Harga Lebih Mahal, Kopra Putih Jadi Pilihan

Harga Lebih Mahal Kopra Putih Jadi Pilihan Seire Sakerebau menerima bantuan gerobak dan belerang dari program pemberdayaan desa Sikabaluan. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Seire Sakerebau (50) salah seorang warga Dusun Muara Desa Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai sibuk menghitung kelapa bulat yang dibelinya di hulu sungai Sikabaluan. Dari dalam sampan, satu persatu dia naikkan ke darat sambil menghitung.

"Ada sekitar 500 buah," katanya pada Mentawaikita.com, Senin (18/1/2021).

Dikatakan Seire, kelapa bulat tersebut akan dijadikan kopra putih. Alasannya hanya satu, karena harga kopra biasa masih rendah kisaran Rp3.000 hingga Rp3.500 per kg. Sementara harga jual atau harga beli kelapa bulat Rp2.000 hingga Rp2.500 per buah. Tergantung besar ukuran.

"Makanya saya lebih tertarik membuat kopra putih karena harganya lebih tinggi," katanya.

Lebih lanjut, Seire mengatakan, untuk harga kopra putih bila dijual ke Padang dihargai Rp14.000 per kg hingga Rp17.000 per kg. Untuk dapat menghasilkan sekilo kopra putih dibutuhkan 4-5 buah kelapa ukuran kecil yang dihargai bila dijual dalam bentuk kelapa bulat Rp2.000 per buah.

Sementara untuk kopra biasa, sekilo membutuhkan 3-4 buah tergantung dari ukuran buah kelapa. Harga beli atau harga jual kelapa bulat Rp2.000 hingga Rp2.500 per buah.

"Kalau kopra putih memasaknya dengan dijemur di cahaya matahari, sedangkan kopra biasanya di perapian dengan memakai kayu api atau sabut kelapa," katanya.

Dari pengalaman yang sudah dijalani dan dilakukan dari pertengahan 2020 dengan tiga kali pengiriman kopra putih ke Padang, dikatakan Seire rata-rata menghasilkan 1 ton kopra putih. Namun karena penjualannya hanya sampai di Padang mengingat biaya pengiriman sampai ke pabrik yang terlalu tinggi.

"Tapi kalau hasil produksi sekali kirim bisa sampai 5 ton maka saya siap kirim sampai ke pabrik karena untuk menyewa satu truk untuk kapasitas 5 ton rasanya tidak rugi. Karena hanya satu ton maka kita jual sampai di Padang dengan harga beli pabrik Rp14 ribu per kg," katanya.

Lebihlanjut dikatakan Seire, untuk membuat kopra putih membutuhkan proses yang panjang dan ekstra agar menghasilkan kopra putih yang berkualitas. Mulai dari memilih buah kelapa, membelah, membuat tempat penjemuran hingga melepaskan daging buah kelapa dari batok.

"Buah kelapa yang baik itu ukuran kecil dan tidak terlalu tua. Kalau terlalu tua pada bagian daging akan banyak lendir yang membuat kualitas buah rusak," katanya.

Kendala utama selama ini, dikatakan Seire membuat tempat penjemuran buah kelapa setelah dibelah karena disusun didalam tenda yang beratapkan plastik putih. Agar kualitasnya bagus, mestinya lantai penjemuran berada diatas tanah yang dikasih lantai beton atau papan agar uap tanah tidak merusak kualitas buah kelapa.

"Untuk mendapatkan kualitas super, sebelum dikirim ke Padang saya sortir dulu. Yang berjamur saya pisahkan menjadi kopra biasa dan yang kualitas baik saya jadikan kopra putih," katanya.

Oleh pemerintah Desa Muara Sikabaluan pada program pemberdayaan masyarakat desa untuk UKM (usaha kecil menengah) memberikan bantuan kepada Seire dalam bentul terpal plastik untuk atap tenda, gerobak sorong dan satu karung belerang pada anggaran program 2020.

Berbeda dengan Seire, Andi, warga Dusun Lobajau Desa Sigapokna Kecamatan Siberut Barat lebih memilih menjual kelapa bulat di pelabuhan Pokai saat kapal penyeberangan KMP. Gambolo masuk setiap Selasa di Pelabuhan Pokai dibanding membuat kopra.

"Saya jual kelapa bulat saja sama penampung yang datang dibanding membuat kopra yang harganya masih murah. Kalau buat kopra putih prosesnya saya belum tahu," katanya.

Setiap mingggu sesuai jadwal kapal, Andi membawa dan menjual kelapa bulat ke kapal 300 hingga 500 buah menggunakan perahu pompong dengan waktu tempuh 2-2,5 jam atau menghabiskan bensin 5-10 liter bensin untuk pp dengan harga beli Rp15 ribu per liter. 

BACA JUGA