Sepanjang 2020, 12 Kasus Pencabulan Terjadi di Wilayah PUS

Sepanjang 2020 12 Kasus Pencabulan Terjadi di Wilayah PUS Kapolsek Sikakap AKP Tirto Edhi. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

SIKAKAP--Sesuai data Laporan Polisi (LP) terjadi 12 kasus cabul terhadap anak di bawah umur di wilayah hukum Polsek Sikakap. Hal itu dikatakan Kapolsek Sikakap AKP Tirto Edhi kepada Mentawaikita.com, Senin (18/1/2020).

 "Sesuai Laporan Polisi (LP) di tahun 2020, terjadi 12 kasus cabul terhadap anak di bawah umur terjadi di wilayah hukum Polsek Sikakap, dengan enam orang tersangka, lima orang tersangka sudah diserahkan kepada Kejaksaan, bahkan ada yang sudah dijatuhi hukuman, serta berkas tersangka sudah diserahkan kepada Kejaksaan, sekarang ini ada satu tersangka kasus cabul yang menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO)," kata AKP Tirto Edhi.

Lebih lanjut AKP Tirto Edhi, menyebutkan penyebab utama terjadinya pencabulan dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur masih adanya pola pikir masyarakat bahwa kasus cabul dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur bisa diselesaikan dengan hukum adat atau dengan membayar denda.

Sesuai dengan aturan hukum kasus pelecahan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur tidak bisa diselesaikan dengan hukum adat atau dengan denda, kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur itu ada hukumnya dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun, apa lagi sekarang Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2020 tentang tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi, dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

"Kapolsek Sikakap dan jajaran Polsek Sikakap akan menindak tegas bagi pelaku pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur, sesuai dengan instruksi dari Kapolres Kabupaten Kepulauan Mentawai AKBP Mu'at, bagi pelaku pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur akan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Republik Indonesia,” katanya.

Sementara kasus terbaru, GB (45), warga Desa Saumanganya, Kecamatan Pagai Utara telah ditetapkan menjadi tersangka kasus cabul terhadap tiga orang anak. "Sesuai laporan polisi (LP) nomor 37/K/XII/ 2020/Polsek, LP nomor 38/K/XII/2020/ Polsek, dan LP nomor 39/K/XII/2020/Polsek, karena korban GB tiga orang maka Laporan Polisi (LP) itu juga, sesuai dengan hasil pemeriksaan anggota Reskrim Polsek Sikakap bahwa GB telah mengakui perbuatannya maka GB kita tetapkan menjadi tersangka pencabulan terhadap tiga orang anak perempuan di bawah umur," kata AKP Tirto Edhi, Kapolsek Sikakap, Senin (18/1/2021).

 AKP Tirto Edhi menyebutkan, sejak 13 Desember 2020 GB sudah diamankan di Polsek Sikakap, sementara berkasnya sudah dimasukkan kepada Kejaksaan. Kasus GB langsung dilaporkan oleh tiga orang tua korban ke Polsek Sikakap, berdasarkan laporan tersebut GB dikenai Pasal 82 ayat 1 dan ayat 4 Undang Undang Republik Indonesia (UURI) Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan PERPPU Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua atas UU RI Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Jo Pasal 76 E, UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, katanya.

Menanggapi kejadian pencabulan di Sikakap, Camat Sikakap, Victor, mengatakan pengawasan dan perhatian orang tua sangat menentukan terjadinya kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur, termasuk juga pendidikan agama sangat menentukan sekali.

Kalau orang tua tidak acuh dengan pergaulan anaknya maka anak akan mencari kasih sayang lain, bisa dari orang terdekat seperti pacar atau lainnya. Umur 18 tahun ke bawah itu masa-masa rentan bagi remaja dalam mencari jati dirinya, salah bergaul akan menyebabkan penyesalan seumur hidup bagi anak dan orang tua,” katanya.

Akibat salah bergaul akan menyebabkan hamil di usia muda, akibatnya cita-cita tidak tercapai, apa lagi sekarang ini pengaruh internet sangat besar sekali terhadap pola pikir anak, pengawasan terhadap anak dalam membuka konten internet sangat dibutuhkan sekali supaya anak-anak tidak membuka konten yang tidak sepantasnya dibuka di usia 18 tahun ke bawah, katanya.

BACA JUGA