Kembali Merawat Ladang di Saat Pandemi Covid-19

Kembali Merawat Ladang di Saat Pandemi Covid19 Seorang warga Siberut sedang membersihkan ladangnya. (Foto: Rus/Mentawaikita.com)

MENTAWAI—Pembatasan sosial di saat pandemi Covid-19 telah mengubah banyak aktivitas masyarakat. Di Mentawai, kembali fokus mengolah ladang menjadi pilihan banyak warga dimana saat situasi normal, mereka lebih banyak menjadi pekerja di proyek fisik pemerintah atau bekerja di luar Mentawai.

Bekerja di ladang selain untuk menghindari keramaian dan bosan di rumah juga ingin lebih merawat ladang yang mungkin selama ini kurang perhatian. 

Misalnya Kornelius (45), petani yang tinggal di Dusun Puro Desa Muara Siberut Kecamatan SIberut Selatan, Mentawai. Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan pemerintah, dia dan anggota keluarga lebih banyak menghabiskan waktu di ladang, bersih-bersih dan merawat tanaman.

"Sejak adanya virus corona (Covid-19), anak anak sekolah belajar di rumah, namun untuk belajar di rumah tak bisa dilaksanakan (tidak full) maka kami semua satu keluarga berangkat ke ladang untuk memanen maupun merambah," kata Kornelius kepada Mentawaikitacom beberapa waktu lalu.

Di awal Covid-19 merebak, Kornelius dan keluarga hanya di rumah saja, namun lama-lama mereka dilanda kebosanan dan memutuskan kembali beraktivitas di ladang. “Sumber kehidupan kami ada di ladang maka kami memilih kembali mengurus ladang dan tanaman,” katanya.

Menurut Kornelius, beraktivitas di ladang selama pandemic berlangsung salah satu cara aman karena jauh dari akses keramaian dan terbatas berjumpa banyak orang. “Kita juga mengeluarkan lebih banyak keringat dan berjemur matahari sehingga lebih sehat,” katanya.

Meskipun sebelum pandemic, Kornelius memang sehari-hari bekerja di ladangnya, namun selama PSBB, pekerjaan merawat ladang bisa lebih intensif karena anak-anaknya bisa membantu. “Anak-anak tidak ke sekolah jadi mereka bisa ikut ke ladang membantu,” katanya.

Diakui Kornelius, ekonomi yang lesu selama pandemi Covid-19 ikut berpengaruh kepada penjualan komiditi pertanian masyarakat seperti harga jual turun karena turunnya permintaan pasar. Namun setidaknya warga Mentawai yang berladang tak akan kekurangan pangan karena sebagian lahan biasanya ditanam tanaman pangan seperti keladi, pisang dan sagu.

Kornelius saat ini mengolah sekira 1 hektar lahan yang ditanami pinang, kelapa, durian dan pisang. “Biasanya ladang di Mentawai memang ditanam berbagai tanaman, ada yang untuk dimakan sendiri ataupun yang bisa dijual,” katanya.

Hal sama juga dilakukan Lister Saogo (56), warga Desa Matobe Kecamatan Sikakap yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di ladang. Dengan membawa bekal makan siang, setiap pagi Lister berjalan kaki ke ladangnya yang berjarak 1 km dari rumah.

"Setelah masak nasi dan sambal (lauk) saya langsung bersiap-siap untuk pergi ke ladang, sekali-kali pisang dan keladi sebagai makan siang untuk dibawa ke ladang, pergi ke ladang bisasanya pukul 08.30 WIB dengan berjalan kaki bersama beberapa teman-teman," kata Lister Saogo,  9 Juni lalu.

Di ladangnya seluas 1 hektar, Lister bertanam cengkeh, pinang, jengkol dan pisang. “Setiap hari kecuali hari Minggu saya ke ladang, saya hanya ke Pasar Sikakap kalau kebutuhan pokok sudah habis,” katanya.

Hal senada juga dilakukan oleh Tarsan Sababalat (64), warga Dusun Takmonga, Desa Matobe. Saat ini dia lebih banyak waktu membersihkan ladang, menyisip tanaman seperti pinang, cengkeh, dan jengkol.

“Pisang saja sekarang sudah ada sekitar 1.000 batang, dari hasil panen pinang dalam satu bulan sekitar 300 kg, harga pinang sekarang sekitar Rp9.000 per kg,” katanya.

Tarsan saat ini mengolah lima amparan lahan seluas total 3 hektar yang ditanami berbagai komoditi. Ada pisang, keladi, jengkol, petai, pinang, dan coklat. "Anak saya lima orang dan cucu sekarang delapan orang, tanaman yang saya tanam sekarang untuk anak cucu nanti bila saya sudah tiada," katanya.

Tinungglu, Kearifan Lokal Suku Mentawai

Berladang campuran atau dalam bahasa Mentawai disebut tinungglu sudah menjadi kearifan lokal suku Mentawai sejak dahulu kala. Ladang biasanya ditanami berbagai tanaman, biasanya tanaman pangan, tanaman komersial atau yang hasilnya bisa dijual, tanaman obat dan kayu untuk dijadikan bahan rumah atau membuat perahu.

Dalam khazanah pertanian di Mentawai, selain tinungglu ada juga istilah pumonean atau mone. Jika tinungglu biasa merujuk kepada ladang yang masih baru dibuka dan didominasi tanaman muda sementara mone merujuk pada ladang yang sudah lama dan didominasi tanaman tua.

Karena itu bagi orang Mentawai yang memiliki tinungglu, mereka tidak akan kekurangan pangan serta memiliki ketergantungan yang rendah terhadap pangan impor. Sebab saat kondisi ekonomi sulit terutama saat pandemi Covid-19, pangan lokal bisa diatasi dengan mengkonsumsi keladi dan pisang yang ada di ladang, atau mengolah sagu yang ada. 

Sementara untuk memenuhi kebutuhan protein, selain berburu di hutan, orang Mentawai juga biasa menangkap ikan atau udang tawar sungai atau laut. Dalam budaya Mentawai, disebut paligragra atau panangkla. Atau mengumpulkan kerang koddiai (mukoddiai), maupun kepiting saat musimnya tiba. Maupun mengkonsumsi ulat sagu ataupun tumung (cacing pohon).


BACA JUGA