Perjuangan Bawa Kotak Suara Pilgub dari Daerah Terpencil Mentawai ke Kecamatan

Perjuangan Bawa Kotak Suara Pilgub dari Daerah Terpencil Mentawai ke Kecamatan Kotak surat suara dari TPS 03 Bojakan (Bai'), Siberut Utara, Mentawai pakai pengikat pelekak. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

SIKABALUAN-Distribusi logistik selalu menjadi tantangan saat penyelenggaraan pemilihan umum di Kepulauan Mentawai terutama dari daerah pelosok yang akses transportasinya sulit, salah satunya Desa Bojakan Kecamatan Siberut Utara.

Misalnya membawa kotak suara dari dusun terjauh Desa Bojakan seperti TPS 02 Bojakan dan TPS 03 di Ba’i harus diikat dengan tali batang jahe hutan atau batang pelekak agar tidak rusak karena perjalanan jauh dan menggunakan transportasi sungai.

"Masih tergolong selamat kotaknya pada pilgub sekarang," kata Ketua PPK Siberut Utara, Kandidus Sikaraja, Sabtu (12/12/2020).

Biasanya, setiap ada pemilihan umum, kotak surat suara dari dua TPS itu hancur karena basah kena air hujan atau karena menyeberangi sungai. "Apalagi pada waktu pemilihan legislatif dan presiden kemaren kotaknya sudah tidak terbentuk, apalagi itu pemilu perdana berbahan kardus," kata Kandidus yang juga anggota PPK Siberut Utara pada pemilihan legislatif dan presiden.

Pada Pilgub pada 9 Desember lalu, kotak surat suara yang dibawa hanya satu dari masing-masing TPS. Berbeda dengan pada pilpres dan pileg lalu dimana kotak surat suara yang dibawa masing-masing TPS lima kotak surat suara, kotak surat suara presiden dan wakil presiden, DPD RI, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/kota.

Selain itu, pada Pilgub Provinsi Sumatera Barat 2020 keterlambatan baliknya logistik pemilu dari tingkat TPS dan TPS ke PPK hanya dua hari dibandingkan pada pemilihan umum presiden dan legislatif mengalami keterlambatan lima hari untuk tiba di PPK Siberut Utara.

"Tali dari batang pelekak ini dipakai untuk menggendong kotak surat suara seperti membawa tas punggung", kata Yohanes Irman, ketua PPS Bojakan pada Mentawaikita.com, Sabtu (12/12/2020). 

BACA JUGA