Lahan Kawasan Wisata Air Terjun Kulukubuk Digugat Sapojai Keturunan Aman Arepat

Lahan Kawasan Wisata Air Terjun Kulukubuk Digugat Sapojai Keturunan Aman Arepat Surat hibah tanah dari almarhum Toronan Sapojai ke cucunya Andrenas Sakalio. (Foto: Hendrikus/Mentawaikita.com)

MADOBAG-Lahan tempat wisata air terjun Kulukubuk Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang diresmikan oleh Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet pada Rabu (4/11/2020) ternyata masih menyisakan sengketa kepemilikan.

Adalah Elisabet Takkou Sapojai, salah seorang anggota suku Sapojai dari garis keturunan Aman Arepat Sapojai mengklaim sebagai pemilik tanah lokasi kawasan wisata tersebut karena tanah tersebut bukanlah tanah ulayat peninggalan nenek moyang suku namun tanah hasil pembelian kakeknya Aman Arepat Sapojai dari Suku Sakerengan Leleggu asal Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah, Mentawai.

Menurut Elisabet yang diwawancarai Mentawaikita.com usai rapat penyelesaian sengketa tanah Kulukubuk di Kantor Desa Madobag, Senin (9/11/2020), proses penghibahan tanah (ke Pemda Mentawai) di lokasi itu masih belum resmi, meskipun yang menghibahkan (ke Pemda Mentawai) masih dari Suku Sapojai yakni Simon Sapojai namun secara hak Simon tidak ada kekuatan, sebab tanah tersebut sudah dibeli suami Elisabet bernama Stefanus Sakalio kepada ayah Elisabet yang bernama Toronan.

Elisabet menceritakan asal usul kepemilikan tanah di Kulukubuk tersebut menurut versinya. Awalnya tanah lokasi air terjun itu adalah itu milik suku Sakerengan Leleggu yang ada di Saibi Samukop yang merupakan tanah penemuan nenek moyang Sakerengan Leleggu. Lalu kakek Elisabet yang bernama Aman Arepat Sapojai menikah dengan salah seorang dari Suku Sakerengan tersebut.

Kemudian Aman Arepat melakukan panikkeli mone (pembelian tanah dengan cara membayar dengan  sejumlah ayam dan babi) kepada keluarga istri Aman Arepat dari Suku Sakerengan Leleggu, dan mendapat tanah di Batmakukuet yang berada di daerah Attabai bagian Taileleu. 

“Lama kemudian datanglah keluarga Sakerengan Leleggu dari Saibi, saat itu diwakil Aman Totoinot dan bertanya kepada kakek kami (Aman Arepat), tanah yang diberikan dulu itu (di Batmakukuet Atabbai) mau mereka ambil lagi karena di dalamnya tempat hidup mereka, maka dari situ tanah diambil lagi semuanya oleh Aman Sitotoinot,” jelas Elisabet.

Karena tanah yang sebelumnya sudah dibeli kakek Elisabet melalui proses panikkeli mone diambil kembali oleh Suku Sakerengan Leleggu, maka Aman Arepat pergi ke Saibi untuk mengabarkan bahwa tanah yang dia beli dulu sudah diambil kembali. Karena itu dilakukanlah proses palului sinikkeilat (proses membayar pengganti tanah) oleh Sakerengan Leleggu ke Aman Arepat.

“Maka dari sana Sakerengan Lelekgu, ipar Amat Arepat mengatakan, sebagai ganti tanah yang sudah diambil, kuasailah wilayah Kulukubuk, sungai dan tanahnya, Kulukubuk kamu yang punya, dari situ Kulukubuk tetap milik kakek kami, inilah perjanjian mereka dulu, antara kakek saya dengan Sakerengan Lelekgu. Lokasi Kulukubuk yang diberikan itu, mulai dari hilir sampai air terjunnya, yang sekarang tempat rekreasi, dari situ tidak ada lagi kekuatan Sakerengan Lelekgu sebagai pemilik dan kakek kami Aman Arepat tidak menjual kepada siapa pun (tanah itu),” katanya.

"Jadi tidak semua suku Sapojai yang pergi palului (pembayaran) membawa babi dan ayam kepada Suku Sakerengan Leleggu di Saibi, hanya kakek saya yang pergi, karena itu dalam dalam adat Mentawai, Simon Sapojai yang menghibahkan tanah itu tidak ada kekuatannya karena bukan kakek mereka yang pergi palului," kata Elisabet.

Selanjutnya cerita bagaimana sampai keluarga Elisabet memiliki tanah itu, Aman Arepat ini memiliki dua orang anak, Bailei Sapojai dan Toronan Sapojai (ayah Elisabet). Bailei Sapojai tidak memiliki keturunan sementara Toronan memiliki anak Elisabet namun dia tak memiliki anak laki-laki.

Lalu setelah Elisabet menikah dengan Stepanus Sakaliou. Dan suatu ketika Stepanus melakukan palului mone (membeli tanah dengan membayar pakai babi dan ayam) kepada ayah mertuanya Toronan Sapojai dan saudara laki-laki Toronan, Bailei Sapojai.

Saat acara palului tersebut Stepanus membawa babi besar satu ekor, ayam dua ekor. “Maka setelah suami saya melakukan palului ini, dari situ ayahnya memberi tanah Kulukubuk kepada anak saya (Andreas Sakalio) untuk pengganti babi dan ayam yang sudah dibawa kepada ayah saya. Setelah itu suami saya juga memberikan sejumlah uang kepada ayah saya Toronan,’’ katanya.

Setelah itu, dibuatlah surat hibah tanah dari Toronan Sapojai dan Bailei Sapojai kepada Andrenas Sakalio sekaligus menancapkan pembatas kayu irip (pembatas tanah) yang dibatasi mulai dari Battarap sampai Batlimu dengan surat yang dibuat berbunyi ‘penghibahan tanah sinikkeilat palului dari sitoronan.’ ‘’Maka dari situ kami anggap tanah sudah aman,” katanya.

Penghibahan tanah tersebut juga ada surat hibah tanah dari Toronan Sapojai dan Bailei sebagai pihak pertama dan Andreas Sakalio (anak Elisabet) pihak kedua, kemudian surat tersebut ditandatangani oleh Andreas dan sidik jari Toronan Sapojai dan Bailleu Sapojai, serta diketahui oleh Kepala Desa Madobag, Antonius Sanambaliu serta dua saksi Nilus Sakulo dan Nairep, surat itu bertanggal 16 Agustus 2003.

"Setelah itu ada info bahwa akan masuk pariwisata, dari situ kami buat penolakan, untuk mencari siapa pemilik tanah, bukan menolak pembangunan, atau pariwisata, 2018 buat surat juga tidak mau Simon menyelesaikan, digugatlah oleh Sakerengan Lelekgu, waktu itu kami hadir namun hanya sebagai pendengar, namun waktu itu pihak Pemerintah Desa tidak menandatangani berita acara, setelah itu tanggal 4 November tahun ini ada peresmian Kulukubuk, Pemerintah Desa mengundang Simon Sapojai namun ia juga tidak datang juga,’’ katanya.

Tambah Elisabet, memang Simon ini sukunya Sapojai namun secara garis keturunan suku mereka tidak ada hak untuk tanah itu. “Walaupun saya perempuan namun dari garis keturunan orang tua saya, Bailei dan Toronan masih ada saya, bukan mereka yang menguasai lalu menghilangkan hak saya, pemilik orang tua itu saya, saya tidak setuju,” katanya.

Namun rapat tersebut urung dilakukan karena Simon tidak datang. Kepala Desa Madobag Robertus Sakulok minta maaf kepada peserta yang hadir atas ketida hadiran Simon Sapojai. “Mudah-mudahan ke depan mereka datang, kami juga pemerintah desa jauh-jauh hari sudah melayangkan surat kepada mereka. Ke depan kalau mereka tidak datang, kita buat surat pernyataan ini milik Teu Sanang (Stepanus Sakalio, suami Elisabet) atau Elisabet Sapojai, maka mau digugat kita tidak tahu lagi, saya juga agak kesal dan merasa malu, warga saya tidak sempat datang, dan Simon ini sudah berjanji akan datang namun setelah saya telepon nomornya tidak aktif," kata Robertus usai pertemuan.


BACA JUGA