Koalisi Mengutuk Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Koalisi Mengutuk Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Aksi solidaritas terhadap almarhuma Keysa korban kekerasan seksual. (Foto: Patris/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT-Kasus kekerasan perempuan dan anak kian marak terjadi, kasus kekerasan melibatkan anak hingga pada kekerasan seksual oleh pelaku umumnya orang dewasa. Mentawai kini sedang heboh banyaknya tindakan kekerasan yang melibatkan anak sebagai korban.

Masih hangat berita terkait Keysa Lurianti (14) seorang anak yang mendapat perlakukan kekerasan seksual dari seorang pria dewasa yang adalah mantan pendeta, karena depresi atas kasus kekerasan seksual yang dialaminya dia nekat mengakhiri hidupnya dengan minum racun.

Anak harusnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang justru mendapatkan perlakukan kekerasan dari predator anak. Kasus ini kemudian mengundang banyak kepedulian dan kutukan dari berbagai pihak yakni dari organisasi atau perkumpulan dan masyarakat di Kabuapaten Kepulauan Mentawai.

Hari ini berbagai organisasi yang tergabung dalam ‘Koalisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Kabupaten Kepulauan Mentawai’ melaksanakan aksi solidaritas untuk Keysa Lurianti di Tugu Sikerei, di Kilometer 9, Sipora Utara, aksi ini sebagai bentuk kepedulian atas apa yang telah dialami Keysa Lurianti serta aksi mengutuk pelaku dan menghentikan kekerasan seksual yang melibatkan perempuan dan anak di Mentawai.

Dengan aksi menghidupkan lilin dan memanjatkan doa bersama dipimpin tokoh agama yang hadir bersama seluruh organisasi dan masyarakat yang hadir, menyampaikan pernyatan sikap serta pembubuhan tanda tangan sebagai bukti dukungan solidaritas melawan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak. 

Koalisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Kabupaten Kepulauan Mentawai melalui pernyataan sikap bersama menyampaikan keprihatinan atas kasus yang dialami Keysa Lurianti dan berharap peristiwa tersebut tidak terulang lagi. 

Koalisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Kabupaten Kepulauan Mentawai meminta kepolisian yang menangani perkara ini dalam hal ini Polres Kepulauan Mentawai harus mengusut tuntas kasus Keysa Lurianti termasuk kasus kekerasan seksual yang lain yang sedang ditangani.

Meminta pihak kepolisian mengusut atau menelusuri pihak panti asuhan yang menaungi korban selama di Padang untuk menyelidiki sejak kapan korban mengalami perlakukan tindakan pemerkosaan, juga sebagai upaya menertibkan dan mengawasi legalitas lembaga atau panti yang menampung anak-anak.

Memastikan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mendapat perhatian khusus kepada korban dan keluarga korban sehingga hak korban terutama perlindungan terhadap korban dapat terpenuhi, dan mendesak Pemda Mentawai menyediakan ‘Rumah Aman’ atau rumah singgah dan psikolog yang akan mendampingi korban sampai pulih dari trauma. Juga meminta DPRD Mentawai mengalokasikan anggaran selama proses hukum untuk transportasi, akomodasi dan pendampingan hukum pada korban.

Meminta peningkatan peran dan pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) tingkat kabupaten, kecamatan hingga tingkat desa dengan memberikan dukungan pendanaan operasional dan peningkatan kapasitas agar dapat secara maksimal melakukan pelayananan dan pemberdayaan.

Meminta segera digagas dan diterbitkannya regulasi sesuai dengan undang-undang pembentukan produk hukum daerah guna mendukung terwujudnya Kabupaten Kepulauan Mentawai yang ramah anak. Lalu mereka meminta seluruh tokoh masyarakat Mentawai untuk peduli dan terlibat aktif dalam advokasi kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak serta terbuka dalam memberikan informasi dan melaporkan kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya.

Dalam akhir pernyataannya semua lembaga kelompok, organisasi yang tergabung dalam ‘Koalisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Kabupaten Kepulauan Mentawai’ bekomitmen untuk terus mengaawal penanganan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Nikanor Saguruk salah seorang koordinator aksi solidaritas menjelasakan munculkan organisasi dan aksi solidaritas tersebut sebagai bentuk keprihatinan atas banyaknya kasus kekerasan pada perempuan dan anak. “Aksi ini adalah bentuk solidaritas dan keprihatinan kita pada korban kasus kekerasan pada perempuan dan anak, kita meminta pihak kepolisian tidak ragu-ragu dalam menuntaskan kasus kekerasan pada perempuan dan anak yang saat ini ditangani, siapa pun yang menjadi korban dan bukti yang jelas harus melaksanakan tugas sebagai penegak hukum, dan kalau ada kasus yang mandek dan belum ada tersangka kita akan dorong supaya itu diusut tuntas,” kata Nikanor dalam kesempatan usai gelar aksi solidaritas.

Pihak kepolisian yang hadir dalam aksi solidaritas ini yakni Wakil Kepala Polres Kepulauan Mentawai menjelaskan sudah membentuk tim khusus dalam penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak dan kasus yang sedang ditangani saat ini akan segera dilimpahkan kepada kejaksaan sebelum pertengahan Juli 2020 mendatang atau sebelum habis masa tahanan pelaku kasus KL.

“Kita berharap nantinya hakim memutus hukuman maksimal sesuai harapan kita bersama, ancaman hukumannya sampai 15 tahun, yakinlah kepolisian tidak akan main-main mengusut pelaku kekerasan yang melibatkan anak,” kata Kompol Maman Rosadi, Wakapolres Mentawai usai aksi solidaridas.

Organisasi yang tergabung dalam ‘Koalisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Kabupaten Kepulauan Mentawai’ yakni  Yayasan Kasih Abadi Untuk Mentawai (KAUM), Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM), Jaringan Pendampingan Kebijakan dan Pembangunan (JKPP), Pemuda Pancasila, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Persatuan Intelegensia Katolik Indonesia (PIKI), Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kemudian Rinto Wardana LAW Firm, LBH Republik Keadilan, Persekutuan Mahasiswa Pagai Utara Selatan (Permapus), Muda Mudi Anak Rantau Batak (M2-ARBAT), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Daerah Kepulauan Mentawai, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Mentawai, Persekutuan  Perempuan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Perempuan AMAN) Mentawai, Jaringan Peduli Perempuan Sumatera Barat, Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI), Paguyuban Perantau Jawa Barat Kepulauan Mentawai, Pemuda Katolik Mentawai, Orang Muda Katolik Mentawai dan Rukun Antara Keluarga Indonesia Timur (Rakit). 



BACA JUGA