Warga Tuapeijat Mulai Kesulitan Air, PDAM Tak Kunjung Rampung

Warga Tuapeijat Mulai Kesulitan Air PDAM Tak Kunjung Rampung Penyuplai air bersih ke permukiman warga. (Foto: Patris/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT-Kemarau yang sudah terjadi hampir tiga minggu melanda sebagian wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, dampak kemarau kini mulai dirasakan oleh sebagian masyarakat Tuapeijat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Musim kemarau menjadi hal yang dikhawatirkan warga yang tinggal di pusat ibu kota kabupaten itu karena akan kesulitan mendapatkan air untuk mandi, mencuci. Air sumur masyarakat kini sudah mulai tampak dasar bahkan ada sebagian sumur warga sudah kering disebabkan oleh kemarau.

Pembangunan PDAM pun hingga kini belum rampung di wilayah Kecamatan Sipora Utara. Sebagian memang sudah menikmatinya di beberapa titik saja seperti SP 3, SP 3, sebagian wilayah Mapaddegat, kemudian di Kilometer 8, kilometer 2 dan 3.

Ermita(34) salah satu warga Tuapeijat sudah beberapa kali memesan air ke pihak yang menjual air dengan mobil. “ Karena air sumur sudah kosong, tidak bisa lagi ditampung, kalau seminggu sekitar 2 ton kami pesan,” katanya.

Tak hanya Ermita beberapa warga lain juga harus pergi mencari air di rumah kerabatnya untuk sekedar mandi. Pada 2020 kemarau panjang juga pernah terjadi berlangsung hampir 5 bulan, warga Tuapeijat kesulitan mendapatkan air bersih, sebagian mereka mencari air di Desa Goiso Oinan.

Kesempatan ini  juga dimanfaatkan pemilik jasa angkut air bersih ke rumah warga, harga jual air per ton berkisar mulai Rp65-75 ribu per tonnya. “Untuk yang mesan sudah ada beberapa, itu ada di kilometer 4, kilometer 2 juga ada, hampir tiap hari ada yang pesan air,” kata Dodo seorang penjual air bersih.

Pembangunan reservoir di Kilometer 6 pun kita sudah putus kontrak karena tidak mampu meyakinkan pihak dinas terkait terkait target waktu penyelesaian pekerjaan nya, dimana jika reservoir ini tuntas diperkirakan akan dapat melayani masyarakat dari Kilometer 12 hingga kilometer 1.

“Target kita 2021 sebenarnya sampai di Jati, termasuk SP 1, reservoar tidak tuntas baru bobot 56 persen makanya kita tidak berani perpanjangan atau putus kontrak,” kata Kepala Bidang Kawasan dan Permukiman, DPKP Kabupaten Kepulauan Mentawai, Arjon Pasaribu.

Secara tupoksi kata Arjon untuk kelanjutan pembangunan reservoir di Kilometer 6 atau depan simpang SP. 1 sudah wewenang Dinas PU lagi. “Sejak November 2020, operasional, tugas-tugas selama ini kita kerjakan sudah beralih ke PU karena Permendagri yang mewajibkan tupoksi ini menjadi kewenangan PU, itu persoalannya, kelanjutan eksekusinya di PU lagi kita tidak bisa lagi mencampuri itu kan dilema,” kata Arjon.

Data Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kabupaten Kepulauan Mentawai ada sekira 600 pelanggan PDAM, dan itu pun belum semua teraliri air, namun kata Arjon akses atau jaringan pipa sudah sebagian wilayah dipasang namun belum bisa dialiri air. 

 

BACA JUGA