Lambatnya Karantina Pasien Corona di Siberut Selatan

Lambatnya Karantina Pasien Corona di Siberut Selatan Pasien corona yang dikarantina di Rumah Sakit Pratama Siberut (Foto : Hendrikus/MentawaiKita)

MAILEPPET-Telah empat hari seorang guru SMKN 2 Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kecamatan Siberut Selatan dinyatakan terinfeksi virus corona berdasarkan pemeriksaan swab yang keluar pada Kamis (18/1/2021) namun pasien bersangkutan baru menjalani karantina di Rumah Sakit Pratama Siberut pada Kamis (21/1/2021). Guru tersebut melakukan tes swab bersama dengan guru-guru lain di Kecamatan Siberut Selatan pada Senin (14/1/2021).

Antonius Hermanto, salah seorang guru SMA Lentera Mentawai, Kecamatan Siberut Selatan yang menjadi pasien corona di Rumah Sakit Pratama menyebutkan, dirinya melakukan swab tes pada Senin (11/1/2021) kemudian hasil keluar pada Sabtu (16/1/2021) yang menyatakan dirinya positif corona dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG). Hari itu juga ia langsung menjalani karantina di RS Pratama Siberut.

Pada Senin (18/1/2021) dan Selasa (19/1/2021) ia menjalani tes selama dua hari berturut-turut. Dari hasil pemeriksaan tersebut dirinya dinyatakan negatif dua kali. Ia menyoroti lambatnya penanganan orang yang dinyatakan terinfeksi corona sebab sejauh yang diketahuinya ada seorang guru SMKN 2 Kepulauan Mentawai yang positif namun tidak segera dikarantina.

“Sejauh ini kami melihat ada perlakuan khusus, kami saat ini sudah berada di ruang isolasi, tetapi ada satu guru SMKN 2 Kepulauan Mentawai yang positif tak dijemput oleh tim medis, pasien juga tidak datang untuk isolasi kami melihat ada perlakuan secara khusus, itu kami menganggap pihak bersangkutan tak serius untuk penanganan Covid-19 di Kecamatan Siberut Selatan," kata Antonius Hermanto kepada MentawaiKita.com, Kamis (21/1/2021).

Menurutnya penanganan Covid-19 di Mentawai kurang serius. Belum lagi hasil pemeriksaan laboratorium yang menyatakan diri mereka positif tidak diberikan oleh petugas medis.

“Kami menganggap ini ketidakseriusan, sehingga timbul pertanyaan apakah ini benar-benar virus atau hanya mengada-ngada aja, untuk surat bahwa kami positif itu tidak diberikan oleh pihak kesehatan, mereka datang memberi tahu bahwa kami sudah positif itu aja, lalu disuruh untuk datang di RS Pratama Siberut untuk isolasi,” ujarnya.

Kepala SMKN 2 Kepulauan Mentawai Amati Telaumbanua membenarkan bahwa ada seorang guru di sekolahnya yang positif. Informasi itu ia terima dari Puskesmas Muara Siberut yang melakukan swab tes. Namun ia tak mengetahui keberadaan guru tersebut sebab Surat Perintah Kerjanya (SPK) sudah berakhir. 

Amati telah beberapa kali menghubungi guru tersebut lewat telepon seluler namun tak ada jawaban.

"Guru yang positif ini sudah tidak aktif lagi mengajar sebab 31 Desember 2020 SPK nya sudah berakhir, apakah dilanjutkan nanti cabang dinas Pendidikan yang menentukan, apakah dia masih tetap mengajar atau tidak,"kata Amati.

Terkait guru SMKN 2 Kabupaten Kepulauan Mentawai yang terlambat dikarantina, Kepala Puskesmas Muara Siberut, Nurhidayah mengatakan guru tersebut bukannya tidak diisolasi namun pasien yang berinisial Rb itu tidak tahu informasi hasil swabnya.

Pihaknya terkendala melakukan karantina sebab pasien bersangkutan berada di Dusun Tiop, Desa Katurei, Kecamatan Siberut Barat Daya. 

“Namun setelah mendapat informasi pasien bersangkutan datang sendiri ke Muara Siberut pada Kamis (21/1/2021) dan langsung diisolasi,” kata Nurhidayah kepada MentawaiKita.com, Senin (25/1/2021).

Nurhidayah menyebutkan pihaknya belum dapat memastikan jumlah orang yang sudah melakukan kontak erat dengan pasien. Yang jelas pasien tersebut sudah diisolasi.

Disoroti karena tidak serius menangani kasus corona di Mentawai, Kepala Dinas Kesehatan sekaligus Juru Bicara Perkembangan Pencegahan Penyebaran Covid-19 (Corona Disease-19) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Lahmuddin Siregar mengatakan untuk pasien positif corona bisa keluar dari ruang isolasi setelah 5 hari jika hasil swabnya negatif. 

“Meski keluar dari ruang isolasi, status pasien tersebut bisa pindah menjadi isolasi mandiri. Selain itu pasien juga bisa keluar jika hasil swabnya selama masa karantina menunjukkan negatif sebanyak dua kali secara berturut-turut,” kata Lahmuddin melalui pesan singkat kepada MentawaiKita.com, Senin (25/1/2021).

Sementara terkait pelacakan dan penelusuran terkait kontak erat menurut Lahmuddin tidak terkait dengan jumlah orang namun terkait orang-orang yang bersalaman, bertemu atau berpelukan dan lain-lain. Hal ini juga tergantung berapa lama antara pasien berkontak dengan orang dan apakah memakai masker atau tidak.

Selain soal penanganan pasien, petugas medis yang menangani pasien corona di RS Pratama Siberut menyebutkan manajemen tempat isolasi belum maksimal.

Bastian, salah seorang tenaga medis yang merawat pasien corona di RS Pratama Siberut mengakui  manajemen penanganan pasien dan keluarga pembesuk belum teratur. Ia menilai RSP Pratama Siberut yang dijadikan tempat isolasi pasien seperti tempat wisata karena ramai dikunjungi warga terutama dari keluarga pasien.

"Kami berharap penanganan covid kalau ngak siap jangan adakan swab, saat ini saya sebagai petugas melihat rumah sakit isolasi Pratama sama dengan tempat wisata karena ramai, siapa saja bisa berkunjung, namun jangan kita salahkan masyarakat yang berkunjung," kata Bastian.

Selain itu, Bastian dan kedua rekannya yang diberi tugas pada Agustus 2020 untuk menangani pasien corona di Siberut Selatan oleh Pemda Mentawai belum mendapatkan uang kesejahteraan yang layak. Sejak Agustus tahun lalu hingga Januari 2021 insentif yang dibayarkan kepada mereka baru Rp150 ribu.

Pada Januari ini pasien yang diisolasi di RS Pratama Siberut sebanyak 27 orang, 10 orang telah sembuh dan tersisa 17 orang yang dikarantina di tempat itu. 

Bastian menilai kendala yang sering mereka hadapi saat menangani pasien adalah ketersediaan air bersih. Selama ini air bersih disediakan oleh mobil pemadam kebakaran. Sehari kebutuhan air di RS Pratama sebanyak 2 ton sebab kebutuhan pasien akan air sangat banyak.


BACA JUGA