Ahli Gempa: Gempa Pagai Selatan Sisa Kekuatan Gempa 2010 dan Siberut Perlu Diwaspadai

Ahli Gempa Gempa Pagai Selatan Sisa Kekuatan Gempa 2010 dan Siberut Perlu Diwaspadai Infografis Gempa Mentawai (Gerson/MentawaiKita)

PADANG-Dua ahli gempa Sumatera Barat, DR. Badrul Mustafa dan Ade Edward sependapat bahwa gempa yang terjadi di Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam dua hari terakhir merupakan sisa kekuatan gempa yang terjadi pada 25 Oktober 2010 lalu dengan magnitudo 7,7.

Akademisi dan pakar gempa dari Universitas Andalas, DR. Badrul Mustafa Kemal menjelaskan soal gempa yang terjadi Pagai Selatan sejak 10 Oktober ditambah sampai 19 Oktober kalau tidak salah sudah ada tujuh kali gempa lalu ditambah lagi gempa kemarin ada di atas magnitude 5 dan terakhir magnitude 5,8 termasuk berkekuatan sedang. 

“Melihat episentrum gempa itu ada berada di megathrust Mentawai segmen Sipora Pagai,” katanya kepada Mentawaikita.com, Selasa (20/10/2020).

Megathrust Mentawai memiliki dua segmen, segmen Siberut dan segmen Sipora-Pagai. Megathrust tersebut memanjang dari atas Aceh, Pulau Simeulue terus ke Pulau Nias dan pulau-pulau kecil, lalu ke bawahnya Mentawai. Di Aceh segmennya bernama segmen Simeulue, di Sumatera Utara satu segmennya yaitu Pulau Nias dan Sumatera Barat ada dua segmennya, segmen Siberut dan Segmen Sipora Pagai. Lalu ke bawah ke arah Bengkulu ada segmen Enggano, jelas Badrul.

Di segmen Siberut dan Sipora-Pagai, berdasar penetilian Danny Hilman dan Prof Kerry Sieh dari Amerika diketahui periode ulang gempa itu 200 tahunan sampai 300 tahun sekali. “Nah, yang segmen Sipora Pagai itu sudah terjadi periode ulang, dulu terjadi tahun 1833 dengan kekuatan sekitar 8,8 SR atau 8,9 SR dan saat itu timbul tsunami, kemudian terulang periode ulang itu dimulai 12 September 2007 saat itu menjelang puasa atau menjelang tarawih pertama 8,4 SR, besoknya tanggal 13 September terjadi dua kali gempa 7,2 SR dan 7,9 SR, itu kategorinya kuat. Lalu ternyata berakhirnya 25 Oktober 2010 yang terjadi tsunami ketika itu yang episentrumnya di Barat Daya Pulau Pagai,” katanya.

Gempa-gempa yang terjadi sejak 10 Oktober kemarin sampai dini hari tadi episentrumnya lokasi terjadinya tsunami pada 25 Oktober 2010 yang lalu. “Nah, menurut saya, gempa-gempa di segmen Sipora Pagai ini tidak mengkhawatirkan karena energi besarnya sudah lepas kalau terulang lagi gempa besar itu 200 tahun lalgi kecuali gempa-gempa kecil, jadi di segmen ini Insyaallah setidak-tidaknya dalam 100 tahun ini tidak akan terjadi gempa di atas 7, kalau 5, 4, 3 SR itu biasa karena dia terus terjadi tumbukan lempeng, energi terus terhimpun dan terus terakumulasi jadi ini tidak mengkhawatirkan,” jelasnya.

Badrul lebih mewaspadai segmen Siberut karena 2/3 energinya belum keluar, jika keluar dalam satu kali gempa besar bisa menimbulkan gempa M=8,5 atau lebih. Jadi yang terjadi gempa di Pagai Selatan kemarin itu tidak akan terjadi gempa besar.

Sementara salah seorang ahli Geologi Sumatera Barat Ade Edward menyatakan gempa yang terjadi Pagai Selatan itu lokasinya kurang lebih dekat dengan gempa 25 Oktober 2010 dan gempa 2007. 

“Terkait lokasi gempa tersebut itu tidak perlu dikhawatirkan karena energinya sudah keluar, walaupun ada gempa tapi gempa tersebut tidak merusak lagi, masyarakat sekitar Pagai seperti kemarin 5,8 sepertinya tidak lagi merusak bangunan fisik tidak berisiko tinggilah. Meski tidak perlu khawatir tetapi waspada tetap. Kalau gempanya lebih dari setengah menit untuk itu evakuasi saja,” jelasnya.

Namun kata Ade, yang perlu diwaspadai itu adalah segmen di zona Siberut karena belum mengeluarkan energi dan jarang terjadi gempa,  sehingga masyarakat tetap waspada. “Kalau gempanya lebih dari setengah menit lebih baik evakuasi saja tidak perlu menunggu perintah,” katanya.


BACA JUGA