Merawat Kebersamaan di Tengah Perbedaan di Mentawai

Merawat Kebersamaan di Tengah Perbedaan di Mentawai Malam gembira perayaan tahun baru di Dusun Salappa Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan. Acara ini dihadiri warga dari umat Katolik, muslim dan Bahai. (Foto: Dokumentasi Tulut Ogok)

MUNTEI—Bahagia dan hidup damai itu sederhana, menghargai perbedaan dan bergandengan tangan bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Begitulah semangat mewujudkan kedamaian di tengah keberagaman agama yang dianut oleh masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Bagi masyarakat Mentawai perbedaan agama tidaklah menjadi kendala untuk tetap menjaga silahturami dengan orang lain. Masyarakat di kepulauan ini tidak berambisi untuk menyeragamkan sesuatu dalam kehidupannya sebab mereka sadar itu mustahil terjadi tanpa gesekan yang berujung konflik berkepanjangan.

Toleransi beragama tetap dijaga, hal itu tampak jelas terlihat di saat perayaan besar agama seperti perayaan Natal untuk umat Kristen serta Idul Fitri dan Idul Adha untuk umat Islam serta perayaan hari besar agama lain.

Pada masyarakat adat di Mentawai, momen hari besar keagamaan tidak menyebabkan mereka terpisah tapi sebaliknya makin mempererat ikatan persaudaraan antara satu sama lain tanpa harus  memiliki keyakinan yang sama. Saling berkunjung ke rumah kerabat meski memiliki perbedaan agama merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan mereka.

“Kami tidak menganggap mereka orang asing meski kami memiliki agama yang berbeda, hal itu sudah diajarkan sejak dulu oleh nenek moyang kami yakni harus menjaga persaudaraan,” kata Suriadi (50), warga Salappak kepada MentawaiKita.com, Selasa (22/12/2020).

Suriadi yang beragama Katolik memiliki kerabat yang beragama Islam dan Bahai. Saat momen Natal 2020 dan tahun baru 2021, silahturahmi dalam keluarga mereka tetap terjalin. Saling berkunjung dan makan bersama merupakan tradisi tahunan yang tidak pernah mereka tinggalkan.

Saat kumpul bersama kerabat biasanya mereka akan memotong daging untuk dijadikan santap bersama. Bagi keluarga yang beragama Katolik maka mereka akan memotong babi dan ayam menurut cara dan keyakinan yang mereka anut. Sementara untuk kerabatnya yang bergama Islam akan diberikan ayam dan dipotong menurut cara yang islami pula.

Tiba saatnya makan, lanjut Suriadi, mereka akan kumpul dalam ruangan yang sama dan bersantap menurut menu yang tidak melanggar ajaran agama mereka masing-masing. Dari awal dimasak masakan khusus muslim dan Katolik sudah dipisahkan. Hanya ruangan bersantap mereka saja yang sama.

“Tidak ada masalah bagi kami, baik itu keluarga yang beragama Islam maupun Katolik,” kata dia.

Selain acara kumpul dengan keluarga, dalam perayaan tahun baru, masyarakat yang beragama Islam di Salappak juga dilibatkan.

Misalnya untuk memeriahkan Natal dan tahun baru, umat Katolik diharuskan iuran sebanyak Rp200 ribu per kepala keluarga, maka masyarakat yang beragama Islam diberikan beban untuk membayar iuran separuhnya atau Rp100 ribu. Perbedaan besar iuran tersebut disebabkan umat Islam di Salappak tidak merayakan Natal sebagaimana umat Katolik. Iuran separuh itu hanya dikhususkan untuk pembelian makanan kecil berupa kue-kue, kopi, gula dan kebutuhan lain saat malam perayaan Tahun Baru.

Biasanya pada malam perayaan tahun baru, masyarakat yang beragama Katolik dan Islam berkumpul bersama dalam satu gedung untuk menggelar malam gembira berupa penampilan tari-tarian dan acara kesenian lainnya.




“Jadi acara kumpul bersama tidak kami lakukan di gereja namun di gedung tersendiri, di sana kami berkumpul bersama-sama dan saling bersalaman dan bersilahturahmi, sambil menikmati hiburan,” tambah Suriadi.

Suriadi menyebutkan saat perayaan hari raya besar agama Islam mereka juga tak ragu berkunjung ke rumah kerabatnya yang muslim untuk bersilahturahmi.

Apa yang disampaikan oleh Suriadi, diamini oleh Legen Satoinong, warga Dusun Salappak beragama Islam yang saat ini menjabat Ketua Badan Pemusyawaratan Desa Muntei.

Legen menyebutkan, sebagai umat muslim di Salappak dia tidak keberatan diberi tanggungan iuran separuh dari jumlah yang dipungut dari masyarakat yang beragama Katolik sebab kegiatan hiburan dan silahturahmi bersama-sama pada malam perayaan tahun baru merupakan acara bersama dan saling memberi salam dan maaf kepada semua warga dusun.

Tradisi yang mereka lakukan, kata Legen, malam gembira bersama itu digelar setelah masing-masing pihak selesai mengadakan ibadah di tempat peribadatannya masing-masing, yakni Islam di mesjid dan Katolik di gereja. Setelah ibadah tersebut barulah mereka menuju gedung pentas seni yang sudah mereka persiapkan sebelumnya bersama-sama.

“Kami kumpul di sana bersama-sama dari berbagai agama, tapi di Salappak yang ada hanya agama Islam, Katolik dan sebagian kecil Bahai, tidak ada pertentangan soal beda kepercayaan,” katanya.

Soal iuran untuk merayakan tahun bersama-sama, kata Legen merupakan gagasan dari warga dusun. Kegiatan ini sudah mereka lakukan pertama kali pada 2019 dan tahun ini merupakan perayaan kedua secara bersama-sama.

Ia menyebutkan berkunjung ke rumah sanak keluarga yang beragama Kristen yang merayakan Natal dan tahun baru sekedar bersilahturahmi maupun memberi salam bukanlah hal pantang bagi mereka khususnya di Salappak.

“Tidak ada haram atau halal soal itu sebab semua manusia sama, yang terpenting tetap memegang keyakinan masing-masing tanpa harus saling memaksa satu sama lain,” ujarnya.

Jika tiba giliran perayaan hari raya besar agama Islam seperti Idul Adha atau Idul Fitri, giliran umat lain berkunjung ke tempat kerabatnya yang beragama Islam untuk memberi salam meski memiliki agama yang berbeda.

Pada perayaan Idul Adha atau hari raya qurban akan dilakukan pemotongan daging sapi, di Salappak daging qurban akan dibagi rata untuk semua warga meski mereka bukan beragama Islam. Biasanya jika ada dua ekor sapi yang disembelih pada Idul Adha maka sapi itu akan dibagi dua, seekor khusus warga yang beragama Islam dan seekor lagi untuk warga di luar Islam yang tinggal di Salappak.

“Kita nikmati bersama-sama dan bahagia bersama-sama,” tutur Legen.

Tahun baru 2021 merupakan momen yang ditunggu keluarga Bonifasius Salaisek (54) yang juga merupakan petugas katekis gereja Katolik di Dusun Salappak, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.  Ditambah lagi anak sulungnya perempuan baru selesai menamatkan kuliah di perguruan tinggi yang berada di Kota Padang.




Mentawaikita.com menyambangi rumah Bonifasius sekaligus bersilaturahmi dalam merayakan tahun baru, di rumahnya tampak kesibukan baru selesai memotong satu ekor babi dan beberapa ekor ayam.

Rumah yang ditempati Bonifasius merupakan rumah bantuan sosial yang umumnya berbentuk panggung, lantai dan dinding semuanya terbuat dari papan dan rata-rata hampir semua di dusun tersebut.

“Rumah kami macam ini. Ini dibangun di era tahun 1990-an, kita dikasih bantuan uang dan membangun rumah ini, tidak sama dengan rumah yang ada di daerah lain, sehingga kita bisa memilih kayu yang bagus dan tahan, kalau di tempat lain rumah bantuan sosial ini sudah banyak yang rusak,” tutur Boni, Minggu (3/1/2021).

Boni menambahkan, sengaja ada pemotongan babi dan ayam, nanti malam akan menggelar syukuran bersama, bukan hanya saudara yang beragama Katolik yang datang tapi undangan dari umat Islam juga ada. “Makanya kita menyembelih beberapa ekor ayam,” katanya.

Memang benar sekira pukul 19.30 WIB beberapa tamu datang ke tempat Bonifasius, mulai dari pengurus gereja atau yang sering dipanggil bajak gereja sampai ketua mualaf dan beberapa pemuda baik agama Katolik sampai Islam datang ke rumah Bonifasius, termasuk keluarga besar Boni sendiri. Ada belasan orang yang datang ke rumahnya beralaskan rotan yang dijalin menjadi tikar yang unik hasil kerajinan ibu rumah tangga di daerah tersebut.

Tak lama kemudian Bajak Gereja Katolik melakukan doa bersama sesuai agama yang dianut, dilanjutkan makan bersama, meski makan bersama namun menu yang disajikan tersebut berbeda, untuk tamu muslim disajikan gulai ayam sementara bagi tamu Katolik ada sup dan babi cincang.

Boni memiliki adik yang mualag berrnama Adonias Salaisek (43) dan mejabat Ketua Mualaf Dusun Salappak. “Adek saya Adonias itu agama Islam tapi setiap kami merayakan Natal dan tahun baru selalu bersama, kalau kami mendapat jatah babi dari gereja dia akan kami berikan satu ekor ayam untuk dimakannya bersama keluarganya, kan tidak mungkin kita kasih babi,” ujarnya.

Tradisi semacam ini juga berlaku bagi Adonias, kalau datang hari raya korban memotong sapi selalu makan bersama dengan keluarga besar.

Tradisi tersebut sudah berlanjut bahkan acara lebih besarnya bahkan dirayakan bersama di gedung serbaguna. “Tahun baru bersama ini ide itu dari saudara muslim yang meminta kepada pengurus gereja Katolik bahwa umat muslim mau datang merayakan bersama tahun baru, bukan beribadah di gereja tapi merayakan tahun baru makan bersama, resepsi bersama dan nonton bersama. Tapi kami bilang sebagai orang Katolik, ini tidak dipaksa kalau mau masuk silahkan, tapi bagi yang tidak mau bergabung tidak dipaksa, kalau mau bergabung kita layani,” katanya.

Sementara Adonias Salaisek menyatakan ide untuk merayakan tahun bersama antara umat Islam dan Katolik sejak dia menjadi Ketua Mualaf di Salappak. Menurutnya antara umat beragama tidak melepaskan adat Mentawai.

“Kalau dipikir agama sekilas memang beda, tapi kita juga tidak lepas dari adat karena di kampung ini hanya agama yang beda tapi sangkut paut persaudaraan sangat kuat, satu ayah satu ibu, satu kampung, satu dusun, satu desa. Jadi muncullah dipikiran saya kalau begitu kalau tahun baru ini mungkin kita bisa berbagi,” jelasnya.

Lanjut Adonias, kecuali hari raya Natal tidak bisa digabungkan, karena ada tempat khusus gedung serba guna. Jadi dari idenya mencoba komunikasi dengan bajak gereja, untuk merayakan tahun baru bersama dengan umat Katolik di gedung serba guna.

“Di kota lain kalau merayakan tahun baru mereka  ada bakar ban, makan-makan ayam. Kalau di sini kita ganti dengan membuat acara di gedung saja pada tanggal 1 Januari itu dilakukan sejak  2019, tapi pada 2020 kita tidak bisa ikut, memang sudah konfirmasi karena waktu saat itu sudah mepet baru kembali bersama pada tahun ini. Pembentukan panitia dari Katolik satu bulan, saya konfirmasi kepada umat saya untuk mengikuti acara tahun baru bersama,” ujarnya.

Untuk acara tahun baru bersama kata Adonias, pihak panita dari Katolik meminta peran Wispa (Wanita Islam Salappa) kalau ada minat belajar tari boleh.

“Setelah saya tanya akhirnya mereka mau bentuknya menari ya macam hiburan untuk di gedung, cuma hanya kita kasih bahan mereka kalau menari jangan terkhusus muslim tapi antara non muslim bergabung kalau kita fokuskan muslim itu bukan bergabung sama untuk tahun baru,” ucapnya.

Saat mengikuti tahun baru bersama bagi kaum muslim menyumbangkan dana Rp15 ribu per kepala keluarga. “Tapi kalau umat Katolik sendiri menyiapkan dana Rp30 ribu, karena biaya itu untuk Natal dan tahun baru, kalau kita sendiri Rp15 ribu per kepala keluarga karena hanya tahun baru saja,” tutur Adonias.

Untuk umat muslim di Dusun Salappak sendiri ada 47 kepala keluarga atau 130 jiwa, mengenai maraknya ormas islam yang radikal di Indonesia baginya tidak akan mempengaruhi.

“Jadi untuk kita di sini khususnya di Salappak soal agama tidak menjadi pembatas tidak sama dengan yang lain banyak yang menghina agama orang lain ada yang tersendiri kalau untuk di Salapak selama saya jadi pengurus ketua mualaf belum ada, tapi tidak tahulah kalau tahun besok karena kita beda-beda dengan manusia, untuk ketua mualaf itu tiga tahun jabatannya,” katanya.

Tulut Ogok Tasiripoula, Ketua Panitia Natal dan Tahun Baru dari Katolik mengatakan yang melatarbelakangi perayaan tahun bersama dengan umat Islam mengacu kepada budaya.

“Kalau saya melihat ini adalah budaya, kita mencoba mencocokkan agama mungkin ada yang cocok dengan budaya, jadi bersama-sama merayakan itu adalah budaya terutama dari sisi makanan karena  saat pesta-pesta besar kita potong babi dan potong ayam. Kemudian di sini toleransi beragamanya sangat kuat, kebersamaan juga kuat maka dari itu bajak gereja dengan ketua mualaf mereka mencoba mengusulkan ke panitia bagaimana tahun baru kita laksanakan secara bersama-sama kalau tidak salah sejarahnya itu ini kedua kalinya mulainya itu tahun 2019, tapi itu belum maksimal karena ada beberapa teman-teman kita mungkin yang belum semuanya terlibat terutama dari kalangan muslim tapi yang sekarang menurut data yang diterima dari ketua mualaf itu boleh dikatakan saya sebut 95 persen terlibat secara total,” ujar Tulut.

Menurut Tulut, dengan adanya tahun baru bersama mereka akan menjadikan ini tradisi setiap tahun. Siapapun nanti pemimpinnya, karena memang nilai-nilai budaya terutama dari sistem sembelih sesuatu ayam atau babi.

“Kami di sini terjadi pembauran, agama saja beda tapi mungkin dalam satu keluarga itu ada yang bergama Islam ada yang beragama Katolik dari sisi makanannya kami Katolik yang memotong ayam kami akan memberikan juga kepada tetangga, dari pada memberikan macam itu baguslah kita melakukan secara bersama-sama. Kemudian kita mencoba mendiskusikan hal-hal apa yang tepat dan tidak cocok dipihak dari muslim atau kami dari katolik apa kira-kira yang sama setelah kita coba untuk singkronkan secara bersama-sama,” ujarnya.

Akhirnya yang dilakukan sama halnya juga pembagian iba (lauk pauk) makanan yang bisa misalnya umat muslim tidak makan babi maka panita akan membagikan ayam kepada umat muslim.

“Meskipun sedikit daging itu artinya kita bisa menikmati tidak ada hal-hal yang menganggu misalnya ayam dicampur babi itu tidak boleh. Sistemnya adalah pembagiannya mungkin ayam dulu yang dibagi, pihak muslim akan mendapat jatah ayam, baru nanti umat katolik akan dibagikan baginya daging babi,” jelasnya.

Untuk ayam, itu swadaya masyarakat sendiri masing-masing keluarga menyumbangkan satu ekor ayam kemudian itu dibagi rata.  “Satu KK tapi itu tidak wajib tetapi ini siapapun yang mau ambil ayam dipotong itu silahkan aja,” ucapnya.

Lanjut Tulut bahkan sebelum merayakan tahun baru bersama, acara tersebut diawali perlombaan ada voly putra putri ada lomba karaoke yang umum dan menggambar khusus SD, itu diikuti untuk umum.

“Tanggal 1 Januari pada malamnya atau malam gembira kita lakukan semacam tarian, acara itu sudah bergabung dalam acara itu ada pihak muslim dan katolik tidak mengelompokkan,” terangnya.

Soal kerumunan dalam dalam satu gedung, pihak pemerintah dusun dan panitia sudah mengamati situasi agar tidak terjadi penularan virus corona.

“Kita sepakat dengan kepala dusun, melihat mempelajari situasi daerah ini artinya kalau kami tetapkan juga mengikuti protokol kesehatan pakai masker. Cuma kenapa kami melakukan kebersamaan itu karena memang kami melihat juga kondfisi masyarakat kita,  kondisinya tidak apa-apa masih sehat itu karena kondisi kalau ada yang sakit-sakitan mungkin kami tidak melakukan,” tutupnya.

Sikap saling menghargai dan toleransi beragama di Mentawai menurut Roron, perempuan berusian 22 tahun dari Desa Muntei tak meragukan hal itu.

Roron merupakan seorang mualaf, ia masuk Islam karena mengikuti agama suaminya. Sementara keluarganya sendiri yakni ayah, ibu dan saudara-saudaranya penganut Katolik.

Tiap perayaan Idul Fitri, Roron tak ragu berkunjung ke rumah orang tuanya yang tinggal masih dalam satu desa sekadar bersilahturahmi meski mereka Katolik. Ia tak lupa membawa kue hari raya untuk diberikan kepada ayah dan ibunya serta kerabatnya yang lain.

Kemudian saat tiba giliran perayaan Natal, sebagai anak, Roron selalu berkunjung ke rumah orangtuanya untuk memberikan selamat.

“Tidak ada yang salah soal silahturahmi, saya tetap menghargai kepercayaan yang mereka anut begitu juga dengan ayah dan ibu saya menghargai pilihan agama saya saat menikah, kami selalu rukun,” kata Roron kepada MentawaiKita.com saat ditemui di rumah mertuanya di Muntei, Senin (28/12/2020).

Di sisi lain meski Orang Mentawai telah menganut agama, namun ritual adat yang mereka praktikkan sejak lama dan turun temurun dari nenek moyangnya tetap dijalankan.

Mario (63), warga Muntei yang menganut Islam sejak 2002 mengatakan, tradisi dari nenek moyang mereka seperti pengobatan dan ritual adat yang biasanya mereka lakukan di Mentawai tetap ia jalankan. Meski ia sadar dari sisi agama yang dianutnya hal itu terkadang berbenturan.

“Saat anak saya sakit dan telah diusahakan berobat ke fasilitas kesehatan ternyata tidak sembuh, terpaksa harus memakai jasa sikerei lalu menjadi sembuh, sehingga hal itu tidak pernah saya tinggalkan,” katanya.

Terkadang juga jika kerabatnya ada acara adat maka ia sebagai anggota uma (suku) juga ikut terlibat. Yang menjadi pembeda saat ritual dilakukan tentu soal makanan, kalau biasanya acara adat menyembelih babi sebagai syarat ritual dan dilanjutkan sebagai santapan bersama maka ia akan memilih menyantap ayam.

Kemudian soal hubungan dengan orang-orang yang beragama berbeda dengan dirinya tak ada persoalan sebab kerabatnya yang lain mayoritas penganut agama Katolik.

Saat Natal dan Tahun Baru ia selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah saudara-saudaranya.

“Bersalaman dan saling meminta maaf merupakan momen yang tak ditinggalkan, soal menjalin persaudaraan saya rasa tidak perlu disekat oleh urusan agama,” kata dia.

Kerabatnya yang menganut Katolik, kata Mario, tak pernah mempermasalahkan kedatangan Mario untuk bersilahrutahmi saat Natal. Hubungan keluarga dan agama di Muntei menurut Mario berlangsung cair.

Jika tiba giliran hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha, kerabatnya juga datang berkunjung ke rumahnya. Terkadang jika ada biaya mereka mengadakan pesta kecil dan makan bersama saat momen hari raya tersebut.

“Soal iman itu di dalam hati masing-masing tak perlu harus dipamerkan, dan juga tak perlu mempersoalkan orang lain,” ujar Mario.

“Kalau ada acara malam gembira dan hiburan yang dilakukan oleh umat Gereja Katolik di Muntei dalam rangka memeriahkan Natal dan tahun baru kami selalu menyempatkan diri untuk menonton walau tempat pelaksanaannya dilakukan di gereja Katolik,” kata Pujianna (55), istri Mario.

Pujianna mengaku saat malam gembira perayaan Natal dan tahun baru yang diisi dengan acara kesenian, dirinya yang muslim tidak merasa asing dengan masyarakat lain meski memiliki perbedaan agama sebab yang hadir juga rata-rata kerabat dan kenalan dari kecil dan satu kampung.

“Iya kami ingin menonton tapi bukan ikut beribadah seperti mereka, yang jelas kami bahagia bersama-sama dan juga bisa bersilahturahmi dengan kerabat pada momen seperti itu,” ujarnya.

Toleransi beragama di Mentawai menurut Tarida Hernawati Simanjuntak, antopolog yang meneliti soal budaya Mentawai, didasari bahwa orang Mentawai mengandung prinsip kesetaraan dalam hubungan antar sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.

“Prinsip ini sudah dianut sejak ratusan tahun yang lalu dalam kepercayaan  asli  orang Mentawai (Arat Sabulungan) dan kosmologi tentang asal usul alam semesta dan manusia yang hidup di dalamnya. Arat Sabulungan atau kepercayaan tradisional pada inti dan dasarnya mengandung gagasan tentang prinsip  keharmonisan hubungan antara sesama manusia tanpa sekat-sekat sosial, ekonomi dan politik, apalagi agama samawi yang datang “belakangan”,” kata Tarida.

Keharmonisan hubungan antar sesama manusia hanya akan berbeda dan dibedakan  oleh sikap dan perilaku manusia itu sendiri terhadap sesamanya. Setelah menganut agama Samawi (Kristen, Katolik, Islam, dan lain-lain), prinsip-prinsip keharmonisan tersebut masih tetap melekat dalam diri orang Mentawai sebab telah menjadi nilai-nilai sosial dan budaya yang hidup, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga dan sosial kemasyarakatan.

Tarida menyebutkan pilihan orang Mentawai terhadap agama Samawi dari awal dilatarbelakangi  oleh kepentingan-kepentingan pragmatis dalam menyikapi dan beradaptasi dengan pembangunan, perkembangan zaman dan modernisasi.

“Sehingga agama Samawi tidak menjadi pembatas bagi orang Mentawai dalam hubungan dan interaksi dengan sesama manusia terutama dalam menjalankan tradisi dan kebiasaan sosial (berkumpul, pesta, pacara adat, dan lain sebagainya) seperti pada perayaan hari-hari besar Agama Samawi,” jelasnya.      

 

 

BACA JUGA