Polisi : Tersangka Pemerkosaan Anak di Mentawai Bisa Dijatuhi Hukuman Maksimal 15 Tahun Penjara

Polisi  Tersangka Pemerkosaan Anak di Mentawai Bisa Dijatuhi Hukuman Maksimal 15 Tahun Penjara Iptu Irmon, Kasat Reskrim Polres Kepulauan Mentawai. (Foto: Patris/Mentawaikita.com)

TUAPEIJAT-Pihak Polres Kepulauan Mentawai yang menangani kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur, KL(14) yang nekat minum racun karena depresi dan telah meninggal dunia akan tetap menjerat pelaku dengan hukuman paling berat dari pasal yang disangkakan kepada tersangka.

Sebelumnya Iptu Irmon, Kasat Reskrim Polres Kepulauan Mentawai menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya korban kepada pihak keluarga. Dia menjelaskan meski korban sudah meninggal, tidak akan mempengaruhi proses hukum ketika disidangkan di pengadilan.

"Kalau untuk keterangan korban yang saat ini sudah meninggal dunia sudah lengkap dan akan dibacakan di pengadilan oleh jaksa penuntut, rencananya sebelum habis masa penahanan tersangka berkas acara sudah dilimpahkan di kejaksaan," kata Iptu Irmon pada Selasa, (30/6/2020).

Terkait dengan proses peradilan juga, kata Iptu Irmon, tidak akan mempengaruhi hukuman kepada tersangka bahwa asumsinya karena korban tidak bisa dihadirkan dalam proses persidangan. 

"Karena keterangan sudah dipenuhi, dan tidak mempengaruhi hukuman untuk pelaku, komunikasi kita dengan Pak Kapolres dan pihak penegak hukum yang akan menangani  perkara ini, bahwa terhadap tersangka harus dijatuhi hukuman paling berat, hukuman maksimalnya pidana penjara 15 tahun," kata Irmon.

Kasus kekerasan seksual lainnya, yakni dugaan  pencabulan yang dilakukan seorang ustad sekaligus pengurus pesantren di Tuapeijat Mentawai terhadap santrinya, terhadap kasus tersebut surat perintah dilakukan penyidikan (SPDP) sudah dikeluarkan. "Saksi-saksi sudah kita periksa dan sedang melengkapi berkas perkara dalam minggu ini akan dilimpahkan ke kejaksaan," kata Iptu Irmon.

Kemudian tekait kasus pornografi oleh seorang kepala desa di Siberut Utara kini sedang proses pemeriksaan alat bukti berupa video yang menjadi objek perkara.

"Petunjuk jaksa karena video sebagai objek perkara atau barang bukti telah dihapus tersangka dan akan dibuka kembali link video yang telah dihapus tersangka oleh tim laboratorium forensik medan akan tiba besok ke Mentawai karena unsur pasal mempertontonkan video, dimana videonya telah dihapus pelaku,". 

Diberitakan sebelumnya, KL (14) merupakan korban perkosaan yang dilakukan RP 946), mantan pendeta di Sipora Utara, Kepulauan Mentawai sejak Januari lalu. Setelah kasus terungkap Mei lalu, tersangka dinyatakan tersangka dan ditahan di Mapolres Mentawai.

Namun korban yang diduga depresi meminum racun 10 Juni lalu dan setelah mendapat perawatan medis di RSUD Mentawai, meninggal 28 Juni.


BACA JUGA