Sulitnya Mewujudkan Listrik Energi Bambu di Mentawai

Sulitnya Mewujudkan Listrik Energi Bambu di Mentawai Tanaman bambu milik warga di Dusun Rogdok Desa Madobag, Siberut Selatan, Mentawai. Bambu ini akan menjadi bahan baku PLTBm. (Foto: Bambang/Mentawaikita.com)

Tulisan ini bagian pertama dari serial tulisan tentang PLTBm Bambu Mentawai, hasil liputan dua jurnalis Mentawaikita.com, Bambang Sagurung dan Patrisius Sanene

SIBERUT-Hujan terus mengguyur sejak pagi, Rabu, 22 Juli 2020. Di sebuah pondok ladang yang beratap daun sagu (tobat), Valeria Salakkopak  (55), warga Dusun Rogdok Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai terlihat sibuk menganyam atap tobat. Karena hujan, aktivitasnya untuk membersihkan ladang dan memanen terkendala.

“Tak bisa membersihkan ladang karena dari pagi sudah hujan,” katanya saat disambangi di dalam pondoknya yang tak memiliki dinding.

Di dalam pondok dari arah jalan lintas Puro-Rogdok terdapat puluhan rumpun bambu yang tertata rapi. Tiap rumpun berisi lima hingga 10 batang bambu. Ukurannya bervariasi, ada yang berukuran galah hingga yang ukuran besar sebesar lingkar pergelangan tangan orang dewasa. “Itu bambu biomassa, sebagian sudah ada yang saya tebang karena mengganggu tanaman lain, katanya sambil menunjuk ke arah depan pondok.

Bibit pohon bambu milik Valeria berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Plant Madobag.  Pembangkit ini mulai dibangun di Dusun Rogdok Desa Madobag sejak 2017. Bambu-bambu tersebut menjadi sumber bahan bakar energi yang dihasilkan pembangkit.

Di Mentawai, PLTBm ini memiliki tiga plant. Selain di Madobag, juga ada pembangkit di Matotonan, dan di Saliguma, Siberut Tengah. Megaproyek ini diklaim sebagai yang pertama berbahan bakar bambu di Asia Pasifik dengan biaya dana hibah 12,4 juta USD.

Proyek PLTBm Bambu Siberut mulai diluncurkan Maret 2017 dan selesai pertengahan 2018 namun baru diuji coba akhir 2018 dan beroperasi awal 2019. Proyek dikerjakan kontraktor pelaksana PT. Clean Power Indonesia (CPI) yang menggandeng PT Inti Karya Persada Teknik (IKPT) sebagai kontraktor dan PT. Indopower International untuk konsultan penyusun UKL/UPL serta Ekologika sebagai konsultan feedstock, pembibitan dan penanaman bambu.

Teknologi biomassa bambu ini didopsi dari India yang dianggap sudah maju soal biomassa bambu. Kapasitas pembangkit plant Saliguma, 250 Kilo Watt (KW), Plant Madobag 303 KW, dan Plant Matotonan 350 KW. Masing-masing rumah akan mendapat listrik kapasitas 450 VA. Untuk wilayah Desa Saliguma ada sekitar 388 Kepala Keluarga (KK) yang menikmati listrik biomassa bambu, sedangkan di Desa Madobag 468 KK, dan di Desa Matotonan 256 KK.

Karena butuh bambu untuk bahan bakar, proyek ini memberikan bibit bambu kepada masyarakat di sekitar lokasi plant. Untuk setiap 100 rumpun bambu yang dihasilkan setiap kepala keluarga diberikan uang Rp200 ribu, dimana Rp100 ribu untuk biaya persemaian dan Rp100 ribu biaya penanaman.

“Kami tanam di ladang masing-masing diantara sela-sela tanaman yang sudah ada. Tidak di tempat yang khusus,” kata Valeria.

Namun setelah 2,5 tahun ditanam, bambu-bambu pertumbuhannya sangat lambat menganggu tanaman lain di ladang terutama tanaman komersil yang menghasilkan.  “Sama saya sudah ada yang saya tebang karena mengganggu pinang, pisang dan tanaman lainnya. Hasil bambunya juga tidak jelas sampai sekarang, katanya.

Hal yang sama dikatakan Alexandro Tasiriguruk atau yang lebih dikenal dengan panggilan Aman Jairo, salah seorang sikerei di Rogdok. Tanaman bambu yang pernah ditanaminya hingga saat ini belum ada yang bisa dipanen untuk dijual pada pihak pengelola PLTBm. Selain ukurannya yang masih kecil juga mulai tidak terurus. Dia kemudian menebangnya. “Karena kami menanamnya di lahan masing-masing, sementara di sana sudah ada tanaman lainnya,” katanya.

Apa yang dilihat dan dirasakan masyarakat di Rogdok, juga dirasakan masyarakat di Dusun Saliguma Desa Saliguma Kecamatan Siberut Tengah. Di dusun tempat sentral pembangunan PLTBm Bambu Plant Saliguma, warga melihat pertumbuhan bambu dari bibit yang dibagikan sebelumnya belum ada apa-apanya. “Untuk bambu yang ditanami di lahan terbuka tanpa ada tanaman lain ukurannya sudah ada sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Untuk yang ditanam disela-sela tanaman lain sekarang masih kecil dan bahkan ada yang mati,” kata Rupiella Salimu (38), salah seorang ibu rumah tangga di Saliguma pada Jumat, 24 Juli 2020.

Lucia Saruaoinan (40), tetangga Rupiella membenarkan apa yang disampaikan Lucia. Bibit bambu yang ditanam di ladang mereka pada 2017 lalu yang nantinya akan dipanen untuk dijual masyarakat kepada pihak PLTBm hingga pertengahan 2020 belum dapat dipanen. “Masih kecil. Bahkan ada yang mati karena tidak terurus. Terutama yang ditanami di sela tanaman lainnya, katanya.

Hendrikus Erik, Direktur Unit PLTBm Matotonan, Rogdok dan Saliguma mengatakan, ada sekira 152 ribu rumpun bambu didistribusikan kepada warga tiga desa tersebut untuk ditanam. Distribusi bibit bambu dilakukan perusahaan Ekologika. “Ekologika hanya berperan sebagai pendistribusi bibit bambu kepada masyarakat,” katanya.

“Bagi masyarakat yang merawat tentunya bambu yang ditanam pasti tumbuh dan sudah besar. Namun bagi masyarakat yang hanya sekedar untuk mendapatkan uang penyemaian dan penanaman tentunya tidak tumbuh. Bahkan masih ada (bibit) di belakang rumah mereka,” katanya pada Mentawaikita.com, Sabtu, 25 Juli 2020 di rumahnya.

Meski bambu yang ditanam sejak 2017 baru berusia 2,5 tahun, Erik meyakini pasokan bambu untuk wilayah plant Matotonan dan Rogdok mencukupi bila PLTBm di dua wilayah itu beroperasi. “Melihat ketersediaan bambu di Matotonan dan Rogdok masih memungkinkan. Apalagi Perusda sudah beli lahan 10 hektar lahan di Matotonan dan Madobag untuk bahan cadangan ditanami bambu,” katanya.

Perusda tersebut adalah perusahaan umum daerah milik Pemkab Mentawai yang diserahi tanggung jawab mengelola ketiga PLTBM tersebut.

Menurut Erik, sejak awal proyek, tidak ada yang menangani soal ketersediaan bambu dalam bentuk skala besar karena pihak MCAI (AS) selaku pemberi hibah melarang pembukaan lahan skala besar hanya untuk menanam bambu yang baru bisa dipanen setelah berusia 4 tahun. Tiap keluarga hanya diizinkan mengambil dua batang tiap rumpun bambu untuk sekali panen atau per bulan. Jika ada 100 rumpun yang sudah dibagikan tiap keluarga maka tiap bulan akan bisa memanen 200 batang bambu.

Bila berat satu batang bambu kering hanya diambil 32 kg maka untuk 200 batang akan  menghasilkan 6.400 kg per keluarga dikalikan Rp700 kg harga beli maka satu keluarga bisa menghasilkan 4,4 juta tiap bulan,” kata Erik.

Namun menurut Aman Jairo sebaliknya. Harga beli bambu oleh plant yang hanya Rp700 tiap kilogram tak sebanding dengan waktu dan tenaga menanam, memelihara hingga mencacah bambu menjadi potongan kecil. Setiap hari, Aman Jairo mengambil bambu yang ada diladangnya 2-5 batang. Setelah dicincang dan dijemur hasilnya dalam seminggu hanya 34 kg atau dikonversikan ke uang hanya menghasilkan Rp23.800.

“Kerjanya berat. Apalagi sekarang mengambil bambu tidak boleh diambil diladang atau lahan orang. Sementara ladang saya cukup jauh,” katanya.

Berbeda dengan Matotonan dan Rogdok, Plant Saliguma tidak menggunakan bambu untuk menghidupkan mesin. Sejak mulai diuji coba hingga operasional pertengahan 2017 lalu, PLTBm Saliguma menggunakan cacahan kayu yang dibeli dari masyarakat. Kayu-kayu tersebut diambil warga dari kayu tebangan sisa pembukaan ladang.

Menurut Erik, awalnya PLTBM Saliguma membeli kayu dalam bentuk gelondongan dengan ukuran maksimal diameter 20 cm dengan harga Rp300 per kilogram. Namun jika kayu cincang atau potongan kecil dibeli Rp700.

“Kalau mereka kasih dalam bentuk gelondongan ukuran diameternya masih bisa kita kontrol, namun kalau mereka antar dalam bentuk cincang itu tidak bisa kita kontrol lagi. Dalam dokumen proyek untuk empat tahun pertama mamakai kayu menunggu bambu bisa dipanen,” tambahnya.

Dalam dokumen tersebut juga disebutkan, kayu yang diizinkan itu adalah kayu residu yaitu sampah kayu yang tidak digunakan lagi. Selain itu juga  diizinkan kayu-kayu sisa pembukaan ladang.

Namun tidak mudah bagi warga mengumpulkan kayu. Menurut Lucia Saruaoinan, warga Saliguma mengaku harus pergi jauh ke ladangnya mengambil kayu lalu membawanya ke lokasi plant. Jaraknya sekira 5 km. “Awalnya kami kasih dalam bentuk gelondongan. Kerjanya berat, selain jauh juga mengangkatnya susah,” katanya.

Namun kemudian pihak Plant PLTBm Saliguma tidak menerima lagi kayu dalam bentuk gelondongan, namun dalam bentuk kayu cincang. Dan untuk pencincangan kayu ukuran lebar 3 cm dan panjang 5 cm menguras waktu, tenaga dan biaya. “Kami tidak mau ambil lagi. Mau ambil bambu jaraknya jauh harus pakai sampan karena ada di seberang sungai” katanya.

Rupiaella Salimu, ibu rumah tangga lainnya mengatakan ia bersama suaminya pernah mengambil kayu dalam bentuk gelondongan hingga mencapai 3 ton dengan waktu kerja dua bulan. Kerjanya berat dan memakan biaya terutama biaya untuk membeli bensin sinso. “Apalagi sekarang yang diterima dalam bentuk cincang. Biayanya akan lebih mahal, waktu banyak terpakai dan makan tenaga. Lebih baik kami kerja yang lain,” katanya.

Enem Ogok Saroro, Koordinator Plant PLTBm Saliguma mengatakan plant selama ini hanya memakai bahan baku kayu dan solar.“Memang sulit mencari bambu karena jauh. Untuk kayu sekarang masyarakat sudah tidak mau ambil lagi,” katanya.

Untuk dua lokasi plant yang dipantau Mentawaikita.com di lapangan, di Plant PLTBm Madobag yang ada di Rogdok masih ada persediaan bambu dalam gudang. Menurut Alexius, Koordinator Plant Madobag, stok yang ada tinggal 20 ton. Sementara di plant PLTBm Bambu kayu yang tersedia tinggal 15-25 ton.

Namun kini kayu dan bambu di tiga plant tersebut dibiarkan saja tersimpan di gudang sejak PLTBM tak lagi beroperasi 30 Mei 2020. Menurut Erik, Perusda selaku pengelola memerintahkan penghentian operasional dengan alasan kekurangan biaya.

BACA JUGA