Menelusuri Jalan Muntei dan Madobag yang Berlumpur

Menelusuri Jalan Muntei dan Madobag yang Berlumpur Jalan Salappak-Muntei di Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai yang berlumpur dan basah saat hujan sehingga susah dilalui sepeda motor. (Foto: Rus/Mentawaikita.com)

SIBERUT--Raungan bunyi kendaraan menyeruak dari balik pohon sagu makin lama makin keras ditambah dengan knalpot yang sudah dipreteli oleh pemiliknya menjadi knalpot racing, lima menit kemudian muncul kendaraan yang berbunyi keras. Ternyata satu keluarga baru pulang dari Salappak, Desa Muntei Kabupaten Kepulauan Mentawai menghadiri acara pangurei dan sekaligus tahun baru di sana, istri menggendong anaknya sambil berjalan sedikit meloncat menghindari lubang lumpur sementara sang suami mendorong motornya yang terjebak di lumpur yang berwarna hitam kemerahan.

“Sangat rusak jalan di sini Pak, kita harus naik lalu dorong, jalan beton yang dibangun lewat anggaran ADD (Dana Desa) ini sudah rusak, hanya beberapa ruas jalan yang masih bagus dan kuat selebihnya sudah rusak dan berlumpur,” kata Roger Satolaiebbeb (26) warga Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan yang baru pulang dari rumah mertuanya di Dusun Salappak Desa Muntei, Sabtu (3/1/2021).

“Kita butuh tenaga ekstra kuat, apalagi kami membawa perbekalan dari rumah mertua seperti ikan di okbuk (bambu), ini saja kami mengejar agar tidak kena hujan di jalan,” ucapnya, tak lama dari belakang lewat satu kendaran motor bebek yang membawa seorang sikerei (tabib tradisional Mentawai) yang sudah kesusahan menahan dirinya di atas motor lantar jalan yang rusak parah.

Menurut Roger, dari jalan di Salappak sampai di rakit penyeberangan daerah Bekkeiluk kondisi jalannya rusak parah, sedangkan dari rakit penyeberangan hingga ke Bat Mara menuju Muntei kondisinya tak jauh berbeda, jika di jalan rusak parah beberapa lembar papan dipakai untuk membantu pengendara motor tapi itupun kondisinya licin dan harus hati-hati, jika ban motor terperosok dari papan dipastikan akan masuk lubang yang berlumpur, maka pengendara harus turun dari kendaraan untuk mendorongnya.

Saya menelusuri jalan tersebut dari Muntei ke Salappak, dari Muntei kondisi jalannya cukup bagus, beberapa jembatan papan yang diberi atap, namun setelah melewati satu dusun jalan sudah mulai rusak, beberapa ruas jalan semen sudah pecah dan berlubang, sampai di daerah Bat Mara jalan makin rusak, ada tiga papan yang berukuran lebar sebagai jalan alternatif melewati lumpur yang menganga besar, dari sisi papan tersebut dipasang bambu sebagi pijakan kendaraan bermotor agar seimbang.

Melewati jembatan Bat Mara kondisi jalan sudah makin rusak dan berlumpur, beberapa kali ban depan sepeda motor terperosok ke dalam lumpur dan harus ditarik lagi dengan kuat karena kendaraan tidak bisa maju lagi, kadang ban belakang yang terperosok dan saya harus turun dan mendorong keluar kubangan. Karena itu jika mau naik motor di sana, tak bisa sendirian, butuh dua orang untuk membantu menarik dan mendorong motor.

Begitulah kondisi jalan sampai di rakit penyeberangan, untuk menyeberangi rakit itu juga butuh tenaga orang lain karena kalau tidak ada teman yang membantu menaiki kendaraan rakit yang terbuat dari empat drum plastic dan lantai papan akan terpesok ke dalam sungai. “Sudah banyak orang dan kendaraannya masuk sungai akibat jalan licin, karena kalau mau naikkan motor di atas rakit harus turun di jalan yang berlumpur dan licin, memang ada papan tapi papan tersebut sudah dipenuhi lumpur begitu juga papan tepi sungai Bekkeiluk kondisinya juga licin apalagi hujan,” kata Legen Satoinong, Ketua Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Muntei yang juga warga Salappak.

Ada sekitar satu jam lebih saya menunggu warga yang melewati rakit untuk meminta bantuan,  ada beberapa ekor ternak babi warga di lokasi penyeberangan tersebut lewat dari balik semak-semak dan terkejut serta langsung kabur. Saat hujan mulai teduh tiga anak muda dan satu perempuan datang dari Salappak menuju Muara Siberut membantu menyeberangkan kendaraan, satu menahan rakit agar tidak menjauh dari pinggir sungai, dua lagi memegang kendaraan agar tidak terperosok ke sungai, sampai di seberang ketika anak muda itu juga membantu menaikkan dari rakit ke pinggir sungai.

“Kami mau ke Tuapeijat, kami memilih jalan kaki, kalau dari Salappak ke Maileppet atau Muara Siberut bisa memakan waktu tiga jam lebih, itu untuk yang cepat kalau lambat bisa lebih, tapi kalau naik kendaraan saat (cuaca) kering bisa 90 menit tapi kalau kondisi saat ini musim penghujan bisa dua jam lebih,” tuturnya pemuda yang tidak menyebutkan namanya.

Perjalanan diteruskan, sekira 100 meter dari rakit penyeberangan akan bertemu simpang jalan, yang kondisinya tidak jauh berbeda bahkan lebih parah lagi berlumpur dan berlubang. Jika ke arah kiri di simpang jalan tersebut akan menuju Dusun Bekkeiluk, jika ke arah kanan akan menuju Salappak. Setengah jam dari simpang tersebut sebelum masuk ke Dusun Salappak barisan pohon cokelat/kakao dengan buah yang sudah menghitam akibat penyakit tumbuh di sekitar jalan yang diselingi pohon pinang, itu merupakan salah komoditas pertanian warga Salappak.

Sesampai di Salappak kendaraan roda dua yang saya ditunggangi kondisinya sudah berlumpur mulai dari roda sampai bodi kendaraan.

Selama ini jalan yang dibangun di Salappak baik dari dana Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPID) dan ADD selalu saja cepat rusak, bahkan pembangunan hanya menyambung setiap tahun, dimana jalan yang dibangun sebelumnya sudah rusak kemudian disambung jalan yang baru, akibatnya hanya beberapa ruas jalan yang bagus selebihnya sudah rusak parah.

Tak jauh beda dengan jalan Trans Mentawai dari Maileppet ke Saliguma, baru dibeton sekira 3 kilometer dari Simpang jalan Pelabuhan Maileppet sampai beberapa meter melewati RS Pratama di Desa Maileppet, selebihnya baru dibuka sehingga kalau curah hujan turun jalan dari Saliguma menuju Maileppet tidak bisa dilewati. “Kita bisa melewati jalan trans Mentawai yang baru dibuka ini kalau cuaca panas selama dua hari, tapi kalau hujan jangan coba-coba lewat, bisa-bisa motor lengket ke tanah dan tidak bisa jalan, saya saja ke Saliguma rencananya naik perahu pompong saja karena kondisi jalan rusak,”ucap Silvester Saibuma, warga Saliguma yang mau mudik ke kampung halamannya.

Saya mencoba menelusuri jalan Trans Mentawai dari Maileppet ke Saliguma, dari simpang pelabuhan Mailepet kondisi jalannya sudah bagus dan sudah dirabat beton namun itu hanya sepanjang tiga kilometer, setelah jalan beton tersebut habis, jalan yang sudah dibuka kondisinya licin dan berlumpur warna coklat, bahkan kalau kita injak lumpur tersebut sandal akan tertinggal di tanah, bahkan roda sepeda motorpun hanya berputar di tempat yang sama dan tidak bergeser.

Begitu juga kondisi Trans Mentawai dari Puro menuju Rogdok, dari jembatan di Dusun Puro kondisi jalan sudah ditimbun dengan kerikil namun sampai beberapa ruas jalan ini juga kondisi sudah rusak apalagi sampai di timbunan menjelang simpang jalan menuju Rogdok, kondisi jalannya becek dan licin.

Sehingga muncul pameo bagi masyarakat, jika kendaraanya berlumpur warna coklat maka pasti kendaraan itu dari Saliguma, jika kendaraan berlumpur warna hitam sedikit kemerahan warnanya maka dipastikan kendaran itu dari Salappak, tapi jika kendaraan itu berlumpur warna hitam keunguan berarti dipastikan mereka datang dari Desa Madobag.

BACA JUGA