Trauma dari Tsunami Senyap Mentawai

Trauma dari Tsunami Senyap Mentawai Pemukiman baru warga (huntap) warga korban tsunami di Dusun Bulak Monga dan warga Dusun Rua Monga KM 6 Kecamatan Pagai Utara, Mentawai. (Foto: Supri/Mentawaikita.com)

MENTAWAI--Hari ini 25 Oktober tepat 10 tahun tsunami Mentawai terjadi di perairan Pulau Pagai Kepulauan Mentawai. Gempa berkekuatan Magnitude 7,7 ini menimbulkan gelombang tsunami yang menewaskan lebih 500 jiwa penduduk di Mentawai.

Gempa yang menimbulkan tsunami tersebut mengagetkan warga karena guncangan yang dirasakan tak sekeras gempa sebelumnya pada 2007. Gempa ayunan itu menurunkan kewaspadaan warga untuk mengungsi sehingga saat tsunami terjadi, mereka tidak punya banyak waktu lagi menyelamatkan diri.

Seperti penuturan Erdiman Saogo (38), penyintas tsunami dari Purourougat Desa Malakkopa Kecamatan Pagai Selatan ini masih mengingat kejadian 10 tahun lalu. Kampungnya yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai habis diterjang tsunami. Gempa yang datang waktu itu cukup senyap, tidak sekencang gempa-gempa sebelumnya, terutama gempa 2007 yang membuat sejumlah rumah rusak di Malakkopa.

Erdiman berhasil selamat setelah lari ke atas bukit sambil menggendong anaknya yang berusia 5 bulan bersama istrinya. Akibat kejadian itu, 57 warga kampungnya meninggal karena tak berhasil menyelamatkan diri.

Hal sama dikatakan Tirianus Samungilailai (55), warga Dusun Bulak Monga, Desa Taikako, Selasa (19/10/2020). Saat gempa, dia bersama istri dan dua anaknya sudah tidur.

‘’Guncangannya tidak kuat tapi berayun agak lama, waktu itu saya sekeluarga terbangun dan keluar rumah, karena tidak ada apa-apa, saya dan keluarga langsung masuk ke dalam rumah lagi, tak lama setelah masuk dalam rumah ada warga yang berteriak air masuk ke kampung, setelah saya lihat rupanya air sudah sampai di tangga rumah saya, melihat hal tersebut saya langsung mengajak istri dan anak-anak untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi,’’ katanya.

Tirianus dan warga mengungsi di sepanjang jalan yang dibangun PNPM yang berjarak sekira 500 meter dari rumahnya.

Gempa disusul tsunami itu menurut Erdiman masih membekas dalam ingatan sebagian besar warga kampungnya. Karena itu gempa beruntun yang terjadi sejak 19 Oktober lalu membuat warga cemas meskipun tempat tinggalnya sudah direlokasi ke tempat lebih tinggi. 

Erdiman yang juga menjabat Kepala Dusun Purorougat mengimbau warga tenang dan tetap waspada. ‘’Saya minta warga tetap di pemukiman baru (huntap) dan tidak turun dulu ke pemukiman lama, nanti setelah aman baru turun, kita khawatir nanti tsunami 10 tahun lagi terulang,’’ katanya kepada Mentawaikita.com beberapa waktu lalu.

Ekonomi Masih Morat-Marit

Hingga saat ini para penyintas tsunami Mentawai sudah bermukim di kampung baru yang dikenal dengan huntap atau hunian tetap. Namun sebagian besar dari mereka masih bolak-balik ke kampung lama di pinggir pantai karena ladang kelapa, cengkeh dan pinang  berada di sana, apalagi di kampung lama, mereka lebih dekat ke laut untuk menangkap ikan, udang maupun lobster.

Sumber ekonomi di kampung baru yang berjarak 3-10 km dari kampung lama hampir tidak ada sebab tidak adatanah untuk perladangan. Legalitas tanah pemukiman masyarakat di huntap masih belum diperoleh. Karena itu sebagian besar masyarakat memilih kembali ke kampung lama untuk mencari uang.

Kepala Dusun Purorougat Desa Malakkopa, Kecamatan Pagai Selatan, Erdiman Saogo mengatakan sejak tsunami hingga saat ini, sudah 10 tahun, ekonomi warga belum stabil.

‘’Dari kampung baru ke kampung lama yang jaraknya 9 km, warga harus jalan kaki karena belum ada jalan. Di pemukiman lama, warga mengolah sawah, cengkeh, kelapa, pala, pinang atau mencari ikan, teripang atau lobster, rutinitas itu dilakukan warga setiap minggu, berangkat Senin pulang Sabtu,’’ katanya. 

Masyarakat menurut Erdiman sangat berharap perhatian pemerintah terutama membangun jalan dari huntap ke pemukiman lama agar ekonomi bisa pulih kembali. ‘’Banyak warga yang merantau karena sulitnya kehidupan di kampung,’’ katanya. 

Pandemi Covid-19 menambah penderitaan warga karena harga sejumlah komoditi anjlok. Karena itu selain fasilitas, masyarakat juga berharap pemerintah secepatnya mengeluarkan sertifikat tanah pemukiman baru. 

Reporter: Rus AKbar, Supri Lindra, Leo Marsen Purba

BACA JUGA