Curhat Pasien Covid-19 dari Ruang Isolasi Puskesmas Sikakap di Mentawai

Curhat Pasien Covid19 dari Ruang Isolasi Puskesmas Sikakap di Mentawai Foto tangkapan layar curhat BS di lini masa Facebooknya. (Foto: Mentawaikita.com)

PADANG-BS (23), pasien yang terkonfirmasi Covid-19 di Sikakap Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai mengeluhkan pelayanan di ruang isolasi Puskesmas Sikakap dan fasilitas yang serba adanya, bahkan untuk makan dan minum saja harus menghubungi dokter.

BS masuk ruang isolasi Puskesmas Sikakap sejak Rabu (2/9/2020) setelah hasil tes swab pertamanya positif. Merasa tidak mendapatkan pelayanan yang baik, BS menuliskan curahan hatinya di laman Facebook, Jumat (4/9/2020). Mentawaikita.com mengkonfirmasi tulisan tersebut kepada BS melalui sambungan telepon, Jumat (4/9/2020) tak lama setelah unggahannya.

BS membenarkan dia sendiri yang menulis curhatan di laman Facebooknya. Dia menceritakan kronologis awal masuk ruang isolasi Puskesmas Sikakap. BS dijemput di rumah saudaranya Masabuk Desa Sikakap sekira pukul 09.00 atau 9.30 WIB. Kemudian dibawa ke ruang isolasi langsung.

“Pas masuk masih ada rasa takut, habis itu saya haus saya minta tolong duluankan kasih aku air, makanpun belum ada kubilang sama petugasnya,  katanya sabar ya dek nanti dikasih, tanya lagi kayak gitu juga jawabannya, mau dikasih obat kayak gitu juga tidak ada air,” ungkapnya pada Mentawaikita.com.

BS mengaku jika lapar dan ingin makan, mesti telepon dulu dokternya untuk konsultasi. “Dok, aku nggak ada sarapan nggak? Ada soalnya aku sudah lapar sekali Dok, ini mau jam setengah 10 tidak ada sarapan. Siang baru dikasih makan dari petugas, malam dikasih makan oleh petugas,” katanya mengutip permintaannya ke dokter.

 “Sore pada hari Rabu, Bapak antarkan minum dan makan malam, pihak petugas juga memberi makan tapi udah jam 19.00 atau 20.00 WIB tapi makanan yang mereka berikan itu tidak kumakan lagi karena sudah dikasih makan sama bapak karena sudah kenyang,” tuturnya.

Pada Kamis, pasien itu baru bisa sarapan sarapan pagi sekira pukul jam 09.00 atau 09.30 WIB yang diantarkan petugas. “Mereka antarkan itupun kutelepon lagi bahwa dia tidak sarapan mereka katakan ini masih hujan dek, nanti kita kasih, kalau kita berpikir ada payungnya ada jas mantelnya untuk kita cari sarapan itu,” ungkapnya.

Masih pada Rabu itu saat masuk di ruang isolasi, dia mau mandi namun kondisi airnya kotor dan banyak jentik-jentik, akhirnya dia sendiri menguras kamar mandi tersebut. “Pada saat sampai, sore itu mau mandi kemudian melihat air kotor kali di dalamnya bersihkan ada jentik-jentik nyamuk, kata dokternya kami juga gini-gini juga airnya dek. Lalu kubersihkan ku kuras airnya,” jelasnya.

Sementara fasilitas di ruang isolasi tersebut ada kasur dan bantal namun selimut tidak ada. “Saya telepon mamak bawakan saya selimut. Termasuk air panas untuk minum tidak ada,” ulasnya.

BS dinyatakan posirif Covid-19 usai menumpang Kapal Perintis Sabuk Nusantara 68 dari Tuapeijat menuju Sikakap, Sabtu, 29/8/2020) lalu. Ternyata dalam kapal tersebut terdapat penumpang terkonfirmasi positif Covid-19 yang berangkat dari Padang dan turun di Tuapeijat. Selanjutnya kapal berlayar di Sikakap dan setelah diketahui ada penumpang yang sudah turun positif Covid-19, semua penumpang menuju Sikakap dikarantina di kapal sampai menjalani tes swab termasuk BS. Saat tes itulah diketahui BS positif Covid-19.

Kepada Mentawaikita.com BS mengaku saat berangkat dengan kapal Perintis tidak ada flu dan batuk, hanya saja saat perjalanan dia tidak bisa mencium aroma makanan. “Kalau gejala sakit tidak ada, semenjak di kapal tidak bisa mencium aroma makanan, kalau makan ada rasanya, aromanya yang tidak ada. Saat di Tuapeijat itu tidak ada batuk-batuk atau sesak napas, hanya kelelahan karena kerja di usaha galon atau air minum isi ulang, dari pagi sampai 11-12 siang,” tuturnya.

BS mengaku baru tinggal di Tuapeijat sejak 27 Juli 2020 karena ada pekerjaan. Sebelumnya dia tinggal di kampungnya di Manganjo, Desa Saumanganya, Kecamatan Pagai Utara, Mentawai sejak Maret 2020, saat pandemi Covid-19 mulai. Sebelum itu BS kuliah di Padang.

Berikut isi curahan hati BS di laman Facebooknya yang dikutip Mentawaikita.com.

“Saya secara pribadi diajarkan arti sebuah pelayanan, bahwa dimana menjawab semua kebutuhan yang diperlukan...dan menjadi sebuah saluran berkat oleh banyak semua orang, tapi di sisi lain ketika saya diperhadapkan sebuah wabah yang mematikan ini...saya merasa ada yang jangkal (janggal) dalam sebuah kata pelayan...ketika saya dijemput dan dinyatakan...positif oleh pihak yang berwajib dan saya....dibawa di mana tempat yang sudah disediakan buat saya..oleh sang pelayan masyarakat yang memberikan pelayanan 24 jam terhadap pasiennya namun berbeda dengan yang saya rasakan selama masuk di tempat maut ini...hati miris dengan sebuah pelayanan yang tidak layak...ini ketika hari pertama pagi di jemput dengan perut yang kosong dan belum diisi sesendok nasi...saya secara pribadi pun memohon untuk di belikan minuman...karna haus dan saat itu hati prasaan yang lagi kacau balaunya...di tunggu dan ditunggu...tak ada jawaban namun hanya kata sabar...yang di ucap...akirnya datang telpon dari adek...bersama bapak...langsung ditanya kabar dan ditanya apa sudah makan nak, hati legah mendengar akirnya pun dikasih minum 2 aqua botol besar dan makanan...pesanan yang di tunggu dari petugas pun belum ada kabar sampai hari larut malam...tiba malam...mau mandi...melihat kondisi air yang kurang layak...akirnya di batalkan niat madi karna kondisi air, yang kotor dan ada jentik2 nyamuk di dalamnya...akir nya dengan keadaan karna hal ini sudah terbiasa bagi saya saya ambil brus dan saya kerjakan sendiri, lansung saya telpon dr, yg bersangkutan...kamar mandi saya sudah kuras air nya dr...saya butuh air dan mau mandi, tapi jawab sang dokter sabar ya dek petugasnya belum datang...dan akan datang sekitar jam 08:00 oke dr...akir nya diisi dan saya langsung mempersiapkan kebutuhan mandi...setelah mandi saya telpon dr...nya lagi apa saya tidak di kasih makan siang dr...uda jam segini perut saya suda lapar...begitu juga dengan esok harinya hal yang sama saya rasakan... sarapan pagi...di tanya kapan sarapan dr sabar kondisi cuaca hari ini hujan...dek...nanti di kasih ya sabar..akirnya sarapan tiba jam 09:35 saya pikir...kalau kek gini terus setiap kebutuhan selalu di tanya dan di hubungi terus...lebih baiknya karantina di ruma saja dari pada saya tak terlayani dengan layak seperti hal ini...seharusnya atau setidaknya...sudah di sediakan kebutuhan dalam ruangan karna saya kalau keluar pasti tidak boleh...saat butuh air panas tak ada...juga katanya Dr tanya dulu apa boleh di sediakan air panasnya dari...dinas kesehatan...tuapejat,...akirnya orang tua juga yang sediakan air panasnya...di belikan termos yg baru dan diusahakan di cari di warung terdekat....akirnya dapat dan dkkasih oleh pemilik warung tersebut....

Dan secara pribadi saya saat ini saya di bawah di tempat ini untuk apa dirawat, atau diberikan pelayanan...yang biasanya...kalau pun saya positif mana kapsul atau obat penetral corona dalam tubuh...miris hati melihat situasi ini...

Semua kebutuhan harus di sorakin dulu baru di layani....di mana letak...tanggung jawab dan pelayanan nya!!! Bagi saya yang saat ini terinpeksi wabah virus corona yang mematikan ini...????

Menanggapi tulisan BS tersebut, Plt Kepala Puskesmas Sikakap Suratmi menyampaikan permintaan maaf. "Saya sebagai kepala Puskesmas Sikakap minta maaf kepada pasien Covid-19 yang sekarang lagi dirawat di Puskesmas Sikakap, bukan ada maksud kami untuk mentelantarkan pasien, sekarang semua kebutuhan pasien sudah kami lengkapi, mulai dari kebutuhan mandi, seperti sabun, odol, sampai sampo sudah disediakan, termasuk kebutuhan air panas, sarapan pagi dan makan siang dan makan malam, soal makan langsung ditangani oleh ahli gizi puskesmas Sikakap," kata Suratmi, Plt. Kepala Puskesmas Sikakap, Jumat, 4 September.

 

BACA JUGA