Nasib Nelayan Keramba Jaring Apung, Diberi Bantuan Tapi Tak Ada Penampung Ikan

Nasib Nelayan Keramba Jaring Apung Diberi Bantuan Tapi Tak Ada Penampung Ikan Keramba jaring apung di Sikakap. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP—Nelayan keramba jaring apung di Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai meninggalkan aktivitasnya membudidayakan kerapu karena dinilai tak lagi menguntungkan sejak kapal ikan dari Hongkong tidak lagi datang membeli ikan nelayan.

Bahkan ada nelayan keramba apung yang terpaksa harus mematikan ikan kerapu hasil budidayanya untuk dijual karena tidak sanggup lagi memberi pakan.

Para nelayan keramba jaring apung Mentawai terutama di Pagai Utara Selatan sempat mengalami masa keemasan, saat kapal ikan asing berbendera Hongkong rutin datang ke Sikakap untuk membeli ikan kerapu hidup hasil budidaya nelayan.

Zaidir (66), salah seorang nelayan keramba apung di Sikakap mengatakan, kapal ikan asal Hongkong berani membeli ikan kerapu cantang seberat 6 ons Rp125 ribu per kilogram, sementara berat 1 1/2 kilogram perekor di beli dengan harga Rp90 ribu per kilogram.

Karena harga yang bagus dari pembeli, Zaidir berani membeli bibit ikan dengan harga Rp1.200 per cm untuk ikan kerapu cantang, bibit dibeli ukuran 7 cm, dipelihara 8 bulan ikan kerapu cantang sudah mencapai berat 8 ons sampai 1 kilogram tergantung pemeliharaan.

Namun pada 2016, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 32 tahun 2016 tentang Kapal Pengangkut Ikan Hidup yang membatasi kapal ikan asing memuat ikan hidup hanya di satu pelabuhan muat singgah di Indonesia. Aturan ini menyebabkan tak ada lagi kapal asing berbendera Hongkong yang datang membeli ikan kerapu hidup hasil budidaya nelayan keramba di Sikakap, Mentawai.

Sejak itu, kapal ikan asal Hongkong tak pernah lagi datang ke Sikakap. Ratusan nelayan keramba merasakan dampaknya karena tidak memiliki pasar untuk melempar hasil budidaya kerambanya.

"Sejak ada larangan dari Menteri KKP Susi Pudjiastuti saat itu, sejak itulah nelayan keramba jaring apung di Pagai Utara Selatan (PUS) kesulitan menjual ikannya," kata Zaidir.

Padahal saat itu, pemerintah menyalurkan bantuan keramba dan ribuan bibit kerapu cantrang kepada ratusan nelayan keramba jaring apung di Pagai Utara dan Selatan.

Zaidir mengaku mendapatkan bantuan satu paket keramba yang terdiri dari empat lubang dan bibit kerapu cantrang sebanyak 1.000 ekor pada 2016.  Namun bibitnya banyak yang mati sehingga yang tersisa hanya 400 ekor saja.

“Setelah dipelihara sekitar dua tahun datanglah pembeli dari Padang dengan harga kerapu cantang Rp50 ribu per kilogram, karena tidak ada pembeli lain terpaksa harus dijual juga sebab kerapu cantang peliharaan saya sudah beratnya di atas 5 kilogram per ekor,” katanya.

Zaidir terpaksa menjual murah ikannya karena biaya pemeliharaan yang tinggi. Pakan 28 ekor kerapu cantang beratnya 50 kilogram sekali makan atau dikalkulasikan menghabiskan Rp250 ribu. “Ikan kerapu di atas berat 1 kg pakannya tidak lagi pelet tapi ikan yang dicincang, waktu itu harga ikan busuk seperti ikan Ambu-Ambu dibeli di kapal pukat cincin dengan harga Rp5.000 per kg itu kalau ikan lagi banjir, tapi kalau tidak musim ikan, pakan terpaksa saya beli dengan harga Rp10 ribu per kg.

Karena tingginya biaya pakan dan tidak ada pembeli ikan hidup, Zaidir terpaksa menjual murah ikannya Rp35 ribu per kg. "Menurut saya gagalnya budidaya ikan kerapu di Pagai Utara Selatan (PUS) tidak sepenuhnya akibat kelalaian nelayan keramba jaring apung, tapi ada juga pengaruh tidak adanya penampung ikan kerapu hidup membuat nelayan tak serius budidaya, saya sekarang masih budidaya udang lobster, meski harganya naik turun namun ada penampung,” katanya.

Kamal, anggota Kelompok Nelayan Jaring Apung Eruk Baga di Sikakap, mengatakan meski ada bantuan keramba namun jika tak ada penampung, nelayan akan sulit menjual ikannya, jika dijual murah tidak sebanding dengan biaya pakan yang sudah dikeluarkan.

"Tahun 2016, Kelompok Eruk Baga mendapatkan bantuan keramba jaring apung dan bibit kerapu cantang dan tikus banyaknya sekitar 6.000 ekor, sekitar tahun 2018 atau tahun 2019 masuklah pembeli ikan kerapu hidup dari Padang, membeli dengan harga sangat rendah sekali kalau dibandingkan dengan kapal dari Hongkong, ikan kerapu cantang dibeli Rp50 ribu per kg, sementara kerapu macan atau bebek Rp 80 ribu per kg.

Dia berharap pemerintah sebelum memberikan bantuan kepada nelayan keramba terlebih dahulu menjamin ada penampung ikan hasil budidaya. “Bagaimana kami akan membeli bibit sementara modal untuk membeli bibit dari hasil jual ikan kerapu kemaren sudah habis menutupi beli pakan, setiap ada pertemuan, masalah ini yang selalu dikeluhkan nelayan,” katanya.

Sementara Nirhan, Ketua Kelompok Keramba Jaring Apung Maju Bersama, mengakui nelayan keramba jaring apung telah gagal membudidayakan ikan kerapu. Namun kegagalan itu tak sepenuhnya salah nelayan.

“Bagaimana kami serius dalam menjalankan budidaya sementara tidak ada penampung ikan hasil budidaya nelayan keramba jaring apung, adapun penampung tapi harganya rendah sekali,” katanya.

Menurut Nirhan, jumlah anggota Kelompok Nelayan Keramba Jaring Apung Maju bersama jumlahnya 10 orang, bantuan yang diterima keramba jaring apung 8 lubang, bibit kerapu cantang dan kerapu macan banyaknya sekitar 6.000 ekor, selain itu juga ada bantuan kompresor untuk semprot jaring dan pakan ikan.

Sekarang keramba milik KNJA Maju digunakan untuk budidaya udang lobster yang dikelola oleh salah seorang anggota kelompok sementara Nirhan sendiri membuka usaha bengkel sepeda motor.

BACA JUGA