Tinungglu, Lumbung Pangan Masyarakat Mentawai

Tinungglu Lumbung Pangan Masyarakat Mentawai Clara Olean, warga Sikabaluan, Siberut Utara sedang menanam ubi di kebunnya di Tamairang, Sikabaluan, Siberut Utara, Mentawai. (Foto: Patrisius Sanene/Mentawaikita.com)

SIBERUT—Di saat krisis pangan terjadi saat pandemi Coronavirus 2019 atau Covid-19 melanda penduduk dunia, masyarakat Mentawai justru mampu bertahan menghadapi krisis berkat tinungglu, yakni kebun campur yang berisikan berbagai tanaman termasuk bahan pangan.

Tinungglu ini sudah menjadi lumbung pangan masyarakat Mentawai sejak dulu. Pada akhir Juli lalu, jurnalis Mentawaikita.com berkesempatan melihat langsung praktik tinungglu masyarakat di Pulau Siberut , mulai dari Siberut Selatan hingga Siberut Utara, untuk melihat dampak pandemi Covid-19 terhadap ketahanan pangan masyarakat Mentawai.

Perjalanan diawali di hulu Siberut Selatan yakni Dusun Rogdok Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan. Sebagian besar warga yang bermukim di sepanjang Sungai Rereiket itu, mulai Rogdok hingga Matotonan masih mempraktikkan pola tanam tinunggu. Begitu juga warga yang bermukim di Desa Saliguma, Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah hingga warga Desa Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara.

Kami pertama kali mengunjungi Alexandro Tasiguruk atau Aman Jairo tinggal di Dusun Rogdok, 23 Juli lalu. Usianya mungkin sudah lebih 60 tahun. Dia mengaku tak tahu tahun lahirnya, hal yang lazim terjadi pada orang tua di Mentawai.  Dia juga seorang sikerei atau tabib.

Kepada Mentawaikita.com, Aman Jairo mengaku tak terlalu khawatir akan kekurangan makanan saat ini meskipun sedang terjadi krisis ekonomi dan pemerintah melakukan pembatasan aktivitas masyarakat. Dia memiliki tinungglu yang berisi pisang, keladi, ubi, pinang, tanaman obat dan juga sagu.

Karena memiliki sumber pangan sendiri, Aman Jairo dan keluarganya tak terlalu khawatir jika tak dapat bantuan pemerintah. “Karena makanan yang kami cari selalu tersedia dari kebun kami, dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah juga kami terima, tidak ada pengaruhnya, ada atau tidak bantuan kami bisa dapatkan bahan makanan kami dari hasil kebun yang sudah ada sejak lama dan terus ada setiap saat,” kata Aman Jairo.

Aman Jairo mengaku keluarganya tak pernah kelaparan. Yang dikhatirkannya hanya jika dirinya atau anggo keluarganya sakit sehingga tak bisa mengurus lading atau terjadi banjir. “Saat banjir, tanaman bisa rusak dan mati, tentu tidak ada yang bisa kami makan,” katanya.

Dia juga tak terlalu bergantung pada beras karena punya sagu. Sekali mengolah sagu yang butuh waktu seminggu, biasanya cukup memenuhi kebutuhan satu hingga dua bulan. Sagu itu diolah menjadi tepung dan dimasak menjadi kapurut (dibungkus daun sagu) atau dibakar dalam tabung bambu. Sagu dimakan bersama ikan atau udang.

Hasil panen tinungglunya tak melulu untuk dimakan sendiri. Kalau panen sedang banyak, pisang, keladi dan ubi dijual. Hasilnya digunakan untuk membeli ikan atau lauk. Namun jika hasil lading sedang sedikit, ikan dan udang didapat dari sungai. “Tinggal paliggagra,” katanya.

Paligaggra  ini biasa dilakukan perempuan yakni menangkap udang atau ikan di sungai  menggunakan tangguk khas Mentawai.

Untuk membeli kebutuhan lain seperti gula, kopi, teh atau membiayai satu anaknya yang kini sedang SMA di Muara Siberut, Aman Jairo biasanya mendapatkan dari menjual pinang kering. 

Selain memiliki tinungglu, banyak masyarakat yang juga memanfaatkan pekarangannya yang luas menanam tanaman pangan. Seperti Rupiella Sali, warga Desa Saliguma Kecamatan 

“Bahan makanan selalu tersedia di ladang, bahkan kami juga menanam pisang, ubi dan keladi di dekat rumah” kata Rupiella Salimu kepada Mentawaikita.com, 25 Juli.

Karena menanam tanaman pangan, Rupiella mengaku hanya sesekali membeli beras dan kebutuhan lain. “Kami saja yang kurang ulet, kadang hasil panen itu justru mubazir, karena itu hasil panen juga kami jual, namun kami harus jauh menjualnya ke Muara Siberut,” kata Lucia Sarua Oinan yang juga warga Saliguma, menyambung pembicaraan bersama Rupiella.

Rupiella mengatakan tinungglu bagi masyarakat Mentawai sudah ada sejak dulu, rata-rata masyarakat Mentawai pasti memiliki tinungglu, selama pandemi Covid-19, warga Saliguma tetap melaksanakan kegiatan seperti biasanya seperti berladang, juga kegiatan lain seperti memancing ikan yang biasa dilakukan bagi suami untuk kebutuhan lauk di rumah.

Jika warga di bagian hulu mencari ikan dan udang untuk memenuhi kebutuhan proteinnya, warga Dusun Sua Desa Saliguma Kecamatan Siberut Tengah yang berada di pesisir biasanya ke laut. 

“Kami ada saatnya ke ladang, juga bisa pergi memancing ke laut, hasilnya juga bisa kami jual dan bisa beli kebutuhan di rumah, beli gula, kopi, dan kebutuhan lain dalam keluarga,” Sapri Sageileppak, warga Dusun Sua, 25 Juli lalu.

Memiliki tinungglu sudah menjadi tradisi bercocok tanam warga Mentawai. Menurut Kepala Dusun Sibudda Oinan Desa Saibi Samukop Kecamatan Siberut Tengah, Linus Sanene,  umumnya masyarakat yang ada di daerah tidak ada yang tidak punya tinungglu karena umumnya memiliki lahan luas. “Kalau tidak punya tinungglu biasanya punya kesan pemalas,” katanya.

Memiliki sumber pangan sendiri juga membuat warga Mentawai yang memiliki tinungglu tak terlalu bergantung pada bantuan pemerintah tiap kali terjadi bencana.

“Hampir tidak ada kita dengar warga kelaparan, jika perlu makan tinggal pergi ke ladang,” kata Linus yang memiliki hampir 2 hektar, di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman, seperti cengkeh, durian, rambutan, keladi, ubi, pisang  dan pinang.

Meskipun tak punya tanah, orang Mentawai tetap bisa berladang dan memiliki tinungglu. Menurut Salim Sirilotik, warga Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, kebiasaan berladang sudah diwariskan sejak nenek moyang. 

“Di Mentawai tidak ada orang yang tidak bisa berladang, meskipun tidak berada di tanahnya dia berladang, kalau di Mentawai itu kan berladang di ladang orang itu hal biasa, begitu sebaliknya tentu dengan dia minta izin setiap suku itu tidak mungkin tidak punya tanah, jadi tidak ada istilah tidak bisa menanam” kata Salim yang juga seorang guru Budaya Mentawai di sekolah di Sikabaluan.

Dijelaskan Salim, biasanya  dalam satu keluarga, dari itu pangan selalu tersedia. ”Laki-laki di Mentawai itu harus punya ladang, ternak babi, bertanggung jawab besar, punya tinungglu, punya ladang sagu, sekarang apa yang kita makan pasti menikmati tanaman nenek moyang, karena mereka memang sejak dulu sudah memotivasi kita untuk memiliki ladang untuk keberlanjutan atau ketersediaan pangan,” katanya.

Tinungglu sudah sejak dari dulu. “Dulu orang tua saya kalau ke ladang pasti selalu mengajak, karena dengan maksud untuk ikut menanam, tujuannya apa yang ditanam misalnya kelapa, durian, cengkeh bukan kita yang nikmati tetapi anak dan cucu,” jelas Salim.

“Kalau dulu ketika mau meminang dulu harus siap ada ladang, karena ladang dan segala isinya adalah harta yang juga bisa menjamin keberlanjutan kehidupan, harta bagi orang Mentawai,” kata Salim.


BACA JUGA