Ruang Karantina Penuh, Wisma Lestari Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19 Sikakap

Ruang Karantina Penuh Wisma Lestari Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid19 Sikakap Larangan yang ditempel di salah satu sudut ruang di Wisma Lestari yang dijadikan tempat karantina pasien Covid-19 Sikakap (Foto : Supri/MentawaiKita)

SIKAKAP—Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai terpaksa menjadikan Wisma Lestari Sikakap untuk mengisolasi pasien Covid-19 di Kecamatan Sikakap sebab ruang isolasi yang dimiliki pemerintah telah penuh. Kontrak pemakaian wisma tersebut antara pemilik dan pemerintah selama 30 hari yang terhitung mulai Sabtu (14/11/2020).

Selain Wisma Lestari, di kecamatan Sikakap terdapat 2 tempat karantina yang dimiliki yakni Puskesmas Sikakap dengan kapasitas 6 orang dan kantor UPTD Pelabuhan Penyeberangan Sikakap dengan kapasitas 8 orang. Saat ini ruang karantina di Puskesmas Sikakap merawat 8 orang sementara di UPTD Pelabuhan Penyeberangan Sikakap merawat 2 orang pasien positif Covid-19 karena sebagian pasien sudah sembuh.

Sementara di Wisma Lestari yang memiliki 14 kamar mampu menampung pasien sebanyak 22 orang pasien yakni 1 kamar diisi 2 orang pasien. Dengan perhitungan 11 kamar untuk ruang pasien Covid-19, 1 kamar ruang petugas keamanan dan 2 kamar untuk ruangan tenaga perawat. Saat ini Wisma Lestari merawat sebanyak 9 orang pasien Covid-19. Biaya sewa satu kamar sehari yakni Rp150 ribu. 

Erika Napitupulu, pemilik Wisma Lestari mengatakan, menjadikan wisma tersebut bukanlah persoalan mudah. Ia mendapat tantangan dari anggota keluarga lain sebab ketika dijadikan ruang isolasi praktis usaha yang berada di wisma itu seperti usaha café, rental motor dan penginapan terganggu.

"Sebenarnya berat hati kami para keluarga untuk menjadikan wisma lestari dijadikan sebagai tempat rawat inap ruang isolasi pasien Covid-19 Pagai Utara Selatan (PUS), tapi demi kemanusiaan saya dan keluarga lain sebagai mengelola wisma lestari Sikakap sepakat untuk menjadikan wisma lestari Sikakap sebagai tempat isolasi pasien Covid 19 PUS," kata Erika Napitupulu, salah satu pemilik wisma lestari yang juga sebagai koordinator Satgas Penanganan Covid-19 Sikakak, Jumat (20/11/2020).

Di wisma itu ada 5 motor yang direntalkan dengan tarif Rp150 ribu per hari. Biasanya setiap tamu yang menyewa kamar di wisma itu akan merental sepeda motor tersebut. 

Di Wisma Lestari terdapat 14 kamar tidur dengan tarif sehari Rp250 ribu untuk ruangan ber AC dan yang tidak Rp150 ribu.

Untuk meyakinkan keluarga dirinya sempat bersitegang dengan anggota keluarga lain, namun setelah diberikan pemahaman barulah mereka paham.

“Biasanya kalau bulan-bulan sekarang ini lagi panen penginap karena sekarang ada pasien Covid-19 maka terpaksa calon penginap ditolak, dalam satu bulan  Wisma Lestari Sikakap kosong hanya 5 hari saja,” ujarnya.

Selain usaha penginapan, di tempat yang sama Erika juga membuka praktik bidan. Tiap hari pasien yang berobat rata-rata 15-20 orang. “Tapi sekarang Rabu (18/11/2020) hanya 7 orang pasien yang datang ini tidak terjadi selama ini,” katanya.

Saat ini Wisma Lestari menampung 9 pasien positif Covid-19 yang ada di Sikakap. Untuk merawat pasien Covid-19 wisma lestari Sikakap menyediakan 2 alas kasus, dan alas bantal masing-masing dua lembar. Jika pasien Covid-19 dinyatakan sembuh alas kasur dan bantal tersebut langsung dibakar.

Masalah muncul setelah nanti kontrak selesai, pihak wisma lestari Sikakap bekerja keras lagi untuk mengedukasi masyarakat supaya mau kembali menginap di wisma tersebut. 

“Langkah yang akan di lakukan setelah kontrak selesai seluruh kamar dan lokasi wisma lestari Sikakap di semprot cairan disinfektan dan dikosongkan selama satu minggu,” kata Erika.

Selain mendapat tantangan dari anggota keluarga, kata Erika, warga sekitar wisma juga menolak dijadikannya wisma Lestari sebagai tempat isolasi karena takut tertular penyakit tersebut. Beberapa masyarakat juga sempat mengadu kepada camat Sikakap.

"Sebelum diputuskan menjadikan wisma lestari Sikakap tempat ruang isolasi pasien Covid-19 sudah beberapa tempat didatangi dan dilihat langsung oleh Satgas Covid 19 Kecamatan Sikakap tapi tidak layak, termasuk beberapa penginapan sudah dilobi tapi semuanya menolak, karena saya salah satu satgas Covid-19 Kecamatan Sikakap, Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai langsung menelepon saya dan beberapa orang Satgas Covid-19 Kabupaten Kepulauan Mentawai akhirnya kami setujui kontrak 30 hari ke depan terhitung sejak Sabtu(14/11/2020)," katanya.

Erika menyebutkan, sistem pembayaran antara dirinya dengan pemerintah dihitung per hari per kamar selama 30 hari. Jika ditotal maka dana yang mesti dibayarkan pemerintah sekitar Rp63 juta


BACA JUGA