Harga Cengkeh Anjlok, Petani Tak Sanggup Bayar Biaya Buruh Petik

Harga Cengkeh Anjlok Petani Tak Sanggup Bayar Biaya Buruh Petik Cengkeh yang sedang dijemur di Dusun Puro, Siberut Selatan, Mentawai. (Foto: Hendrikus/Mentawaikita.com)

MADOBAG-Bagi petani cengkeh di Mentawai terutama Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kepulauan Mentawai, wangi bunga cengkeh di masa panen kali ini tak seharum harganya yang kini jauh turun dari biasanya. Para petani cengkeh sulit membayar buruh petik karena harga jual sangat rendah tak mampu menutup biaya operasional.

Salah seorang petani cengkeh di Madobag,  Antonius (34), mengatakan untuk memanen sebatang pohon cengkeh menghabiskan waktu seminggu dengan jumlah tenaga kerja dua orang. "Dalam satu batang bisa menghasilkan 15 kg cengkeh kering, jadi kebetulan kami tidak mengupah orang namun untuk biaya ramsum kami bisa habis Rp20 ribu-Rp30 ribu per hari,” katanya kepada Mentawaikita.com, Kamis (27/8/2020).

Antonius mengaku tak mengupah orang lain memetik cengkehnya karena dengan harga jual cengkeh kering saat ini, Rp45 ribu per kilogram tidak akan sanggup membayar upah buruh petik. “Karena hasil yang dapat itu akan kami bagi dua misal kalau hasil yang mereka 10 kg dibagi dua maka pemilik cengkeh akan dapat 5 kg, kalau dijual akan mendapat Rp225 ribu, belum lagi biaya mengantar cengkeh ke Muara Siberut," kata Antonius.

“Jadi kalau untuk mengupah orang saya tidak berani sebab harga jual tak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan, lebih baik ambil sendiri dengan keluarga lebih irit biaya, tapi juga dari cengkeh yang kami jual kalau semua keluarga yang mengambil akan kami bagi juga hasilnya, kalau tiga orang akan kami bagi tiga hasilnya, itulah uang yang kami dapatkan karena proses mengolah cengkeh sangat sulit.

"Dari awal saja di batang cengkeh kita harus buat jenjang (tangga), menyiapkan karung dan besi untuk menarik dahan cengkeh lalu baru bisa diambil, sudah selesai ambil cengkeh di rumah masih harus dipetik, setelah itu menyiapkan terpal plastik, untuk menjemur kalau cuaca panas cepat kering namun kalau hujan sangat tidak baik untuk kualitas cengkeh, untuk menjemur saja bisa 3-4 hari barulah kering kalau cuaca bagus," kata Antonius.

Proses memetik bunga cengkeh yang tidak mudah dan butuh waktu serta kesabaran terkadang juga punya tantangan nyawa karena bias seharian berada di atas pohon tinggi. “Namun kami sebagai petani tidak berfikir soal itu, kami tetap memanen cengkeh walaupun harga sedikit yang penting keluarga bisa makan di rumah,” katanya

Saat ini hampir semua petani cengkeh di Madobag dikejar waktu memanen bunga cengkeh yang tengah berbunga sebab jika bunga gugur sebelum dipanen harga cengkeh bias anjlok. “Kalau berbunga kami biarkan saja dibatangnya karena tak laku lagi, sebagian kalau sempat akan kami ambil, kalau yang tidak sempat kami biarkan saja dibatangnya masak dan menjadi bibit nantinya,” katanya.

"Kejadian harga cengkeh turun baru tahun ini, kita tidak tahu apa pengaruhnya, dulu harga cengkeh bisa mencapai Rp100 ribu bahkan lebih dan itu cukup memuaskan namun kali ini sangat tidak sesuai dan rugi, kami kami jual di Mura Siberut tak cukup untuk beli kebutuhan sehari hari dan biaya sekolah anak, dim as Covid-19 ini cari kerja sangat sulit dan aktivitas selalu dibatasi," katanya.

BACA JUGA