Badai Terjang Mentawai Nelayan Tak Berani Melaut 

Badai Terjang Mentawai Nelayan Tak Berani Melaut  Kapal nelyana bersandar di pelabuhan perikanan wilayah III Sikakap. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP- Badai yang menerjang pesisir pantai Sumatera Barat juga berdampak pada perairan Kepulauan Mentawai, sekitar 40 knot per jam diikuti tinggi gelombang air laut mencapai 5 meter membuat nelayan tidak bisa melaut.

Nelayan pukat cincin asal Sibolga, Pesta Hutagalung (38) mengatakan dari pengukuran di kapal  kecepatan angin di perairan Mentawai mencapai 40 knot per jam, sementara tinggi gelombang mencapai 5 meter.

Akibat angin kencang dan gelombang besar tidak bisa mencari ikan, kalau dipaksakan bertahan di tengah laut melihat kencangnya angin dan tingginya gelombang kapal bisa pecah atau terbenam dibuatnya. "Untuk keamanan dan keselamatan kami berlindung dulu di pelabuhan perikanan wilayah III Sikakap, sekarang sudah jalan satu Minggu, perkiraan angin kencang dan ombak besar sekitar satu minggu lagi, saya memiliki istri dan satu anak di Sibolga," katanya, Minggu (4/4/2021)

Syahbandar Pelabuhan Perikanan Wilayah III Sikakap, Basra mengatakan, kapal nelayan asal Jakarta, Sibolga, Pesisir Selatan, dan Padang berlindung di pelabuhan perikanan wilayah III Sikakap. “Mereka sudah satu minggu di Sikakap, sesuai perkiraan ombak besar dan angin kencang ini berakhir hari Jumat (9/4) tapi itu perkiraan, bisa jadi nanti bisa kurang atau lebih,” ungkapnya.

Kapal pukat cincin yang bersandar di pelabuhan perikanan wilayah III Sikakap sebanyak 11 kapal, kapal Bagan 2, belum lagi kapal tunda asal pesisir Selatan dan Padang. 

Sementara Awaludin (52), nelayan tradisional Sikakap menuturkan saat badai dan ombak besar yang bisa dilakukan sekarang memperbaiki alat-alat tangkap seperti menyulam jaring yang robek, memperbaiki perahu.

"Untuk satu kali melaut membutuhkan modal Rp70 ribu sampai Rp100 ribu, uang tersebut untuk beli bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin boat dan mesin lampu, beli batu es untuk mendinginkan ikan, sudah satu Minggu ini saya tidak pergi ke laut karena badai dan ombak besar, sekarang ini kalau ada kawan yang mengajak kerja di darat seperti bertukang saya ikut bertukang. "Semoga saja badai dan ombak besar ini cepat berlalu, sehingga saya dapat kembali melaut,"katanya.

Hasil pantauan Mentawaikita.com di lapangkan Minggu (4/4) sekitar pukul 09.00 WIB gelombang air masuk ke jalan di depan Pastoran Sikakap, Dusun Sikakap Timur, Desa Sikakap akibat hantaman gelombang banyak kerikil di tepi pantai masuk ke jalan. 


BACA JUGA