Berburu Pendeman di Bibir Pantai Sikabaluan

Berburu Pendeman di Bibir Pantai Sikabaluan Warga dari beberapa desa di Siberut Utara berdatangan ke pantai Sikabaluan untuk berburu ikan pendeman yang terdampar di pantai. Musim pendeman ini terjadi tiap tahun di Sikabaluan. (Foto:dokumentasi Susana Meri)

SIKABALUAN-Subuh, sekira pukul 05.00 WIB pada Kamis (7/1/2021) sepeda motor ramai melintas turun dari arah Monganpoula menuju pantai Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara. Subuh itu, ibu-ibu dari Monganpoula bergegas ke pantai  untuk menjemput rezeki ikan pendeman yang ramai berenang dan terdampar di bibir pantai.

Ada yang diantar dengan suami sambil memikul rambak (tangguk) dengan talukun (bambu bulat besar tempat ikan) hingga membawa karung beras ukuran 10 kg. Ada juga yang datang dengan berboncengan sesama ibu-ibu yang akan menangkap pendeman.

"Kami dapat informasi kalau ibu-ibu Sikabaluan sedang panen ikan pendeman. Makanya kami berbagi kabar untuk ke Sikabaluan mencari ikan," kata Yanti, salah seorang ibu dari Monganpoula pada Mentawaikita.com, Jumat (8/1/2021).

Ternyata hasil yang mereka dapat lebih dari yang diduga sebelumnya karena pada tahun lalu rata-rata satu orang ibu hanya memperoleh satu talukun hingga dua talukun ikan pendeman.

"Itupun kami ke laut untuk menangkap ikan menggunakan rambak agar dapat. Tapi kali ini di bibir pantai sudah ada kerena dihempas ombak," katanya.

Hal yang sama dikatakan Monika, salah seorang ibu rumah tangga dari Dusun Nangnang Desa Muara Sikabaluan. Ia mengatakan hasil perolehan ikan pendeman dua hingga tiga kali lipat dari tahun lalu.

"Sangat banyak sekarang. Bahkan kalau pas pertama kita tiba di pantai dan sudah mulai surut air laut ikannya sudah terdampar. Tinggal kita pilih", katanya.

Panen ikan pendeman, dikatakan Monika bukan hal aneh. Di Sikabaluan setiap tahunnya selalu ada musim pendeman. Bisa satu hingga dua kali. Namun bila dibandingkan tahun sebelumnya kali ini hasilnya lebih banyak sehingga ibu-ibu dari Monganpoula ikut ambil bagian menikmati hasil.

Karena panen banyak, ibu-ibu mengolahnya menjadi ikan kering yang dijemur di sinar matahari dan ada yang membuat ikan salai dengan mengeringkannya di perapian. Tahun lalu harga jual ikan kering pendeman yang dijemur di sinar matahari Rp15-25 ribu per kg.

"Ada juga kami masak dalam bambu. Biasanya dijaul Rp10-15 ribu satu potong," katanya.

Selain ibu-ibu, kaum bapak-bapak ikut terlibat membantu ibu-ibu mencari dan mengumpulkan ikan pendeman. Peran mereka mengumpulkan dan memasukkannya di dalam talukun atau karung dan membawanya ke rumah.

"Apalagi mereka berangkatnya subuh. Sekalian mengumpulkan juga kita menemani mereka karena masih gelap," kata Berman Kiniu.

Rizal, salah seorang nelayan Sikabaluan mengatakan ramainya ikan pendeman datang ke bibir pantai bukan karena fenomena alam yang ditakuti namun karena faktor ramainya ikan besar di tengah laut yang memangsa ikan kecil sehingga ikan kecil lari ke tepi pantai.

"Hal biasa karena ikan besar ramai di tengah laut yang memangsa ikan kecil sehingga ikan kecil larinya ke tepi pantai,", katanya.

Ikan pendeman banyak terdampar di tepi pantai karena terjebak saat pasang air laut mulai surut, sementara yang masih berenang di sekitar bibir pantai ditangkap menggunakan rambak.

BACA JUGA