Keteladanan Guru di Mentawai Saat Pandemi Covid-19

Agustinus Aris

Agustinus Aris ( Alumnus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta )

Keteladanan Guru di Mentawai Saat Pandemi Covid19 Foto: Dokumentasi Mentawaikita.com

“Pendidikan adalah tindakan pendidik itu sendiri,” Prof. Driyarkara, SJ.

 

Adagium yang mengatakan bahwa untuk mengubah suatu bangsa secara sistematis dalam jangka panjang entah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya lebih buruk ubahlah dahulu jagat pendidikannya. Di tengah wabah pandemik Covid 19 (seharusnya) guru dapat memanfaatkan teknologi dalam merancang pembelajaran jarak jauh. 

 

Profesionalisme guru saat ini sedang diuji. Wabah menggiring semua aktivitas dilakukan di rumah tidak terkecuali kegiatan belajar pun dilaksanakan rumah. Guru dituntut menyiasati penyampaian materi agar anak didik terlayani meskipun tanpa harus bersemuka di kelas.

 

Profesionalisme guru tidak cukup hanya diukur dari sertifikasi administratif. Lebih dari pada itu, guru adalah sosok yang mendidik dan mengarahkan, melatih, mengajar, serta mengevaluasi siswa hingga mampu bertindak secara mandiri dan berahklak mulia.

 

Sosok guru yang dimaksudkan adalah sosok guru yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga guru yang humanis, inovatif dan transformatif yang secara terus menerus belajar mengembangkan diri secara utuh melalui beragam pengalaman dalam teori dan praktik pembelajaran.

 

Kehadiran teknologi (semestinya) membantu guru dalam melayani para muridnya untuk belajar di rumah. Guru kreatif akan terus menerus mencari dan mengusahakan yang terbaik agar materi pelajaran dapat dipahami oleh muridnya. Google Class Room, Aplikasi Zoom dan aplikasi lainnya yang memudahkan kegiatan belajar jarak jauh kiranya dapat dimanfaatkan oleh guru.

 

Lantas bagaimana dengan kondisi di daerah yang tidak ada jaringan internet? TK Santa Theresia Sikabaluan misalnya. Para guru berkeliling untuk memberikan materi pelajaran supaya anak-anak tetap belajar di rumah.

 

Salah seorang guru di Siberut Selatan dengan tekun mendatangi murid-muridnya di rumah satu persatu. Ia dengan telaten menjelaskan materi pelajaran kepada muridnya agar tetap terlayani meskipun di tengah wabah yang tidak memungkinkan persekolahan dilaksanakan dengan bersemuka di kelas.

 

Guru-guru di pedalaman tidak kalah kreatif. Mereka jauh dari jangkauan teknologi dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar. Mereka yang mendidik dengan hati akan mengupayakan berbagai cara untuk meramu materi pelajaran. Mereka patut dijadikan sebagai guru teladan di dalam masyarakat.

 

Mereka merupakan sosok yang memiliki peran yang sangat penting dan mulia di tengah masyarakat. Peran guru yang dipandang mulia oleh masyarakat juga tercermin dari akronim kata “guru” dalam bahasa Jawa kata guru adalah digugu lan ditiru. “Digugu” berarti hal-hal yang dikatakannya layak dipercayai oleh orang lain, dan “ditiru” berarti hal-hal yang dilakukan layak dijadikan teladan.

Tutur dan tindakan yang tercermin dalam setiap perilakunya merupakan hal yang patut diteladani, untuk itulah ia disebut sebagai guru profesional.

 

Kalimat pembuka Driyarkara di atas menunjukan bahwa pendidikan mengandung juga keteladanan guru, dalam tingkah laku, bertutur, cara berpakaian, dan cara berpikir. Lewat pengajaran, dan juga lewat sikapnya, dapat mengajarkan yang baik dan tidak baik. Maka tidak salah jika beberapa guru diidolakan oleh siswanya sendiri.

 

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru, sebab jika ia salah mendidik muridnya atau dalam berperilaku maka muridnya pun akan mengimitasi apa yang dilihat, didengar dan dirasakan sendiri dari gurunya.

 

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, dimana semua proses kegiatan belajar dan mengajar dilakukan dengan manual. Beda zaman beda pula proses yang dilewati. Menautkannya dengan konteks era digital menjadi “Guru Selfie Berdiri, Murid Selfie Berlari” hal ini menyingkap kedekatan masyarakat di tengah gempuran teknologi. Transformasi seperti apa yang diharapkan di dalam masyarakat di masa mendatang ditentukan apa dan bagaimana bentuk pendidikan saat ini.

 

Guru memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi anak-anak didik. Ya tidak menutup kemungkinan bahwa guru memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan di Mentawai ini dan bangsa ini secara umum. Guru bertanggung jawab dalam pembentukan ahklak anak di sekolah. Sementara di rumah merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak-anaknya.

 

Guru yang baik menuntun anak-anak didiknya untuk menjadi pribadi yang santun, mandiri dan berakhlak mulia. Guru hebat adalah guru yang menginspirasi anak-anaknya. Guru harus mampu mengimbangi perkembangan zaman agar tidak ketinggalan informasi dari pada anak-anak. Anak zaman generasi digital sudah barang tentu banyak menyerap informasi di dunia maya.

 

Menyadari  peran penting guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di Mentawai ini, maka guru harus berani keluar dari zona nyaman. Berani bertanya jika tidak tahu, belajar memanfaatkan tekologi. Tidak dipungkiri bahwa di zaman digital ini proses belajar dan mengajar juga harus menyesuaikan perkembangan dunia serba digital. Boleh jadi anak-anak tidak lagi tertarik dengan cara belajar dengan metode ceramah.

 

Setiap 2 Mei, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan hari lahir Bapak Pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara. Sosok yang lahir pada 02 Mei 1889 menjadi Menteri Pengajaran pertama yang dimiliki Indonesia pasca kemerdekaan. Keputusan menjadikan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional ini dituangkan dalam surat keputusan Presiden; Surat Keputusan Presien RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.

 

Semangat pendidikan yang digelorakan oleh beliau patut kita contoh, terlebih bagi para pemerhati dan yang berkecimpung di dunia pendidikan. “Lawan Sastra Ngesti Mulya: Dengan Ilmu Kita Menuju Kemuliaan”.

 

Dalam upaya memerangi pandemik ini, tetaplah mengupayakan pendidikan yang tidak hanya mengasah kecerdasan intelektul tetapi mengasa hati setiap anak didik. Pendidikan yang mengupayakan proses pemuliaan manusia yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru menjadi pribadi yang cerdas dan humanis.

 

 

 

 

BACA JUGA