Listrik Biomassa Bambu Mentawai yang Kini Redup

Listrik Biomassa Bambu Mentawai yang Kini Redup Plant PLTBm Saliguma di Desa Saliguma, Siberut Tengah, Mentawai. PLTBm ini kini tak beroperasi lagi. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

Tulisan ini bagian kedua dari serial tulisan tentang PLTBm Bambu Mentawai, hasil liputan dua jurnalis Mentawaikita.com, Bambang Sagurung dan Patrisius Sanene 

SIBERUT--Listrik Biomassa Bambu yang menerangi tiga desa di Pulau Siberut sudah hampir tiga bulan ini padam. Perusda Mentawai selaku pengelola tiga plant pembangkit yakni Plant PLTBm Madobag dan Matototonan di Siberut Selatan dan Plant Saliguma di Siberut Tengah tidak memiliki anggaran operasional untuk menghidupkan pembangkit.

Alexandro Tasiriguruk atau Aman Jairo, salah seorang warga Dusun Rogdok Desa Madobag mengaku kembali menggunakan lampu minyak dari kaleng susu saat malam tiba. Untuk menghidupkan tiga lampu minyak itu, Aman Jairo menghabiskan seliter minyak tanah dalam seminggu. Jika dihitung dalam sebulan, Aman Jairo mengeluarkan uang untuk beli minyak tanah Rp24 ribu untuk menerangi rumahnya.

“Kalau listrik token untuk harga Rp20 ribu bisa bertahan 2-3 bulan karena lampunya kadang hidup dan kadang juga mati. Kalau hidup paling hanya sampai jam 12 malam,” katanya kepada MentawaiKita.com, 24 Juli lalu.

Untuk penerangan listrik dari PLTBm bambu, dikatakan Aman Jairo hanya untuk penerangan. Tidak mampu menghidupkan barang elektronik seperti TV. “Tidak tahu kita apa masalahnya. Diawal masuk sepertinya listrik yang masuk ini sangat bagus. Tapi kenyataannya tidak,” katanya.

Anastasia, warga Rogdok lainnya mengaku kecewa. Ia mengatakan pada waktu sosialisasi lampu penerangan dari PLTBm bambu listrik akan hidup 24 jam. “Kenyataannya lebih banyak mati dari pada hidupnya,” katanya.

Hal sama dikatakan Lucia Saruaoinan, ibu rumah tangga di Desa Saliguma. “Tidak hidup. Kita tidak tahu apa masalahnya,” katanya akhir Juli lalu.

Sekretaris Desa Saliguma, Mateus Saboijiat mengatakan saat ini di Saliguma sebagai pusat pemerintahan desa dan sentral Plant PLTBM Bambu Saliguma, masyarakat pada umumnya menggunakan mesin penerangan pribadi. Ada yang menggunakan mesin genset dan ada yang memakai lampu semprong.

“Bagi yang punya panel PLTS mereka lebih santai. Seperti di rumah saya pakai PLTS karena panelnya saya bawa dari kampung di Gotap. Lebih praktis,” katanya.

Koordinator Plant PLTBm Madobag yang berlokasi di Rogdok Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan, Aleksius mengatakan saat ini PLTBm Madobag tidak hidup sejak akhir Mei 2020 berdasarkan instruksi dari pihak Perusda Mentawai selaku pengelola PTBm,

“Anggaran dari Pemda belum cair karena banyak kelilingnya sehingga Perusda mengambil kebijakan untuk tidak beroperasi dengan alasan untuk membayar gaji sekian karyaran dari Saliguma, Rogdok dan Matotonan termasuk biaya operasional untuk BBM dan biaya lainnya,” katanya pada Mentawaikita.com, Jumat, 24 Juli 2020.

Aleksius masih menunggu informasi dari pihak manajemen unit PLTBm untuk tindakan selanjutnya. “Kemaren ada orang Pemda Mentawai datang untuk melakukan pengecekan di lapangan. Kami dampingi dan kami tidak tahu itu dalam rangka apa,” katanya.

Gabriel Tasiriottoi, salah seorang karyawan plant PLTBm Madobag yang mendampingi tim Mentawaikita.com ke lokasi plant mengatakan sejak ada instruksi dari Perusda Mentawai untuk tidak dihidupkan sejak akhir Mei lalu hingga batas yang belum ditentukan, tidak ada aktivitas sama sekali di lapangan.

“Kemaren ini sempat dibuka karena ada kunjungan dari pihak Pemda Mentawai,” katanya.

Dikatakan Gabriel, karena letak rumahnya agak berdekatan dengan sentral plant, dia melakukan kontrol apabila ada aktivitas masyarakat yang masuk ke dalam sentral plant tanpa memiliki izin. Sehari-hari sentral plant PLBm Madobag dalam keadaan tertutup.

“Pintu masuk tertutup. Karena saya dekat dengan sentral maka saya melakukan pengawasan agar jangan sampai ada masyarakat yang masuk untuk merusak atau hal lainnya,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, lingkungan sentral sudah ditumbuhi rumput, sentral terlihat sepi dan tidak ada penjagaan. Sisa bambu dalam bentuk cincang atau cacah sebagai bahan baku untuk menghidupkan PLTBm masih terlihat dalam gudang di luar dari pagar pengaman. Pada bagian gudang tempat pengumpulan bambu yang telah dicincang yang akan siap untuk dimasukkan dalam tempat pembakaran masih tersedia.

“Ini sisa bambu yang kemaren karena tidak bisa digunakan. Ada kendala pada bagian penyaringan gas,” kata Gabriel.

Dikatakan Gabriel, untuk Plant PLTBm Bambu Madobag tidak selalu pakai bambu yang dibeli dari masyarakat. Lebih banyak menggunakan mesin pembangkit yang menggunakan minyak solar. Kendala utama soal ketersediaan kain penyaring gas hasil pembakaran bambu karena persediaan yang tidak ada di lapangan.

Pihak karyawan Plant PLTBm Bambu Madobag sudah berupaya untuk melakukan pencucian kain penyaring gas berulang kali namun karena sudah mulai kaku dan tidak bisa digunakan sehingga mesin tidak bisa dihidupkan.

“Mesin PLTBmnya bagus. Hanya terkendala pada kain penyaring gas yang berfungsi untuk menyaring hasil pembakaran bambu untuk menghidupkan mesin enjin gas untuk dialirkan ke masyarakat,” katanya.

Sejak beroperasi dalam mengalirkan arus di masyarakat, PLTBm bambu belum hidup selama 24 jam. Hidup maksimalnya 6 jam dan itu hanya dua hingga tiga hari. Selebihnya hidup menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar. Mesin diesel solar ini memang tersedia sebagai penggerak awal untuk menggerakkan mesin PLTBm bambu, mulai dari menaikkan bambu pada pengeringan, masuk pada bagian pembakaran dan penyaringan gas hingga hidup mesin gas.

“Kalau hidupnya 24 jam maka mesin diesel tidak dipakai. Namun karena hidupnya hanya dua hingga enam jam dan bahkan mati mendadak maka untuk menghidupkannya memulai dari awal dengan dengan dibantu mesin diesel,” katanya.

Ditambahkan Aleksius,  untuk satu unit mesin penyaring gas memiliki 42 kain penyaring gas. Untuk di plant Madobag terdapat tiga mesin penyaring gas. “Yang kita operasikan dua unit, dimana satu sebagai cadangan. Untuk satu kali pemakaian paling lama kainnya bisa bertahan enam hingga empat belas hari. Tergantung dari kekeringan bambu sebagai bahan baku,” katanya. 

Ketika kain penyaring gas tidak bekerja maksimal untuk menyaring gas mengakibatkan suhu panas pada bagian mesin yang membuat mesin mati mendadak. Untuk memaksimalkan kain penyaring dilakukan pembongkaran dan pencucian kain menggunakan deterjen dengan cara dimasak. Dari pengalaman di lapangan, untuk kain penyaring gas hanya bisa digunakan dua hingga tiga kali pemakaian dengan dua kali pencucian.

“Kalau sudah kaku maka tidak bisa dipakai lagi. Saat ini sudah tidak ada persediaan yang tersedia di lapangan,” katanya.

Baca Juga : Sulitnya Mewujudkan Listrik Energi Bambu di Mentawai

Sementara di Plant PLTBm Bambu Saliguma, Enem Ogok Saroro selaku koordinator mengatakan untuk mesin PLTBm tidak ada masalah di lapangan. Untuk kain penyaring gas tidak ada persediaan namun yang ada didalam mesin masih bisa digunakan.

“Selama ini banyak menggunakan mesin diesel berbahan solar. Kadang-kadang pakai mesin gas juga,” katanya.  

Sudah Bermasalah Sejak Awal

Berbagai persoalan sudah muncul sejak proyek PLTBm dimulai April 2017 hingga saat mulai dioperasikan awal 2019 lalu. Direktur Unit PLTBm Bambu Siberut, Hendrikus Erik mengatakan saat ujicoba PLTBm pertama 2017 dan 2019, kondisi mesin sama yakni mesin hidup saat dihidupkan sendiri, namun saat digabung untuk dialirkan ke masyarakat mesin mati. Namun bagi teknisi asal India  mesin hidup. "Ini perdebatan kita dari awal dengan Bappenas dan Pemda Mentawai,” katanya kepada Mentawaikita.com 23 Juli lalu di Muara Siberut.

Saat serah terima PLTBm dari pihak pemenang proyek kepada Bappenas dan dari Bappenas ke Pemda Mentawai, Erik mengaku telah meminta Pemda Mentawai menolaknya. Alasannya masih ada persoalan teknis di tiga plant PLTBm tersebut. Di PLTBm Madobag misalnya, dari empat mesin, yang normal dua unit, di Matotonan mesin dieselnya tidak sehat karena sesehat apapun mesin gas kalau tidak dihidupkan awal dengan mesin diesel solar maka tidak bermanfaat. Begitu juga dengan di Saliguma. Dari empat unit mesin, yang sehat itu dua, dan dua lagi tidak normal.

‘Sekalipun kenyataannya memang, khusus untuk Madobag, dua mesin, mesin pertama, memang dari zamannya India memang tidak bagus. Bukannya tidak hidup, itu perdebatan kami dengan orang Bappenas, mereka katakan bagus karena memang hidup. Tapi bagi kami karyawan di situ, standar bagi kami bisa dikatakan hidup, bagus itu, menyala dan bisa mengalirkan listrik ke masyarakat, semuanya. Tapi mereka selalu mengatakan, kan sudah hidup, memang hidup tetapi ketika sinkronkan dan alirkan listrik kepada masyarakat, langsung mati. nggak stabil," katanya.

"Bagi kami nggak bagus, makanya, waktu serah terima itu tetap saya ngotot ke Pemda Mentawai kalau bisa jangan diterima, separah-parahnya diterima, terimalah  dua ini, Matotonan jangan. Tapi, Madobag, Saliguma silahkan diterima separah-parahnya, Matotonan jangan karena Matotonan punya masalah yang lebih serius lagi. Bukan biomassanya, bukan gas enginenya, yang bermasalah tapi lebih ke diesel untuk mesin star upnya itu nggak bisa, tentu yang ini tidak bisa pembakaran,” katanya.

Diceritakan Erik, PLTBm Bambu di Siberut yang tersebar di tiga lokasi dibangun atas kerjasama Pemerintah Indonesia dengan pemerintah Amerika Serikat dalam rangka mendukung  kesepakatan pembangunan hijau. Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI) dibentuk untuk menindaklanjuti kesepakatan itu.

Dari dana dan proyek yang ada tersebut, berbagai LSM dan perusahaan mengajukan  proposal. CPI (Charta Putra Indonesia) mengambil proyek ini dengan berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia yang diterjemahkan dalam bentuk listrik bambu, tujuannya bambu ditanam, bambu dijual dapat uang dan masyarakat dapat listrik. 

“Jadi terjemahan proyek yang seperti ini masuk pada MCAI sehingga proyek ini jalan. Kenapa bambu karena menurut penelitian mereka oksigen dari bambu dua kali lipat dari tanaman lain,” tambah Erik menjelaskan.

CPI sebagai pemenang proyek mencari perusahaan yang bisa melaksanakan proposal tersebut di lapangan. Maka dapatlah IKPT (Inti Karya Persada Teknik) sebagai pembangun konstruksi sekaligus mesin. Sementara PT. Ekologika sebagai perusahaan untuk menanam bambu. IKPT mencari perusahaan yang membantu meraka di lapangan seperti MGP (Menara Agung Putih) yang bertanggungjawab soal fisik bangunan dan bersama IKPT merakit mesin. Untuk pemasangan jaringan memakai PT. IJT (Ilham Jaya Teknik) Padang.

Pembangunan mulai dilakukan pada April 2017 oleh IKPT dan didampingi teknisi dari India sebagai tempat pemesanan mesin hingga dilakukan ujicoba mesin. Ujicoba tidak sampai ada mengalirkan arus ke masyarakat. Pada April 2018 teknisi dari India dan IKPT pulang dan aktivitas di tiga plant terhenti sehingga tidak ada aktivitas sama sekali. 

Karena tidak ada kejelasan dan tidak ada yang mengurus di lapangan, terjadi pencurian dan perusakan barang-barang di dalam plant. Pada akhir Juni 2018, Pemda Mentawai mengutus Sat Pol-PP untuk melakukan penjagaan di tiga plant. “Waktu itu belum ada serah terima barang dari pihak pemenang tender kepada Bappenas dan dari Bappenas ke Pemda Mentawai,” kata Erik.

Saat belum ada serahterima, pemangku kepentingan saling lempar syarat agar serah terima dapat dilakukan. Untuk Pemda Mentawai syarat yang harus dipenuhi pihak Bappenas dan pemenang proyek yaitu adanya pelatihan bagi karyawan di lapangan yang akan mengelola PLTBm Bambu.

Pada September 2018, Hendrikus Erik bersama tiga orang lainnya diminta Bappenas kembali menindaklanjuti kegiatan di lapangan. Pada bulan yang sama, unit PLTBm Siberut yang berada di tiga plant digabungkan dalam kelola Perusda Mentawai.

“Kami yang dipanggil oleh Bappenas ini ditugaskan berkeliling untuk mengajak kembali masyarakat untuk mengumpulkan kayu dan bambu sebagai bahan baku PLTBm. Tantangannya di lapangan jelas. Ada asak baga,” katanya.

Pada Desember 2018, IKPT selaku kontraktor bangunan mesin datang ke tiga plant untuk memanaskan mesin. Banyak alat yang tidak berfungsi karena lama ditinggal dan dibiarkan. Pada Januari 2019 ada perekrutan karyawan di tiga plant masing-masing 10-11 orang. 

Sebulan kemudian, ada orang India selaku tempat pembelian mesin datang lagi untuk melihat dan melakukan pengecekan mesin dan ternyata ada banyak kerusakan. Pada saat itu di plant PLTBm Saliguma, dari empat mesin yang ada, dua hidup normal dan dua tidak sehingga dilakukan pembongkaran.

Di Plant Madobag kondisi juga sama, dari empat mesin, hanya dua yang menyala, dua lainnya rusak. “Saat dihidupkan masing-masing, mesinnya hidup. Namun ketika digabungkan untuk dialirkan ke masyarakat, mesin mati,” katanya.

Sementara di Matotonan, dikatakan Erik semua mesin hidup. Baik mesin diesel berbahan bakar solar maupun dua unit mesin berbahan bakar bambu. Sehingga karyawan di Saliguma dan Madobag dibawa ke Matotonan untuk diberi pelatihan. Selama pelatihan, orang India mentransfer ilmu pada pihak IKPT Jakarta dan IKPT Jakarta melanjutkan ilmunya pada teknisi lokal.

“Karena ada kendala bahasa dan waktu yang singkat maka orang India melatih pihak IKPT Jakarta dan IKPT Jakarta melatih orang lokal,” kata Erik.

Sepanjang 2019, Plant Saliguma beroperasi menggunakan bahan bakar solar dan mesin gas berbahan baku kayu. Sementara di Plant Madobag di Rogdok, PLTBm hidup menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar dan mesin gas berbahan bakar bambu. 

Dipakainya mesin diesel berbahan bakar solar saat ada pembersihan alat mesin gas, misalnya saat pencucian kain penyaring gas, pembongkaran pipa jalur gas yang mengendap yang membuat mesin gas berjalan tidak normal.

“Kita sudah melakukan pemesanan kain penyaring gas di Medan dan Bandung namun tidak ada yang cocok. Semua terbakar saat pemakaian. Kalau yang asli bawaan dari India kainnya tidak terbakar,” katanya.

Hal ini dibenarkan Koordinator plant PLTBm Madobag, Aleksius. Tidak ada kain penyaring gas yang tersedia, sementara pelayanan tetap dilakukan ke masyarakat. “Saat ada pembersihan atau perbaikan kita menghidupkan mesin diesel,” katanya.

PLTBm Madobag beroperasi sejak awal 2019. Rata-rata pembangkit menyala enam jam sehari, mulai pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB. Dalam sehari, menghabiskan 560 kg bambu kering cincang. Ini dalam kondisi stabil. Namun karena sering mati-hidup dan proses pembakaran selalu dimulai dari awal maka membutuhkan 1,6 ton bambu  kering untuk beroperasi dalam jangka hidup 6 jam.

Sedangkan di PLTBm Saliguma, untuk hidup selama enam jam menghabiskan 150 kg kayu kering cincang. Dan untuk hidup selalu digunakan secara bergantian antara mesin gas dan mesin diesel.

Kondisi saat ini di lapangan, ketiga plant tak lagi beroperasi sejak akhir Juni lalu atas perintah Perusda Mentawai dengan alasan anggaran belum cair. Sementara secara teknis, berdasarkan keterangan koordinator masing-masing plant, untuk Saliguma tiga mesin gas dalam kondisi sehat dan satu tidak. Sedangkan di Madobag, dua mesin sehat dan dua mesin lagi tidak. Sedangkan di Matotonan, berdasarkan informasi yang diterima Mentawaikita.com, PLTBm sudah lama tidak hidup. Tidak jelas kerusakannya apakah pada mesin diesel atau mesin gas.

Untuk mengoperasikan kembali PLTBM Siberut, Hendrikus Erik meminta keseriusan Pemda Mentawai bersama Perusda Mentawai dan Bappenas. Misalnya soal ketersediaan kain penyaring gas hasil pembakaran, persediaan sparepart dan perlu adanya alat automatisasi.

“Karena fakta di lapangan untuk hidup enam jam saja karyawan dibuat lembur untuk mengontrol alat. Mulai dari memasukkan bambu atau kayu, mengecek suhu dan tegangan mesin dan mengambil arang sisa pembakaran,” katanya.

Selain itu, dikatakan Erik mesti ada alat atau tabung penyimpan gas dari hasil pembakaran agar kerusakan mesin dapat terjaga. Yang terjadi selama ini hasil pembakaran kayu atau bambu dalam bentuk gas langsung masuk ke dalam mesin gas sebagai bahan bakar. Saat mesin dimatikan pada jam 12 malam sisa gas yang ada didalam pipa menjadi penghambat karena sudah menjadi sampah. Saat dihidupkan akan menjadi penghambat dan membuat mesin cepat panas dan mati mendadak.

“Lain halnya kalau ada tabung penyimpan gas sebelum dialirkan ke mesin dan hidupnya mesin PLTBm 24 jam maka biaya produksi akan murah dan kerusakan di lapangan dapat diminimalisir,” katanya.

Erik juga menyayangkan, kunjungan Pemda Mentawai pada Mei dan Juli ke tiga plant tidak memberi solusi. “Mestinya pada kunjungan Mei persoalan anggaran itu tidak ada. Ini karena tidak keluarnya anggaran membuat Perusda memerintahkan pemadaman yang sudah berlangsung dua bulan,” katanya.

Belum Siap Mengelola

Naslindo Sirait, Kepala Bappeda Mentawai menjelaskan berhentinya PLTBm beroperasi karena ada proses subsidi yang disepakati Pemda dan DPRD pada 2019 sebelum penetapan APBD 2020, untuk keperluan operasional PLTBm. 

“Disubsidi karena pembangkit ini belum bisa diserap pada angka 70 atau 80 persen serapan baru 15-18 persen padahal biaya yang dikeluarkan harus 100 persen, menghasilkan listrik 15 persen itu harus keluarkan 100 persen yang dikeluarkan karena dia energi, subsidi belum sampai ke Perusda ada sekira Rp3 miliar lebih dan masih proses audit,” kata Naslindo kepada Mentawaikita.com beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan sebetulnya pada saat PLTBm diserahkan kepada Pemda Mentawai dari Bappenas masih tanggung jawab Bappenas. 

“Artinya ada beberapa bagian mesin yang tidak berfungsi secara optimal dan ini masih tanggung jawabnya Bappenas karena kondisi Covid-19 terjadi pengurangan anggaran mereka dan tidak bisa melakukan perbaikan itu, tapi karena ini sudah jadi barang kita mau tidak mau kita harus pikirkan supaya optimal selain skema subsidi untuk operasional gaji dan BBM untuk perbaikan skala besar lalu perbaikan kecil, jadi memang kita Pemda sifatnya menerima barang bukan kita yang merencanakan, ini juga kendala spare partnya kita order di India, targetnya bagaimana hidup dulu,” kata Naslindo beberapa waktu lalu di Tuapeijat.

Sementara Elisa Siriparang, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Kepulauan Mentawai menjelaskan bahwa pada posisinya Dinas Koperindag dalam hal keterkaitannya dengan PLTBm di tiga desa di Pulau Siberut ditunjuk Bupati sebagai pengelola aset tersebut yang telah dihibahkan oleh Bappenas dimana alat tersebut merupakan proyek kerja sama pemerintah pusat dengan India.

Sebagai OPD yang menjadi leading sector. “Kami hanya memverifikasi proposal operasional anggaran untuk PLTBm oleh Perusda, setelah kami verifikasi selanjutnya Inspektorat melakukan audit atau reviu, termasuk gaji karyawan semua yang diusulkan Perusda, setelah direviu, kemudian kita masukan nota pencairan dinas ke Bupati setelah itu itu lah itu yang diproses bagian keuangan kemudian dilakukan dikirim ke rekening Perusda, yang jelas saya tidak tahu masalah listrik ini sebetulnya,” katanya kepada MentawaiKita.

Elisa menjelaskan surat penunjukan dari Bupati itu belum bentuk Perbup, dan masih ditunjuk oleh Bupati belum Perbup. “Karena kalau perbub ada hak dan kewajiban, sedang disusun sekarang untuk dikelola oleh Perusda, penunjukan itu belum kuat dan PLTbm itu diserahkan lagi pengelolaannya kepada Bupati, karena apa? tidak kuat, kalau perbup pasal-dengan pasal” kata Elisa.

Elisa mengatakan dari segi kesiapan pihaknya belum siap mengelola alat yang dinilai baru di Mentawai bahkan PLTBMini baru ada satu-satunya di Asia itu ada di Mentawai. “Kalau segi kesiapan tidak siap alasannya Pemda pertama tidak boleh mengelola PLTbm harus dikelola Perusda, yang kita khawatirkan Perusda itu sanggup nggak mengelola itu, kita tidak ada pemikiran menghidupkan lampu itu adalah solar, nggak ada, menghidupkan PLTbm itu bahan bakunya itu bambu bukan solar,” jelas Elisa.

Untuk menghidupkan PLTB mini selama 2-3 jam kata Elisa diperlukan 20 liter solar untuk menghidupkan pembangkit. “Di tengah jalan alat ini ‘sakit’ (rusak) apa yang kita harapkan itu tidak terkabulkan, lalu setelah dicek di lapangan nampak kelemahannya, kalau di Saliguma oke, kalau Madobag dan Matotonan mesin dieselnya hidup hanya untuk lampu masyarakat untuk menghidupkan biomassa tidak bisa karena ada alatnya rusak, kalau di Rogdog mesin pembangkit 2 rusak, sekarang ini satu terbakar, kalau tidak diurus dengan baik akan menjadi besi tua,” katanya.

Dijelaskan Elisa mesin diesel yang katanya diperuntukkan untuk memancing menghidupkan mesin pembangkit PLTBm ternyata juga bisa digunakan untuk menyalurkan daya kepada masyarakat. “Kalau diesel ini bisa untuk penerangan masyarakat, itu yang kita subsidi sekarang solar untuk menghidupkan diesel pembangkit, kata Pak Bupati kalau seperti itu kita siapkan subsidi 2, kalau sudah bagus PLTBm baru bahan baku yang kita pakai, kalau selama ini tidak bagus diesel yang kita pakai untuk natal dan tahun baru, kalau solar anggarannya mahal,” jelas Elisa.

Catatan: Beberapa bagian dari tulisan ini telah dikoreksi dan diperbaiki oleh Redaksi sesuai permintaan narasumber


BACA JUGA