Sengketa Tanah Antara Ojak dan Zebua Berakhir Ricuh

Sengketa Tanah Antara Ojak dan Zebua Berakhir Ricuh Pagar beton yang dibangun Aninurani Zebua di samping kanan rumah Ojak Hamonangan yang memicu ricuh antar kedua belah pihak. (Foto : Hendrikus/MentawaiKita)

MUARA SIBERUT—Sengketa tanah antara Ojak Hamonangan (51) dengan Aninurani Zebua (51) warga Desa Muara Siberut, Kecamatan Siberut Selatan berakhir ricuh pada Selasa (16/3/2021). Tanah dipersengketakan merupakan tanah milik Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) Resort Muara Siberut yang berada di Dusun Peigu, Desa Muara Siberut Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kepada Mentawaikita.com, Ojak Hamonangan menceritakan, sengketa dipicu saat Aninurani Zebua membuat pagar tembok pemisah antara rumah Zebua dan milik Ojak pada awal tahun 2021. Saat akan memulai pembangunan Ojak beserta keluarganya keberatan sebab tanah yang ditempati oleh Zebua termasuk pembangunan pagar beton itu adalah tanah milik GKPM Resort Muara Siberut.

Selain itu, pembangunan pagar di samping dan depan rumah Ojak Hamonangan seolah-olah menunjukkan bahwa tanah GKPM itu dikuasai oleh Zebua.

“Saat itu saya katakan sama Zebua, Bapak ingin usaha lama, dan hidup lama, dan saya ingin hidup damai, belilah rumah saya ini tahun 2021 ini tawaran, namun ia menjawab saya tidak mau beli tanah di tanah sendiri, dan terjadi perang mulut dan saya melawan dia, dia mengancam saya akan diproses di pengadilan,” kata Ojak Hamonangan, warga Muara Siberut kepada MentawaiKita.com, Kamis (25/3/2021).

Sebelum bentrok keduanya terjadi pada Selasa (16/3/2021), rentetan perdebatan antara kedua belah pihak telah terjadi. Pada saat pertengkaran pertama terjadi, Aninurani Zebua pada 23 Februari 2021 menyuruh adiknya yakni Elifati Zebua mendatangi Ojak Hamongan dengan tujuan melakukan mediasi antara dirinya dengan Aninurani karena merasa khawatir persoalan itu melebar. Saat itu, kata Ojak, Elifati yang sering dipanggil Keli meminta kedua belah pihak duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan secara damai. Ia meminta persoalan antara mereka tidak sampai diketahui oleh pengurus gereja terkait surat tanah.

Selain Keli, Amati Telaumbanua juga datang melakukan mediasi sebagai perwakilan dari perkumpulan Nias dan keluarga. Saat itu Ojak menyampaikan kepada Amati, jika Zebua mau membangun tembok buatlah dengan lurus.

Namun pada Selasa (16/3/2021) sekira pukul 11.30 WIB cekcok terulang yang nyaris bentrok fisik antara kedua belah pihak.

Persoalan tembok yang dibangun oleh Aninurani Zebua di depan rumah Ojak Hamonangan ternyata belum selesai. Ojak Hamongan beserta keluarganya merusak tembok itu sebab posisi tembok pemisah itu tidak sesuai dengan keinginan mereka. 

Perusakan tembok tersebut tidak diterima oleh Aninurani Zebua dan mengancam pelaku akan ditembaknya. 

“Kutembak kalian! Sambil menuju rumah, setelah keluar ia angkat parang sambil keluar mau mengejar kami, namun dia diambil anggotanya, juga ada masyarakat waktu itu,” kata Ojak Hamongan.

Ojak mengatakan, dirinya juga dihina Aninurani Zebua dengan mengatakan percuma anak pendeta tidak tahu malu dan menyebut GKPM mencuri tanah milik Zebua. 

“Ia juga menghina saya percuma anak pendeta tidak punya malu, oi..GKPM mencuri tanah saya. dimana tanahnya yang kucuri, saya selaku sekretaris GKPM tidak terima peryataan Zebua, menyebut nama nama GKPM, saya sangat tidak terima,” ujarnya.

Ojak Hamonangan menyebutkan, persoalan itu sudah ia sampaikan ke Polsek Muara Siberut pada Rabu (24/3/3021).

Menurut cerita Ojak Hamongan,  persoalan sengketa tanah GKPM Muara Siberut telah dimulai sekitar 2000-an. Saat itu Zebua diizinkan mendirikan gudang manau sambil berjualan dengan status pemakaian sementara oleh Pemimpin Resor Muara Siberut kala itu dijabat Pendeta Binsar Parlindungan Sababalat.

Sementara tak jauh dari gudang yang dibangun oleh Zebua yang berada di tepi sungai berdiri rumah Elvis. Karena terlibat cekcok dengan Aninurani Zebua, Elvis pun pindah, atas permintaan Ojak rumah yang dulu ditempati Elvis diberikan kepada Ojak Hamonangan. 

“Kemudian saya bersama keluarga, meminta gudang Elvis ini beratap plastik, memohon digunakan tempat sebagai tempat usaha, dan saaat itu ia memberi secara hibah, karena hubungan kami pasaulu (abang ipar) maka tinggallah saya membuat usaha di sana," ujar Ojak.

Karena ada pembangunan gereja, atas inisiatif bajak (penatua) gereja mereka meminta uang sewa kepada bagi siapa saja yang memakai tanah gereja. 

“Saya dan Zebua membayar sewa tanah itu, waktu itu saya bayar Rp25 ribu per bulan,” katanya.

Namun di tengah perjalanan terjadi penjualan tanah gereja yang sudah memiliki surat jual beli tanah yang dilakukan almarhum Eli Akim yang mengaku sebagai pemilik tanah dengan Aninurani Zebua. 

"Pada saat pengukuran tanah, semua bajak gereja singgah di pondok saya waktu itu karena jualan di sana, kami bertanya kepada si penjual (alm Eli Akim) kenapa dijual tanah, jawab Eli Akim waktu itu ‘saya butuh makan, minum, itu tanah gereja, kata alm Pak Eli Ekim saya tidak mau menjual perumahanmu dek, karena itu air’, dan saya jawab itu tanah gereja. Bagaimana pun tanah gereja nanti kita kena, maka alm Pak Eli Akim jawab, ‘saya tidak mau jual lokasimu dek karena itu sudah air," kata Ojak mengulangi kata-kata almarhum Eli Akim saat itu.

Mulai saat itu Ojak dan Aninurani Zebua tinggal bersama di tanah gereja, selama itu tak pernah timbul masalah. Sekitar tahun 2015, Aninurani membangun rumah di lokasi itu seiring usaha dagangnya yang mulai meningkat.

Aninurani Zebua, kata Ojak Hamonangan tidak pernah menyebutkan bahwa tanah di tepi sungai yang ditempati Ojak telah dibelinya melalui alm Eli Akim. Menurut Ojak tanah itu masih tanah milik GKPM Muara Siberut yang berbatasan langsung di sebelah utara dengan tanah milik Paroki Muara Siberut.

Sementara menurut cerita versi Aninurani Zebua, tanah yang ditempatinya berasal dari Sibakkat Laggai (pemilik tanah) yakni Eli Akim (alm). Waktu itu telah ada kesepakatan antara dirinya, GKPM Muara Siberut dan Eli Akim pada tahun 2004. Saat itu ada rapat majelis Resort GKPM Muara Siberut dan diputuskan dalam rapat majelis bahwa GKPM harus membayar Rp6 juta kepada Eli Akim (alm) sehingga tanah kembali seluruhnya kepada GKPM.

Namun yang mampu yang dibayar GKPM saat itu hanya Rp3 juta, sementara sisa tanah yang tidak terbeli kata Aninurani diberikan hak kepada Eli Akim untuk menjualnya.

“Karena Eli Akim menuntut saya untuk membeli membayar Rp3 juta itu maka saya beli tanah itu hanya seluas 30 meter saja, saya sudah tinggal di tanah itu sejak status masih tanah GKPM sejak tahun 2001 sampai sekarang, tahun 2001 tanah masih milik GKPM, setelah diadakan pembicaraan dengan GKPM, dan pemilik tanah Eli Akim (alm) waktu itu dibatasi antara tanah milik GKPM dan tanah milik saya yang sudah dijual, hadir waktu itu tokoh masyarakat untuk memberikan batas, dan pemilik tanah berhak menjual tanah, sebab tanah GKPM sebagian  yang dijual Eli Akim itu sudah dibebaskan sepenuhnya, maka tanah itu sudah saya beli secara legal hukum sah saya punya tanah, jadi yang menyebut tanah saya Ojak Hamonangan anak mantan pendeta," kata Aninurani Zebua.

Batas tanah menurut versi Aninurani Zebua yakni tanah milik Paroki Muara Siberut, GKPM Muara Siberut, tanah milik Ali Aro dan sungai. Pihak yang menandatangani perbatasan tanah dari pihak GKPM yakni Paneinei Paamian (Penatua Gereja) Stefanus, dari Paroki Muara Siberut diwakili oleh Marjuni.

Menurut Aninurani, sebelum kejadian bentrok kedua belah pihak, dirinya punya keinginan memberikan tanah yang dipakai oleh Ojak Hamonangan secara cuma-cuma.

“Eh tiba-tiba dia menyerang saya, karena perumahan Ojak itu tanah saya, namun dia mengklaim itu tanah GKPM, dengan alasan karena dia orang GKPM, dan anak pendeta itu alasannya tinggal di situ,” kata Aninurani Zebua.

Sebelumnya ia pernah meminta melakukan mediasi untuk menyelesaikan persoalan itu. Awalnya Aninurani melalui mertua Ojak meminta mediasi. Kemudian dilanjutkan dengan meminta adiknya Elifati Zebua, Amati Telaumbanua dan Pendeta Hasan Saguntung.

“Sudah saya sampaikan (niat), dan saya suruh tokoh gereja, namun ia tidak mengindahkan, alasannya tetap tanah gereja, saat keributan juga mereka juga satu keluarga sangat brutal, dan videonya mereka sebarkan ke media sosial, benar sebulan lalu kami ada cekcok dengan Ojak," kata Zebua.

Zebua mengakui bahwa sebelum tanah itu menjadi hak miliknya, tanah itu dimiliki oleh GKPM Muara Siberut sebab dirinya dulu jemaat GKPM sehingga mengetahui persoalan tanah itu.

“Dan dulunya sebelum jadi tanah saya tanah ini saya sewa dalam setahun membayar Rp600 ribu, sebenarnya bukan sewa namun saya serahkan secara cuma-cuma, namun setelah tanah ini diklaim oleh Eli Akim ya wajib saya beli, dulu tanah ini tidak diperhitungkan karena lokasinya rawa,” jelas Zebua.

Pemimpin GKPM Resort Muara Siberut, Hasan Saguntung mengatakan, tanah milik GKPM diperoleh pada tahun 1955 dari keluarga Abel Sabulat. Abel Sabulat dan keluarganya sebagai pemilik tanah menyerahkan tanah seluas 2 hektar kepada GKPM Muara Siberut. Tanah itu kemudian dihargai oleh GKPM sebanyak Rp1.200. 

Perbatasan tanah itu berupa sebelah Barat dengan bukit, sebelah Selatan daerah Sakkelo, sebelah Timur berupa sungai dan tanah Zebua dan sebelah Utara berbatas dengan tanah milik Paroki Muara Siberut. 

"Tahun 2000-an masalah ada namanya Eli Akim (alm) menjual kepada Pak Zebua, lucunya Pak Zebua mengatakan ke saya hanya memakai, bukan diambil, waktu itu GKPM meminta uang sewa, kepada yang tinggal, tanah ini yang dikelola resort GKPM Muara Siberut, Eli Akim (Alm) datang menjual kepada Zebua, sudah tahu itu tanah GKPM kok dibeli, surat tanah pembelian ada, waktu itu yang dijual Eli Ekim dari pengakuan Zebua seluas 20x30 meter, yang menjual tanah itu Eli Akim bukan GKPM, gereja GKPM tidak pernah menjual tanah namun, ada oknum atas nama Eli Akim yang menjual tanah GKPM waktu itu," kata Pendeta Hassan saguntung.

Pendeta Hasan Saguntung mengatakan, Aninurani Zebua awalnya hanya menumpang di tanah milik GKPM, dulunya rumahnya itu di tepi sungai dengan status tanah gereja. 

“Waktu itu minta dikasih tempat kita tetap kasih tempat untuk mereka tinggal namun tidak menjadi hak milik, kalau pun gereja yang menjual ngak masalah ini ada oknum yang menjual,” katanya.

Hasan Saguntung menyesalkan kejadian tersebut, ia menyebutkan tidak masalah tanah tersebut dipakai Zebua namun tidak boleh menjadi hak milik.

“Apa salahnya Pak Zebua pakailah tempat itu, tinggal boleh, tapi jangan miliki, karena kita masih ada kasih, makanya kita tidak terlalu permasalahkan ini namun tanah itu jangan jadi hak milik, itu saja. Sebab sejak awal ke Mentawai Pak Zebua bergereja di GKPM sebelum ia mempunyai Gereja BNKP, jadi ia jemaat GKPM dulu,” ucap Hasan.

Dengan tegas Hasan mengatakan bahwa sebagai pemimpin GKPM Resort Muara Siberut tidak mengakui jual beli tanah yang dilakukan antara Eli Akim dengan Aninurani Zebua.

“Walaupun ada jual beli tanah yang dilakukan Eli Akim kami tidak mengakui itu, karena kami masih mengakui itu tanah GKPM karena ada salinan surat lama ada, dan diakui,” ujarnya.


BACA JUGA