Pasokan BBM Terbatas, Operasional Kapal LCT Katurei Dibatasi

Pasokan BBM Terbatas Operasional Kapal LCT Katurei Dibatasi Kapal LCT Katurei (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP--Keterbatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) kapal penyeberangan LCT Teluk Katurei yang biasanya melayani penyeberangan di Pulau Pagai Utara ke Pulau Pagai Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai setiap hari, sejak akhir Januari 2021 hanya beroperasi dua kali seminggu yakni Senin dan Rabu.

"Sesuai informasi yang berkembang semua kapal milik Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai dikelola Perusahaan Daerah baik itu kapal antar pulau maupun kapal penyeberangan LCT Teluk Katurei, tapi sampai sekarang kami belum tahu siapa yang mengelola kapal milik Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, kenapa LCT Teluk Katurei hanya beroperasi dua kali dalam seminggu yakni Senin dan Rabu itu disebabkan karena keterbatasan BBM, untuk satu jam perjalanan dua mesin LC Teluk Katurei menghabiskan sekitar 90 liter minyak itu masuk mesin lampu, mesin LCT Teluk Katurei menggunakan BBM jenis solar, untuk satu kali penyeberangan dari Pulau Pagai Utara ke Pulau Pagai Selatan menghabiskan waktu sekitar 45 menit," kata Zulkifli Matondang, Kapten LCT Teluk Katurei, Selasa (16/2/2021).

Zulkifli Matondang menyebutkan, kerena akan dikelola oleh Perusda Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak lagi menganggarkan BBM untuk LCT Teluk Katurei.

"Dalam satu hari LCT Teluk Katurei melayani dua kali pagi dan sore, pagi pukul 6.30 WIB dan sore pukul 17.00 WIB, kalau keadaan kapal tidak ada masalah termasuk Anak Buah Kapal (ABK), kami sebagai ABK LCT Teluk Katurei berharap sekali masalah kepengelolaan kapal milik Pemerintah Mentawai terutama sekali LCT Teluk Katurei ada penjelasannya, supaya masyarakat tidak bertanya-tanya lagi kapan LCT Teluk Katurei normal kembali beroperasi," katanya.

Victor, Camat Kecamatan Sikakap berharap ada kejelasan soal operasional LCT Katurei termasuk pengelolanya. “Kalau memang dikelola oleh Perusda, harus jelas supaya pelayanan penyeberangan masyarakat di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan tidak terkendala,” katanya.

Menurut Victor,tTerkendalanya pelayanan penyeberangan berpengaruh juga terhadap pelajar yang tiap pagi berangkat ke sekolah menggunakan LCT Teluk Katurei, sekarang mereka terpaksa harus naik boat dan membayar Rp2.000 per orang. “Itu dengan risiko tinggi, kalau dibandingkan naik LCT Teluk Katurei,” katanya menambahkan.

Selain pelajar, warga yang menyeberang membawa hasil pertanian ke Pasar Masabuk di Sikakap juga harus menyesuaikan jadwal panen dengan jadwal kapal. "Sesuai informasi kendala LCT Teluk Katurei masalah BBM karena BBM terbatas maka operasi kapal LCT Teluk Katurei hanya dua kali seminggu," tuturnya.

Sementara itu, para pelajar meminta supaya LCT Teluk Katurei kembali rutin melayani penyeberangan di Teluk Sikakap, teluk yang memisahkan pulau Pagai Utara dengan Pulau Pagai Selatan.

Jerli Samungilailai, siswa SMAN 1 PUS, mengatakan saat ini terpaksa harus naik boat bila pergi ke sekolah dan pulang sekolah karena tinggal di Pagai Utara sementara sekolahnya di SMAN 1 PUS yang berlokasi di Pagai Selatan. “Kalau naik boat bayar Rp2.000 tapi kalua naik LCT Katurei bisa gratis,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Marson Tarigan, pelajar SMAN 1 PUS. “Saya tinggal di Dusun Pasibuat, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap, sebelum naik boat saya terpaksa harus berjalan kaki sekitar satu jam baru sampai ke terminal boat, kalau jarak rumah saya dengan pelabuhan Kapal LCT Teluk Katurei berjalan kaki sekitar 30 menit saja,” katanya.

 

BACA JUGA