, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) dari bambu juga turut menjadi perhatian bagi Sulaiman. Di satu sisi, keberadaan PLTBm dengan energi terbarukan ramah lingkungan, namun di sisi lain, dia mengkhawatirkan jika PLTBm beroperasi secara total dengan menggunakan bambu maka akan terjadi alih fungsi lahan yang sebelumnya sebagai tempat pertanian warga untuk sumber pangan dan ekonomi akan tergantikan dengan tanaman  bambu.

Sulaiman yang saat ini sudah memproduksi beberapa konten video untuk kanal Youtube miliknya sendiri merasa pelatihan film dokumenter ini sangat membantu dirinya membuat konten video yang lebih berkualitas. Sulaiman hobi membuat video di kampungnya namun belum terkonsep sehingga pesan yang disampaikan tidak jelas.

Dengan pelajaran yang didapatkan selama tiga hari pelatihan, Sulaiman berencana akan mengangkat potensi keuntungan sekaligus ancaman dari keberadaan PLTBm di kampungnya. Tujuannya mengajak orang untuk sama-sama mengontrol pelaksanaan pembangunan agar tidak membawa kerugian baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi bagi warga.

Berbeda dengan Sulaiman, rekan peserta lain dari Salappak, Kosnadi Samaurau berencana mengangkat kesulitan perekonomian masyarakat di kampungnya. Menurutnya persoalan yang dialami masyarakat Salappak adalah sulitnya akses ke pusat ekonomi sehingga mereka mengalami hambatan mengangkut hasil bumi.

Tema kesulitan ekonomi  menurut Kosnadi menjadi topik penting konten video yang akan diproduksinya karena hal itu menjadi isu lama yang belum terselesaikan hingga sekarang karena problem akses dan minimnya infrastruktur.

Selain persoalan ekonomi, topik lain yang mau diangkat Kosnadi soal banjir yang selalu melanda kampungnya saat musim penghujan. “Persoalan banjir sampai saat ini tak terselesaikan sehingga dampaknya warga selalu mengalami kerugian karena perladangan yang menjadi tumpuan ekonomi dan sumber pangan mereka ikut rusak karena,” katanya.

Pengalaman yang sama dirasakan Teofilus Samemek, peserta pelatihan dari Muntei. Teo yang merupakan seorang Youtuber dengan 72,9 ribu subcribers ini. Dia mengaku mendapat banyak pengetahuan teknis terutama cara pengambilan gambar dan pencahayaan.

“Saya sudah banyak memproduksi video, ada banyak kekurangan terutama lighting (pencahayaan), ada banyak video saya yang hasilnya yang saya tidak puas, dengan pelatihan ini membuat saya termotivasi kembali,” katanya.

Sementara Aidil Ichlas yang menjadi trainer pelatihan mengatakan, selain memberi pengetahuan teknis tentang video jurnalistik dan dokumenter, teknis pengambilan gambar hingga editing, para peserta juga dilatih kepekaannya agar memiliki empati terhadap persoalan-persoalan yang dialami masyarakat adat dan persoalan kerusakan lingkungan.

“Karena para peserta ini akan menjadi jurnalis warga yang akan mengabarkan kondisi lingkungan di sekitar mereka maka kita coba menggali empati atau kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar sehingga konten yang mereka produksi memiliki perspektif lingkungan dan memiliki sisi humanis,” kata Aidil yang bekerja untuk Beritasatu TV ini.

Aidil mengapresiasi semangat peserta karena datang jauh-jauh dari berbagai pelosok Siberut untuk mengikuti pelatihan meskipun beberapa orang masih memiliki perangkat kamera video yang sederhana. “Mereka antusias meski ada perangkatnya yang sederhana, mereka semua tetap semangat karena mungkin ilmu ini baru bagi mereka,” katanya menambahkan.


BACA JUGA