Mereka yang Terabaikan di Masa Pandemi Covid-19

Mereka yang Terabaikan di Masa Pandemi Covid19 Ratih, siswa SLB Bina Langgai sedang belajar didampingi gurunya. (Foto: Dokumentasi SLB Bina Langgai)

TUAPEIJAT - Cuaca pagi yang cerah di saat Rabu (12/8/2020) kesempatan bagi Ryan berjemur di teras rumahnya yang sederhana di Desa Tuapeijat Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai. Duduk di kursi roda, Riyan ditemani ibunya pagi itu.

Ryan (12) seorang penderita gangguan neuro-muskular sejak kecil. Gangguan pada kerja sistem syaraf dan otot menyebabkannya harus duduk di kursi roda. Meski kondisi Ryan membutuhkan perlakuan khusus, Ia tetap mendapat dukungan dari keluarga dan sahabatnya untuk tetap bersemangat meski banyak rintangan.

Semangat Ryan yang tinggi menjadi salah satu pemicunya untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bina Laggai milik sebuah yayasan swasta yang didirikan sejak 2016 di Sipora Utara.

Namun sejak pandemi Covid-19, Ryan yang biasa bertemu teman-temannya di sekolah kini harus belajar dari rumah. Tak hanya menyulitkan para muridnya seperti Ryan, kebijakan itu juga banyak menyulitkan tenaga pendidik khusus SLB, karena menurut guru SLB penyampaian materi pembelajaran kepada siswa disabilitas tidak sama dengan siswa pada umumnya.

“Kita harus ekstra sabar menghadapi mereka, kalau dibentak malah nanti mereka tidak mau belajar. Jadi kita harus menyesuaikan kondisi atau suasana mereka,” kata Nurwidia, Kepala SLB Bina Langgai kepada Mentawaikita.com pada pertengahan Agustus lalu.

Pada masa pandemi ini, pemberian materi pelajaran dikirim melalui aplikasi bincang pesan WhatsApp ke telepon selular orangtua siswa. Kemudian, orangtua membantu mengajarkan siswa di rumah masing-masing.

Metode tersebut menurut Nurwidya sangat tidak maksimal apalagi anak-anak tersebut harus diperlakukan secara khusus. “Sangat sulit, karena ini tidak bisa disamakan dengan anak pada umumnya. Kami sangat sulit menyampaikan  materi pelajaran, belum lagi anak-anak tidak semua menggunakan handphone,” kata Nurwidya.

Metode yang dilakukan untuk menyiasati penyampaian materi pembelajaran kepada anak berkebutuhan khusus ini dilakukan dengan mengunjungi secara langsung rumah-rumah siswa. “Jadi kami yang ke rumah siswa, kami kasih tugas melalui orang tuanya untuk kemudian diajarkan kepada anaknya,” kata Nurwidya

Sekarang, jumlah siswa yang berkebutuhan khusus di SLB Bina Langgai  sebanyak 17 orang, dengan tujuh orang tenaga pendidik. Dibutuhkan kesabaran yang tinggi untuk membimbing mereka belajar. Selain itu, media pembelajaran bagi anak-anak disabilitas masih terbatas.

Dana yang diandalkan dari Yayasan juga tidak secara keseluruhan mencukupi untuk mendukung penyampaian materi pelajaran. “Masker kita berusaha mencari sendiri, tidak ada bantuan dari pihak mana pun, karena memang tuntutan protokol kesehatan. Kemudian juga akses internet terkendala sehingga pembelajaran daring tidak bisa digelar,” kata Nurwidya.

“Kalau kita paksakan menerima pelajaran, nanti mereka malah tidak mau lagi sekolah,  jadi kita yang ekstra sabar, karena mereka juga adalah anak-anak bangsa yang harus cerdas dan berhak mendapatkan askes pendidikan juga seperti anak anak pada umumnya,” katanya.

Dampak pandemi Covid-19 juga dialami SLB Mutiara Bangsa Pratama yang memiliki siswa 14 orang. Banyak kendala yang mereka hadapi, selain juga media pembelajaran yang terbatas juga karakter anak disabilitas yang berbeda. Ketika penyampaian materi dilakukan dengan metode daring, para siswa harus didampingi orang tua mereka.

Metode luring dilakukan dengan memberikan lembar tugas kapada anak melalui orangtua. “Kalau sudah selesai baru kami jemput tugas mereka, kadang ada yang belum selesai, tapi itulah yang kita hadapi selama pandemi Covid-19 ini,” kata Silvi Utami, Kepala SLB Mutiara Bangsa Pratama di Tuapeijat.

Selama itu penyampaian materi pembelajaran yang dilakukan tidak maksimal. “Kalau di rumah dan di sekolah itu berbeda. Kalau di rumah mungkin manja-manja dengan orang tuanya, ini perlu kerja ekstra. Sudah tatap muka langsung saja masih ada hambatan, apalagi menggunakan telepon seluler (ponsel). Tidak semua anak punya ponsel, dan juga kadang pas jam belajar tidak semua anak hadir. Kalau ada anak yang belum bangun kita tunggu di mana dia mau. Jadi, memang kerja keras,” kata Silvi.

Lain lagi yang dialami Puput yang juga seorang anak difabel. Ia satu sekolah sekolah dengan Ryan di SLB Bina Laggai. Menurut ibunya, Ratih mengalami gangguan memori pada usia satu setengah tahun.

Siang itu Sabtu (29/8/2020), anak berusia 21 tahun itu duduk di sebuah warung tempat ibunya berjualan gorengan di daerah Pelabuhan Tuapeijat, Sipora Utara. Ia tampak asyik bergurau dengan orang yang sepertinya sudah lama dia kenal karena sering nongkrong minum kopi di sebuah tenda kerucut yang digunakan keluarganya mencari rezeki.

Eli Marianis, ibu dari Puput pada kesempatan siang itu bercerita, Puput mengalami gangguan memori atau ingatan sejak kecil. “Daya ingatnya kurang, jadi kalau saat ini dikasih materi pembelajaran beberapa jam kemudian tidak tidak ingat lagi. Tapi dia sangat semangat belajar,” kata Eli.

Selama pandemi Covid-19 Ratih banyak mengalami kendala, apalagi metode pembelajaran waktu itu sempat dilakukan melalui sebuah aplikasi komunikasi daring.

“Selama pandemi, kami sangat kesulitan, mau beli ponsel saja uang tidak cukup, hasil jualan ini saja cukup hanya beli makan beberapa hari,” kata Eli Marianis di warungnya sembari membolak-balik tahu yang hampir matang pada siang itu.

Puput yang memiliki nama lengkap Ratih Febrilia Putri, setiap hari selalu menemani ibunya berjualan di daerah Pelabuhan Tuapeijat. Sekali sepekan, kadang gurunya datang memberikan tugas belajar di warung itu. “Sebelum pandemi tiap pagi sudah diantar ke sekolah, kalau sekarang, sistem belajarnya di rumah saja, gurunya yang ke rumah memberikan tugas, kadang sekali seminggu,” kata Eli Marianis.

Terkait dengan kemudahan akses belajar bagi anak disabilitas, belum ada kebijakan dari pemerintah. “Kalau di sini siapa orang yang mampu dialah yang bisa dapat akses belajar, semuanya masih diperlakukan sama dengan anak pada umumnya, kalau untuk anak difabel belum ada bantuan fasilitas,” kata Eli.


Kebijakan Pemerintah Setengah Hati

Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera arat yang masuk dalam kategori tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Indonesia. Kebijakan pemerintah pada masa pandemi covid-19 memaksa para pelajar melaksanakan metode pembelajaran dari rumah.

Akses internet sangat terbatas mengakibatkan penerapan belajar dari rumah dengan dukungan fasilitas internet masih menyulitkan siswa apalagi bagi anak disabilitas, kondisi ini mengakibatkan transfer ilmu pada masa pandemi menjadi tidak maksimal.


Peran pemerintah di Kabupaten Kepulauan Mentawai bagi siswa disabilitas masih sangat minim. Bahkan tidak ada SLB yang dibangun khusus pemerintah di daerah itu. SLB yang ada saat ini telah berdiri di Kabupaten Kepulauan Mentawai masih atas inisiatif pihak swasta.

Motishoki Hura, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai menjelaskan secara spesifik belum ada kebijakan khusus untuk mengatur dan mempermudah akses belajar bagi siswa yang berkebutuhan khusus.

“Kalau dulu ada di sekolah di Sioban, gurunya ada, tapi saat ini penerapan pembelajaran masa Covid-19 ini masih sama dengan anak-anak pada umumnya,” kata Motishoki Hura, pada Sabtu, (29/8/2020).

Terkait penyediaan askes internet atau fasilitas pendukung lainnya, Moti menjelaskan belum ada kebijakan khusus bagi anak yang berkebutuhan khusus.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Oreste Sakeroe mengatakan selama pandemi Covid-19, tidak ada kebijakan secara khusus mempermudah akses pendidikan bagi siswa difabel baik dari segi dukungan fasilitas pendidikan maupun dukungan operasional bagi SLB di Mentawai.

“Sebenarnya itu kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, kalau di Dinas Pendidikan Mentawai kami belum ada,” kata Oreste, Selasa, (1/9/2020).

Terkait layanan akses pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus tersebut, Oreste sudah menyampaikan persoalan itu kepada Dinas Pendidikan Sumatera Barat untuk segera direspons. “Sampai sekarang program itu belum jalan di Mentawai, saya sudah usulkan sejak 2019 lalu, kita yang layani tetapi guru-guru kita yang dilatih secara khsusus terkait metode penyampaian materi pembelajaran kepada anak-anak difabel,” kata.

Tarida Hernawati, pemerhati pendidikan Mentawai dari Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) mengatakan masa pandemi covid-19 tak hanya berdampak pada ekonomi, kesehatan, dan sektor lain, tetapi juga membuat dunia pendidikan menjadi repot apalagi metode pembelajaran dipindahkan ke rumah masing-masing.

Dari sisi positifnya dia melihat justru pada kondisi tersebut para guru mendapat ruang banyak bisa bertemu dengan orangtua siswa secara langsung di rumah. “Bisa secara langsung bertemu dengan orangtua siswa mengetahui apa kebutuhan anak dan metode seperti apa yang lebih tepat pada anak berkebutuhan khusus,” kata Tarida perempuan yang pernah menggagas sekolah alternatif bagi anak di pedalaman Siberut, Mentawai.

Tarida melihat peran orang tua menyekolahkan anaknya yang memiliki kebutuhaan khusus tersebut masih kurang. “Karena memang tidak ada fasilitas yang tersedia sehingga mereka merasa tidak ada ruang juga buat anak mendapat pendidikan, padahal sistem pendidikan kita menjamin semua anak berhak mendapat pendidikan,” kata dia.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai, menurut Tarida berperan aktif dan harus ‘jemput bola’ memberikan layanan kepada anak yang berkebutuhan khusus, karena memang mereka harus diperlakukan khusus tidak bisa kebijakan itu disamakan dengan anak non difabel.

“Secara psikologi ketika mereka bersekolah pada umumnya pasti ada kendala.  Tidak semua anak difabel juga bisa beradaptasi pada sekolah pada umumnya, tetapi semua itu kembali pada niat dan kemauan sekolah memberikan ruang melayani anak disabilitas, mereka juga berhak mendapat pendidikan,” kata Tarida.


 

BACA JUGA