Kubu Stefanus Sakaliou Tidak Terima Putusan Sengketa Tanah Kulukubuk

Kubu Stefanus Sakaliou Tidak Terima Putusan Sengketa Tanah Kulukubuk Musyarah sengketa tanah Kulukubuk antara Kubu Elisabet Takkou Sapojai versus Kubu Simon Sapojai di kantor desa Madobak,. (Foto : Hendrikus/MentawaiKita)

MADOBAK-Penyelesaian sengketa tanah di Kulukubuk, Desa Madobak, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai di kantor Desa Madobak, Selasa (17/11/2020) yang menjadi objek wisata alam yang berakhir  dengan putusan pembagian kepemilikan tanah antara pihak Elisabet Takkou Sapojai dan Sapojai kubu Simon Sapojai cs ditolak oleh kubu Stefanus Sakaliou suami dari Elisabet Takkou Sapojai.  

Kepala Desa Madobak, Robertus Sakulok, mengatakan tanah milik Elisabet yang merupakan keturunan dari Aman Arepat di kawasan Kulukubuk sudah diakui oleh kubu Simon Sapojai.

Meski telah dibagi dua, lanjut Robertus Sakaliou, pihak Stepanus Sakaliou yang juga terlibat dalam sengketa tanah tersebut belum mau menerima putusan tersebut sebab sebagian tanah sinikkelat (pembelian tanah dengan cara membayar dengan  sejumlah ayam dan babi) milik anak Stepanus Sakaliou dan Elisabet Takkou Sapojai yang bernama Andreas tidak diakui oleh kubu Simon Sapojai.

Tanah yang disengketakan tersebut sudah dihibahkan kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk dikelola menjadi salah satu objek wisata di Mentawai oleh kubu Simon Sapojai sebab sebelumnya pihak Simon tidak mengakui kepemilikan tanah pihak Elisabet. 

Namun setelah ada pertemuan pada Selasa (17/11/2020) didapat kesepakatan bahwa tanah yang dihibahkan kepada dinas pariwisata yang sebelumnya atas nama Simon Sapojai diganti dengan atas nama Elisabet karena dialah yang berhak. Tanah milik Elisabet yang diakui mulai dari hilir sungai Kulukubuk sampai Bat Lappak. 

“Soal penggantian nama yang sebelumnya tanah Kulukubuk yang dihibahkan oleh Simon Sapojai itu akan dikasih nama Elisabet Sapojai itu nanti akan kita sampaikan ke Dinas Pariwisata karena memang dari dulu mereka tak diakui namun dengan adanya sekarang pengakuan akan kita ubah lagi surat hibah tanah,” katanya.

Sedangkan dari Bat Lappak sampai air terjun dengan panjang sekitar 50 meter masih berstatus bersengketa karena pada musyawarah adat yang dimediasi oleh Pemerintah Desa Madobak kedua belah pihak belum mau menerima putusan yang dirumuskan oleh mediator.

"Tanah tersebut tinggal sepanjang 50 meter yang belum diakui oleh Sapojai dari kubu Simon Sapojai, sudah kita lakukan negosiasi kepada dua belah pihak dengan membagi dua tanah tersebut namun pihak Sakaliou dimana tanah tersebut sinikkeilat atas nama Andreas Sakaliou mereka tidak setuju dibagi dua karena batas tanah yang harusnya masih hak Andreas hilang dengan adanya putusan tersebut makanya tanah tersebut belum diselesaikan, apa boleh buat,” kata Robertus kepada MentawaiKita.com, Selasa (17/11/2020).

BACA JUGA : Lahan Kawasan Wisata Air Terjun Kulukubuk Digugat Sapojai Keturunan Aman Arepat

Berdasarkan keputusan rapat yang dirumuskan oleh mediator dari Pemdes Madobak terdapat empat poin yakni tanah sinikkelat atas nama Andreas Sakaliou (anak dari Stefanus Sakeliou dan Elisabet Takkou Sapojai) diakui hak kepemilikannya oleh pihak sapojai. Kedua, tanah milik Andreas Sakaliou terletak mulai dari muara Kulukubuk sampai Bat Lappak. Ketiga, dari Bat Lappak hingga ke air terjun merupakan hak milik kedua belah pihak yakni Elisabet dan Sapojai kubu Simon. Kemudian keempat ditentukan perbatasan tanah yakni pada sebelah Utara dengan jalan raya menuju Rogdok, sebelah Barat berbatasan dengan jembatan Kulukubuk sampai air terjun, Sebelah Selatan dari air terjun mengikuti sungai menuju Peigu yang berbatasan dengan tanah milik Nilus Sakulok, sebelah Timur juga berbatasan dengan tanah milik Nilus Sakulok.

“Maka dari hasil keputusan tim di atas tanah oleh pihak Andreas Sakaliou tak menerima untuk dibagi sesuai dengan keputusan pada poin ke tiga dengan poin ke empat, pihak Andreas Sakaliou tak menerima keputusan Pemerintah Desa Madobak,” kata Robertus.

Rumusan tim tersebut tidak diterima kubu Stefanus Sakaliou Sapojai karena memakai versi kubu Simon Sapojai. Menurut versi kubu Simon Sapojai yang diakui pihaknya sebagai tanah sinikkelat hanya daerah mulai dari hilir Kulukubuk sampai Bat Lappak. Sementara lahan sekitar panjang 50 meter yang dimulai dari air terjun Kulukubuk hingga lokasi pembangunan panggung seni tidak diakui sebagai milik Andreas Sakaliou oleh kubu Simon Sapojai. Namun menurut versi kubu Stefanus Sakaliou tanah milik Andreas Sakaliou yang berasal dari Sinikkelat.

Robertus mengatakan karena rumusan tim tidak diterima maka penyelesaian sengketa diserahkan kepada pihak yang keberatan.

Yosep Sapojai yang mewakili kubu Simon Sapojai mengatakan, pemilik sah tanah di Kulukubuk adalah Elisabet Sapojai yang merupakan keturunan dari Aman Arepat. Sepengatahuan pihaknya tanah sinikkelat itu mulai dari hilir Kulukubuk sampai Bat Lappak namun tidak sampai ke air terjun.

“Dari Bat Lappak sampai air terjun itu yang sisanya tidak dijual, kami tidak tahu tanah tersebut dibeli oleh pihak Stepanus Sakaliou,” kata Yosep Sapojai.

"Kalau ada kakak laki laki Elisabet ini kami tidak kena (dapat), karena kami lah yang menjaga tanah suku Sapojai, itu dulu memang bukan sinikkeilat, di Jaujau itulah yang bermasalah kami tidak tahu dibeli dan uangnya dikasih dimana,” lanjut dia.

Sementara Elisabet Sapojai yang mewakili kubu Stefanus Sakaliou dan Andreas Sakaliou dalam rapat tersebut mengatakan, sebelumnya tanah tersebut milik kakeknya dari keturunan Aman Arepat.

“Kalau dulu saya diakui pemilik tanah, memang itu tanah atas nama Sapojai namun tanah anak saya jangan diganggu, berdiri pariwisata saya dimana, pengakuan terhadap saya itu tidak ada, kakek saya merupakan pemiliknya dan saya pemilik tanah, kalau saya Sapojai yang Simon sampaikan itu kok saya sebelumnya tak diakui," kata Elisabet Takkou.

Sepengetahuan Elisabet, tanah sinikkeilat itu dari air terjun, jalan raya, dan bagian belakang uma yang dibangun pariwisata serta batang sungai Kulukubuk tanpa kecuali.

“Kecuali yang saat ini pembangunan uma yang didirikan oleh pariwisata itulah yang kami beli yang diberi oleh Bapak saya Toronan, sekarang sudah banyak yang mengaku ngaku, mengapa?”katanya.


BACA JUGA