Tertahan di Padang Usai Istri Melahirkan, Vincensius Minta Dipulangkan ke Mentawai

Tertahan di Padang Usai Istri Melahirkan Vincensius Minta Dipulangkan ke Mentawai Ilustrasi pixabay.com

SIKABALUAN-Vincensius Sabebegen, salah seorang warga Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara Kepulauan Mentawai mulai kesulitan bertahan hidup di Kota Padang bersama istri dan anaknya yang baru berusia tiga bulan.

Ia sudah berada di Padang selama lima bulan, sejak sebelum istrinya melahirkan karena kehamilannya bermasalah dan harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Padang.  Istrinya terpaksa melahirkan prematur sehingga harus menjalani perawatan. Kini, saat kondisi istri dan anaknya pulih, Vincensius sekeluarga tak bisa pulang.

"Saya mulai putus asa untuk mencari jalan keluar. Semua saran yang diberikan dan kita cari tidak ada hasil," katanya pada Mentawaikita.com, Rabu (20/5/2020).

Lebihlanjut dikatakan Vincensius, mereka tak bisa pulang usai istrinya melahirkan lantaran adanya aturan larangan kapal membawa penumpang dari Padang ke Mentawai sejak 29 Maret 2020 akibat dampak Covid-19.

"Mulai rujukan untuk melahirkan hingga sekarang kami tertahan. Tidak ada lagi yang harus dilakukan demi membuat kami bisa pulang", katanya.

Dikatakan ayah tiga anak, dari beberapa saran orang yang ditanya untuk mengurus kepulangan mereka dari Padang menuju kampung halaman, seperti menghubungi Satgas (satuan tugas) Covid-19 Kecamatan Siberut Utara, menghubungi gugus tugas Covid-19 Mentawai hingga ke kantor perwakilan Mentawai di Padang yang terletak di Azizi sudah dilakukan.

"Tidak ada hasil. Sementara biaya hidup kami sudah tidak ada lagi," katanya.

Untuk tempat tinggal selama di Padang, Vincensius sudah terbantu dengan adanya kerelaan kepala SMAN 1 Siberut Utara untuk menumpangkan mereka di rumah kontrakannya di Padang.

"Sementara biaya makan, minum dan keperluan lainnya selama di Padang ini yang membuat kami sulit," katanya.

Untuk bertahan hidup di Padang, Vincensius banyak dibantu saudara atau keluarga yang ada di Sikabaluan untuk mengirimkan bahan makan lokal melalui KMP. Gambolo setiap hari Selasa, seperti keladi, pisang, buah-buahan hingga beras.

Terakhir, Vincensius dibantu keluarga Mentawai lainnya yang ada di Padang untuk mencoba mencari kepastian informasi terkait syarat agar bisa diizinkan pulang ke Mentawai bersama keluarga. Salah satu diantaranya yaitu harus mendapatkan surat keterangan bebas Covid-19.

Mereka mencoba mengurusnya di salah satu rumah sakit di Padang, dan terkendala biaya karena untuk mendapatkan surat keterangan bebas Covid-19 dengan di rapid test biayanya Rp395 ribu per orang. Maka butuh biaya Rp1.185.000 untuk tiga orang.

"Untuk biaya itu yang tidak ada. Sedangkan untuk biaya sehari-hari saja sudah sulit apalagi biaya untuk membayar surat bebas Covid-19," katanya.

Vincensius berharap adanya solusi dari pihak pemerintah desa, satgas dan gugus tugas covid-19 Mentawai akan nasib mereka agar bisa pulang ke Sikabaluan untuk kembali berkumpul bersama kedua anaknya di Sikabaluan yang selama ini dijaga oleh saudaranya.

"Kami minta dibantu untuk bisa pulang," katanya.

BACA JUGA