Bersiasat di Jalan Trans Mentawai

Bersiasat di Jalan Trans Mentawai Buah pisang dari Monganpoula. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Di titik nol jalan penghubung Sikabaluan-Monganpoula Kecamatan Siberut Utara, pada salah satu sisi badan jalan tertumpuk ratusan tanda pisang milik Krisman, salah seorang pengumpul pisang di Dusun Pokai Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara pada Selasa (9/2/2021). Pisang tersebut berasal dari Desa Monganpoula yang dibeli pada petani pisang. "Saya tumpuk disini dulu sebelum dibawa ke pelabuhan", katanya.

Untuk mengirim pisang ke Padang sesuai jadwal KMP. Gambolo pada Selasa setiap minggunya, Krisman mulai membeli dan mengangkut pisang dari Monganpoula ke titik nol jalan penghubung Sikabaluan-Monganpoula pada hari Minggu hingga Selasa siang. "Kalau saya tumpuk di Monganpoula takutnya hujan badan jalan licin karena timbunan badan jalan yang dikasih tanah bukit mirip tanah liat, katanya.

Sehingga, bila hari Selasa saat kapal masuk meski hujan, Krisman tak perlu khawatir karena mobil L300 miliknya bisa lewat membawa pisang yang dia beli dari masyarakat karena sudah berada di jalan yang berbeton dari Sikabaluan hingga ke dermaga Pokai.

Meski bersiasat dengan kondisi jalan, dikatakan Krisman, pembelian dan pengangkutan pisang petani sudah sangat terbantu dibanding tahun sebelumnya yang hanya mengandalkan jalur sungai dan laut dengan biaya operasional yang lebih besar.

"Kalau dulu untuk satu sampan itu kita mengeluarkan biaya pengangkutan dari Monganpoula ke Sikabaluan dengan pompong Rp250 ribu per trip. Tapi sekarang lebih mudah karena dengan beberapa liter minyak mobil sudah bisa menjemput dari Monganpoula hingga dermaga, katanya.

Tak hanya dijalur jalan penghubung Sikabaluan-Monganpoula. Untuk jalur Barambang menuji Monganpoula yang badan jalannya dibuka 2019 dan dilanjutkan 2020 dengan penimbunan badan jalan menggunakan tanah bukit mesti bersiasat juga dengan kondisi badan jalan saat musim hujan dan panas.

"Makanya pada petani saya sudah pesankan agar pisangnya mulai dikumpul di pinggir jalan hari Minggu hingga Selasa pagi karena saya kejarkan membawanya keluar untuk ditumpuk di jalan yang sudah keras sehingga tidak terpengaruh cuaca", katanya.

Bersiasat dengan kondisi jalan trans Mentawai dan jalan penghubung di wilayah Siberut Utara tak hanya dilakukan Krisman. Hal yang sama dilakukan Bulau dan Marzuki warga Dusun Terekanhulu Desa Malancan Kecamatan Siberut Utara.

Untuk ke Pokai atau ke Sikabaluan sebagai pusat kecamatan, Bulau maupun Marzuki harus bersiasat dengan kondisi jalan yang mereka lewati dari Tetekanhulu menuju Sirilanggai dan dilanjutkan dari Sirilanggai ke Pokai hingga Sikabaluan.

"Apalagi saat membawa pinang kering untuk dijual ke Pokai atau Sikabaluan. Kita harus lihat cuaca dulu untuk memutuskan perjalanan karena berlumpur dan licin. Terutama dari Terekanhulu hingga Sirilanggai karena baru pembukaan badan jalan, kata Bulau pada Rabu (10/2/2021).

Sejak terbukanya badan jalan dari Sirilanggai ke Terekanhulu tahun 2018, masyarakat terbantu dari segi penjualan hasil pertanian untuk menambah ekonomi keluarga seperti pinang, coklat dan juga untuk berbelanja ke Pokai atau Sikabaluan. Namun, sejak dibuka 2018 tidak ada pengerasan badan jalan hingga awal 2021.

"Sementara badan jalan yang masih licin karena tanah bukit. Belum lagi musim hujan yang membuat bandar kecil dibadan jalan karena tidak ada bandar jalur air yang dibuat pada kiri-kanan badan jalan", katanya.

Karena kondisi badan jalan yang makin parah, pengumpul hasil pertanian masyarakat seperti pinang, coklat, kelapa, rotan tidak berani menjemput ke Terekanhulu. Mereka umumnya hanya menunggu dan membeli di Sirilanggai, sehingga petani harus membawa hasil pertaniannya sepanjang 7 KM dari Terekanhulu ke Sirilanggai.

"Waktu awal buka badan jalan mobil L300 masih bisa lewat saat musim kering. Kalau sekarang sudah tidak bisa lagi karena ada dibeberapa titik dibadan jalan ada terbentuk bandar untuk jalur air. Pakai motor saja harus hati-hati", kata Marzuki warga Terekanhulu lainnya.

Pembukaan badan jalan dari Sirilanggai menuju Terekanhulu dilakukan pada 2018 melalui program Dinas Pekerjaan Umum dan jalan dari Terekanhulu ke Sigapokna Desa Sigapokna Kecamatan Siberut Barat dibuka 2019 melalui program TNI manunggal atau TMMD.

Untuk lanjutan pembukaan badan jalan dari Barambang ke Monganpoula dilakukan pada 2019 hingga 2020 dan jalan penghubung dari Sikabaluan ke Monganpoula dibuka pada 2019 hingga 2020.

Wakil bupati Mentawai, Kortanius Sabeleake pada Desember 2020 disela acara peresmian pembangunan rumah swadaya masyarakat Monganpoula menyempatkan melakukan pemantauan kondisi badan jalan yang dikerjakan pada 2020. Kondisi badan jalan yang dipantau pada saat itu yaitu jalan penghubung Sikabaluan-Monganpoula, jalan dari Monganpoula-Barambang yang masuk trans Mentawai dan Sirilanggai-Terekanhulu.

"Cacatatan kita yaitu adanya badan jalan yang dibuka kondisinya masih tinggi dan harus diturunkan lagi. Lalu untuk badan jalan yang di kiri-kanan ada bukit untuk tebingnya dibuat berjenjang agar saat longsor tidak langsung menimbun badan jalan", kata Kortanius memberikan beberapa catatan. 

BACA JUGA