Menunggu Realisasi Kapal Cepat Antar Pulau di Mentawai

Menunggu Realisasi Kapal Cepat Antar Pulau di Mentawai Penumpang berdesakan kapal antar pulau berdesakan pada liburan Natal dan Tahun Baru di Pelabuhan Tuapeijat. (Foto: Patris/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT- Usia Kabupaten Kepulauan Mentawai yang sudah masuk 21 tahun, wajah transportasi antar pulau yang melayani penyeberangan di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai hingga kini masih saja mengandalkan kapal kayu sebagai alat transportasi utama di wilayah itu.

Padahal akses transportasi yang cepat sudah menjadi kebutuhan yang paling utama masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai, meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi di daerah kepulauan mestinya didukung dengan infrastruktur yang mumpuni.

Mobilitas penduduk tahun ke tahun di Kabupaten Kepulauan semakin meningkat. Bisa kita saksikan membludaknya penumpang di pelabuhan pada saat liburan hari raya besar keagamaan, atau hari besar lain yang mengharuskan masyarakat menggunakan transportasi laut.

Salah seorang penumpang kapal antar pulau asal Siberut Iman Berkat (32) menceritakan perjalanannya menuju Tuapeijat, begitu lama menghabiskan waktu di kapal sekira 12 jam menuju Tuapeijat untuk mengurus surat-surat di sebuah dinas terkait, belum lagi pengurusan surat-surat kependudukan di Tuapeijat menghabiskan waktu yang cukup lama.

Jika saja ada kapal cepat antar pulau menurutnya tidak mesti berlama-lama di Tuapeijat, dengan kondisi demikian dia harus menunggu jadwal kapal antar pulau reguler sekali dalam seminggu kembali ke kampungnya.

"Sebenarnya tidak ingin berlama-lama di sini, karena hanya kondisi kapal antar pulau sekali seminggu terpaksa harus bertahan di Tuapeijat," cerita Iman kepada Mentawaikita.com, Selasa, (12/1/2021).

Pengalaman seorang penumpang tersebut bisa saja menjadi pengalaman sama yang banyak dialami penumpang lain yang sudah pernah melakukan perjalanan antar pulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Banyak pengalaman penumpang lain ketika harus melakukan perjalanan cepat antar pulau, cara lain yang dapat dilakukan harus melewati Padang mengejar kapal cepat Padang menuju Mentawai yang sudah ada beberapa tahun lalu, tentu saja konsekwensi pada pemborosan biaya perjalanan.

"Kalau kepentingannya mendadak untuk melakukan penyeberangan antar pulau kita harus menunggu satu minggu, tidak ada pilihan lain kalau lewat Padang pasti biaya mahal jika lewat Padang dengan kapal cepat biaya tiketnya Rp500 ribu," ucap Iman.

Kondisi di dalam kapal penyeberangan antar pulau pun cukup memprihatinkan dan tak nyaman, Iman menceritakan di dalam kapal juga penumpang harus bisa bersatu dengan barang bawaan seperti hewan yang menyebarkan bau tak sedap, kemudian kendaraan seperti sepeda motor harus berdempetan tempat dengan penumpang apalagi di saat membludaknya penumpang.

Pernah pada akhir Desember 2020 lalu kapal cepat milik perusahaan swasta sebut saja kapal Mentawai Fast milik PT. Mentawai Anugerah Sejahtera (MAS) yang selama ini melayani rute Padang-Mentawai beberapa kali melakukan uji coba melayani antar pulau Tuapeijat-Siberut dan Tuapeijat-Sikakap.

Banyak respon positif masyarakat dengan adanya kapal cepat antar pulau tersebut, terlihat seperti hal baru bagi masyarakat yang biasanya menghabiskan waktu selama 6-12 jam dalam kapal kayu milik Pemda Mentawai tetapi ketika pada uji coba waktu yang ditempuh sangat singkat sekira 1,5 jam.

Uji coba layanan kapal cepat antar pulau tersebut dimaksudkan untuk melihat respon masyarakat terhadap seberapa pentingnya kebutuhan layanan kapal cepat antar pulau. 

"Sudah saatnya Mentawai punya kapal cepat antar pulau, karena selama ini kita hanya dihidangkan kapal antar pulau yang tidak nyaman belum lagi menghabiskan waktu yang cukup lama di atas kapal sementara kepentingan mendesak perlu diutaman," ujar Barnabas (46) seorang warga asal Sikakap 

Tohap Martua Nababan, Kepala Dinas Perhubungan menanggapi pentingnya kapal cepat antar pulau pihaknya mengatakan masih berupaya, alasanya masih pada keterbatasan anggaran. "Kita tetap berupaya, yang menjadi kendala kita masih pada keterbatasan anggaran," jelas Tohap dihubungi. 

Tohap khawatir pada nasib kapal kayu milik Pemda Mentawai yang sudah ada tidak digunakan jika layanan penyeberangan antar pulau dilayani kapal cepat (Mentawai Fast). "Kapal kita (antar pulau) ada itu mau dikemanain nantinya, upaya kita yang terbaik untuk layanan kapal cepat pasti ada, cuma waktunya saja," kata Tohap.

Banyak suara masyarakat bahwa sudah saatnya Mentawai punya kapal cepat antar pulau sangat membantu masyarakat melakukan perjalanan, selain itu juga soal efisiensi waktu. 


BACA JUGA